Example floating
BeritaDaerahPapua SelatanSosial & Budaya

Akademisi Tanggapi Klarifikasi Pastor Roy: Dinilai Monopoli Narasi dan Reduksi Konflik Papua

61
×

Akademisi Tanggapi Klarifikasi Pastor Roy: Dinilai Monopoli Narasi dan Reduksi Konflik Papua

Sebarkan artikel ini

YOGYAKARTA, DetikPapuaNet— Dosen Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma, Prof. Dr. Yoseph Yapi Taum, M.Hum., pada Kamis (09/04/2026) menyampaikan tanggapan kritis atas surat “Klarifikasi Pastoral dan Rasionalitas Publik” yang ditulis Pastor Roy Sugianto, Pr., sebagai respons terhadap surat terbuka Soleman Itlay kepada Uskup Agung Merauke, Petrus Canisius Mandagi.

Tulisan Yoseph menilai bahwa surat Pastor Roy Sugianto, Pr., bukan sekadar klarifikasi, melainkan bagian dari praktik wacana kuasa yang berupaya mempertahankan legitimasi institusi Gereja sekaligus melemahkan kritik yang berkembang di ruang publik.

Tanggapan disampaikan oleh Prof. Dr. Yoseph Yapi Taum, M.Hum. sebagai akademisi, ditujukan kepada Pastor Roy Sugianto, serta berkaitan dengan polemik antara Soleman Itlay dan Petrus Canisius Mandagi.

Pernyataan ini disampaikan dari Yogyakarta dan beredar luas di ruang publik sebagai bagian dari diskursus mengenai peran Gereja dan konflik sosial di Papua.

Yoseph menilai perlu adanya kritik terhadap cara argumentasi yang digunakan dalam surat Pastor Roy, yang dianggap tidak membuka ruang dialog, melainkan justru menutupnya dengan pendekatan yang dinilai defensif dan dominatif.


“Surat ini bukan sekadar klarifikasi, tetapi praktik wacana kuasa yang meneguhkan legitimasi institusi sekaligus mendeligitimasi kritik,” tulisnya.

Dalam analisisnya, Yoseph menguraikan sejumlah poin utama:
Ia menilai terdapat strategi delegitimasi personal dengan menyerang aspek psikologis pengkritik, bukan substansi argumen.

Ia mengkritik klaim representasi umat yang dianggap dimonopoli oleh pihak tertentu, sehingga menutup pluralitas suara Papua.
Ia menyebut adanya reduksi konflik struktural Papua menjadi sekadar persoalan emosi dan rasionalitas individu.

Ia menyoroti bias modernisasi dalam argumen yang mengaitkan perubahan pola hidup sebagai satu-satunya jalan kemajuan.
Ia mempertanyakan pemisahan tegas antara ruang sakral gereja dan aktivitas sosial-politik umat.

Ia juga menilai penggunaan konsep universalisme Gereja cenderung mengabaikan konteks lokal dan sejarah marginalisasi.

“Ini bukan sekadar pembelaan, tetapi upaya mengontrol narasi konflik Papua,” tegasnya.

Di bagian akhir, Prof. Dr. Yoseph Yapi Taum, M.Hum. menyimpulkan bahwa tulisan Pastor Roy kuat secara retorika, namun lemah dalam keterbukaan dialog, pengakuan terhadap pluralitas perspektif, serta sensitivitas terhadap ketidakadilan struktural.

Polemik ini memperlihatkan perdebatan yang semakin kompleks antara pendekatan pastoral Gereja, kritik umat, dan analisis akademik dalam melihat persoalan Papua. Diskursus tersebut hingga kini masih terus berkembang di ruang publik.

height="600"/>

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *