JAYAPURA, DetikPapuaNet—Sebuah surat terbuka yang ditujukan kepada Pastor Roy Sugianto, Pr., beredar luas di kalangan umat Katolik Papua. Surat tersebut ditulis oleh Stendlhy Dambujai, yang mengatasnamakan umat Katolik Keuskupan Agung Merauke serta Suara Kaum Awam Katolik Regio Papua, sebagai respons atas pernyataan Pastor Roy sebelumnya terkait kritik terhadap Soleman Itlay dan aksi mingguan umat. Selasa (14/4/2026).

Dalam suratnya, penulis menyampaikan kritik keras terhadap sikap Pastor Roy yang dinilai tidak mencerminkan kepekaan pastoral terhadap penderitaan umat di tanah Papua, khususnya di wilayah Merauke.
“Narasi yang Anda bangun di publik tidak mendidik dan tidak menunjukkan sebagai imam yang menyejukkan hati umat, tetapi justru ikut melukai dan menambah luka,” tulis Stendlhy dalam surat tersebut.
Ia menilai narasi Pastor Roy cenderung teoritis dan tidak berpijak pada realitas umat yang sedang menghadapi tekanan sosial akibat kebijakan pembangunan, termasuk proyek strategis nasional (PSN).
“Anda bicara teori setinggi langit, tetapi pengalaman pastoralnya sangat nol besar. Anda berpikir dari awan-awan tanpa menginjak penderitaan kami di bumi,” tegasnya.
Penulis juga menyinggung keterlibatan Mgr. Petrus Canisius Mandagi, yang dianggap telah melukai umat melalui dukungan terhadap PSN di Merauke.

“Uskup Mandagi telah melukai kami dengan dukungan terhadap PSN Merauke, tetapi Anda membuat kami semakin terluka,” lanjutnya.
Lebih jauh, surat tersebut mempertanyakan posisi Pastor Roy yang dinilai belum memiliki pengalaman pastoral yang cukup di Keuskupan Agung Merauke, namun telah berbicara seolah memahami sepenuhnya realitas umat.
“Kaki Anda masih basah. Pengalaman pastoral Anda di sini nyaris tidak ada, tetapi Anda berbicara seolah paling tahu,” tulisnya.
Selain itu, penulis mengkritik apa yang disebut sebagai “kesombongan intelektual”, di mana seorang imam dianggap lebih mengedepankan teori dan dogma dibandingkan empati terhadap umat.
“Anda disekolahkan dari keringat umat, tetapi setelah kembali justru berdiri berseberangan dengan umat yang menderita,” katanya.
Dalam bagian penutup, penulis menyerukan agar Pastor Roy kembali pada panggilan dasar imamat untuk melayani umat kecil dan tertindas.

“Kami tidak butuh imam yang arogan. Kami hanya butuh gembala yang mau merendahkan diri dan berpihak pada umat yang menderita,” tutupnya.
Surat terbuka ini mencerminkan meningkatnya ketegangan antara sebagian umat Katolik di Papua dengan otoritas gereja dalam merespons isu-isu sosial dan pembangunan. Hingga saat ini, belum ada tanggapan resmi dari pihak Keuskupan Agung Merauke Uskup Mgr. Petrus Canisius Mandagai, MSC., terkait isi surat tersebut.












