FAKFAK, DetikPapuaNet— Perayaan syukur 132 tahun masuknya misi Katolik di Tanah Papua di Pulau Bonyom (Bonum), Kabupaten Fakfak, bukan hanya menjadi perayaan iman bagi umat Katolik, tetapi juga menjadi momentum refleksi bagi para pemimpin di Tanah Papua untuk kembali meneguhkan keberpihakan pada rakyat, Sabtu (23/5/2026).

Dalam homilinya, Uskup Keuskupan Timika, Bernardus Bofitwos Baru, menyampaikan pesan tegas kepada seluruh pemimpin pemerintahan di Papua agar berani berdiri di pihak kebenaran, keadilan, serta menjaga martabat manusia dan tanah Papua.
Mgr. Bernardus menegaskan bahwa semangat misi yang diwariskan para rasul dan para misionaris tidak hanya hidup di altar Gereja, tetapi juga harus nyata dalam pelayanan sosial, keberpihakan kepada rakyat, dan keberanian moral dalam mengambil keputusan.
Menurutnya, setiap pemimpin—baik di pemerintahan, legislatif, maupun lembaga-lembaga publik—adalah bagian dari misi kemanusiaan yang dipanggil untuk menghadirkan nilai Injil dalam kehidupan masyarakat.
“Kita semua diutus. Termasuk mereka yang ada di pemerintahan, di legislatif, di eksekutif, di lembaga adat, dan semua yang diberi tanggung jawab atas rakyat. Jangan takut berbicara benar. Jangan takut memperjuangkan keadilan,” tegasnya di hadapan ribuan umat.
Dalam pesannya, ia mengingatkan bahwa jabatan bukan sekadar kekuasaan administratif, tetapi panggilan pelayanan untuk melindungi manusia, menjaga kehidupan bersama, serta memastikan hak-hak masyarakat tetap dihormati.
Ia juga menyinggung pentingnya keberanian para pemimpin Papua dalam menyuarakan persoalan kemanusiaan, ketidakadilan sosial, perampasan hak hidup masyarakat, hingga kerusakan lingkungan yang terjadi di Tanah Papua.
“Jangan diam ketika rakyat menderita. Jangan diam ketika tanah dirusak. Jangan diam ketika martabat manusia diinjak. Pemimpin harus hadir bersama rakyat, menyuarakan kebenaran, dan memperjuangkan keadilan,” pesannya.
Mgr. Bernardus menegaskan bahwa perayaan 132 tahun misi Katolik di Tanah Papua bukan sekadar mengenang kedatangan para misionaris, tetapi panggilan untuk melanjutkan semangat perjuangan mereka dalam konteks Papua hari ini.
Menurutnya, Pastor Cornelis Le Cocq dan para misionaris terdahulu datang ke Papua dengan semangat pengorbanan dan keberanian. Semangat itu, kata dia, perlu diteruskan oleh seluruh generasi sekarang, termasuk para pejabat publik dan pemimpin daerah.
Ia mengajak pemerintah di Tanah Papua agar tidak kehilangan keberanian moral dalam mengambil sikap demi kepentingan rakyat, terutama dalam menjaga tanah, hutan, budaya, dan masa depan orang asli Papua.
“Menjadi pemimpin berarti berani melayani. Berani membela yang lemah. Berani menjaga yang diwariskan Tuhan kepada tanah ini. Papua bukan hanya wilayah pembangunan, Papua adalah rumah hidup yang harus dijaga bersama,” ujarnya.
Menutup homilinya, Uskup Bernardus mengajak seluruh umat dan para pemimpin di Papua untuk melanjutkan semangat para misionaris dengan hati yang berani, jujur, dan berpihak pada kemanusiaan.
Momentum 132 tahun misi Katolik di Tanah Papua, menurutnya, harus menjadi pengingat bersama bahwa iman tidak berhenti dalam doa dan perayaan, tetapi harus hadir nyata dalam tindakan, keberpihakan, dan pelayanan kepada manusia serta seluruh ciptaan di Tanah Papua.













