“Harapannya kita bisa ikut berkontribusi bersama dengan pemerintah, lintas organisasi, lembaga terutama yang konsennya juga berhadap perempuan” Naomi Asmuruf (Ketua Terpilih DPW Perempuan Bangsa Papua Barat Daya)
Sorong, Detikpapua.Net – Musyawarah Wilayah (Muswil) Perempuan Bangsa Provinsi Papua Barat Daya telah berlangsung, menetapkan kepengurusan baru untuk masa bakti lima tahun ke depan. Perempuan Bangsa sendiri merupakan Badan Otonom Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang berfokus pada pemberdayaan dan penguatan peran perempuan.
Muswil yang menjadi agenda rutin lima tahunan ini dihadiri langsung oleh Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Perempuan Bangsa Dr. Hj. Nihayatul Wafiroh, MA beserta rombongan, serta diikuti oleh perwakilan Dewan Pimpinan Cabang (DPC) dari 5 kabupaten dan 1 kota se-Provinsi Papua Barat Daya, serta unsur pengurus DPW sebelumnya.

Dalam proses penetapan ini, susunan kepengurusan ditetapkan langsung oleh DPP Perempuan Bangsa melalui tahapan seleksi dan penilaian terhadap kinerja serta keaktifan para kader selama periode sebelumnya. Dalam Muswil tersebut, Naomi Asmuruf resmi terpilih untuk memegang amanah sebagai Ketua DPW Perempuan Bangsa Papua Barat Daya periode 5 tahun kedepan. Penetapan Kader Perempuan Bangsa ini sekaligus mengukuhkan konsistensi organisasi dalam jalur pengkaderan berjenjang.
Visi dan Langkah Awal Pengurus Baru
Menjelang pelantikan serentak seluruh Indonesia yang dijadwalkan pada 22 Juli mendatang, pengurus baru akan memulai langkah kerja dengan konsolidasi internal, penyempurnaan struktur organisasi, dan pelaporan administrasi ke pusat.
“Karena Papua Barat Daya adalah provinsi baru, kami menyesuaikan struktur yang semula 11 bidang di tingkat nasional menjadi 5 bidang utama yang lebih relevan dengan kebutuhan daerah,” ujar ketua terpilih Naomi Asmuruf saat diwawancarai awak media usai kegiatan.
Fokus utama pengurus lima tahun ke depan meliputi:
- Mendorong terwujudnya afirmasi politik minimal 30 persen keterwakilan perempuan pada tahun 2029;
- Membangun kolaborasi dengan pemerintah daerah, lembaga, dan organisasi lain yang peduli isu perempuan;
- Melakukan konsolidasi hingga ke tingkat distrik untuk mengisi struktur organisasi secara merata.
“Hal-hal tentang pemberdayaan perempuan, partisipasi perempuan di dalam politik itu menjadi tujuan utama kami. Bagaimana visi dari Perempuan Bangsa ikut membesarkan partai tetapi mendorong partisipasi perempuan dalam dunia politik dan juga pembangunan. Nah karena kita ada di provinsi baru, Provinsi Papua Barat Daya tentu ada banyak hal yang bisa kemudian kita lakukan, harapannya kita bisa ikut berkontribusi bersama dengan pemerintah, lintas organisasi, lembaga terutama yang konsennya juga berhadap perempuan,” papar Naomi.
Alasan Memilih PKB dan Semangat Inklusivitas
Terpilihnya Naomi sebagai kader non muslim bergabung dan memimpin Perempuan Bangsa di bawah naungan PKB bukan tanpa alasan. Meski dikenal memiliki basis kuat Nahdlatul Ulama (NU), PKB dinilai sangat inklusif dan terbuka merangkul semua kalangan, termasuk anak-anak Papua.
“Kami merasakan suasana kekeluargaan dan keterbukaan yang luar biasa. Dukungan dari pimpinan partai di daerah juga sangat besar bagi kami untuk berkembang,” jelasnya.
Ia juga menyoroti keterikatan emosional mendalam dengan sosok pendiri PKB, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur yang dinilainya memiliki warna tersendiri dalam benak anak-anak Papua.
“Beliau adalah tokoh yang berani mengakui identitas Papua disaat menyebut nama Papua saja masih dianggap hal yang berat. Pandangan Gus Dur yang memandang kami sebagai anak bangsa yang setara, menjadi alasan kuat kami memilih berada di sini,” tambahnya.
Potensi Besar Perempuan untuk Kemajuan PKB di Papua Barat Daya
Saat ini PKB baru memiliki satu kursi di tingkat provinsi, namun hal itu justru menjadi peluang besar untuk berkembang. Naomi mengaku memiliki intuisi yang cukup besar, kelak dukungan kaum perempuan mampu memberikan daya dongkrak dalam membesarkan PKB di Papua Barat Daya.
Baginya, potensi tersebut sangat besar sebagaimana statistik pemilih perempuan hampir setara dengan laki-laki, hanya saja butuh wadah yang bisa mengorganisasi potensi ini, dan Perempuan Bangsa diyakini mampu memainkan peran sentral pada bagian tersebut.
“Statistik pemilih perempuan hampir setara dengan laki-laki, namun potensi ini belum terorganisir dengan baik. Perempuan hanya butuh wadah dan kesempatan, kami yakin bisa menjadi tulang punggung kemajuan PKB di sini,” tegasnya.
Prioritas: Perlindungan Perempuan dan Anak
Di samping isu politik, Perempuan Bangsa juga menyoroti maraknya kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Papua Barat Daya. Bersama Kepolisian, khususnya Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA), pihaknya berencana mendorong pembangunan Rumah Aman.
Perempuan Bangsa berharap langkah ini tidak hanya memperkuat posisi perempuan di panggung politik, tapi juga memberikan perlindungan nyata bagi seluruh warga Papua Barat Daya.













