Example floating
BeritaDaerahHomeKabar LegislatorLingkunganPapua Barat DayaPemerintahan

Pembangunan Lapangan Terbang Ayata Dimulai, Masyarakat Maisomara Apresiasi Perhatian Pemprov Papua Barat Daya

0
×

Pembangunan Lapangan Terbang Ayata Dimulai, Masyarakat Maisomara Apresiasi Perhatian Pemprov Papua Barat Daya

Sebarkan artikel ini

MAYBRAT, DETIKPAPUA.NET — Pembangunan Lapangan Terbang Kampung Ayata di Distrik Aifat Timur Tengah, Kabupaten Maybrat, mulai menunjukkan titik terang. Kehadiran alat berat di lokasi pembangunan disambut antusias masyarakat Suku Maisomara yang selama ini mendambakan akses transportasi udara sebagai solusi atas keterbatasan konektivitas wilayah. Kegiatan pembangunan tersebut merupakan bagian dari program kerja dan perjuangan Willem Assem, S.E., selaku Wakil Ketua Komisi III DPR Provinsi Papua Barat Daya yang membidangi infrastruktur, meliputi jalan, jembatan, lapangan terbang, pelabuhan, air bersih, listrik dan kehutanan, Sabtu (12/9/2026).

Wakil Ketua Komisi III DPR Provinsi Papua Barat Daya, Willem Assem, S.E., bersama masyarakat kampung Ayata saat melihat Lokasi pembangunan Lapangan Terbang di Distrik Aifat Timur Tengah, Kampung Ayata, Kabupaten Maybrat. Sabtu, (12/9/2026). Foto/Istimewa.

Masyarakat bersama pemerintah distrik dan tokoh agama menyampaikan apresiasi kepada Gubernur Papua Barat Daya, Dinas Perhubungan Provinsi Papua Barat Daya serta Willem Assem, S.E., yang dinilai telah mendorong pembangunan fasilitas transportasi udara tersebut.

Kepala Distrik Aifat Timur Tengah, Ignasius Assen, mengatakan pembangunan Lapangan Terbang Ayata merupakan kabar baik bagi masyarakat. Menurutnya, kehadiran pemerintah melalui pembangunan infrastruktur transportasi udara menjadi kebutuhan penting bagi masyarakat di wilayah tersebut.

“Atas nama pemerintah distrik bersama masyarakat, kami menyampaikan terima kasih kepada Bapak Gubernur Papua Barat Daya, Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Papua Barat Daya dan pihak-pihak yang telah memberikan dukungan terhadap pembangunan Lapangan Terbang Kampung Ayata,” kata Ignasius.

Ia berharap perhatian pemerintah tersebut tidak berhenti pada dimulainya pekerjaan, tetapi terus dikawal sampai lapangan terbang dapat berfungsi dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Sebab, bagi masyarakat di wilayah pedalaman, transportasi udara bukan sekadar pembangunan infrastruktur, melainkan kebutuhan mendesak untuk membuka akses pelayanan publik.

Pastor Paroki Santo Andreas Ayata, Pastor Fredy Sabu, Pr., juga menyampaikan apresiasi atas keberlanjutan pembangunan Lapangan Terbang Ayata. Ia mengungkapkan bahwa lapangan terbang tersebut sebelumnya telah dirintis oleh pihak misi, sebelum kemudian dilanjutkan oleh pemerintah untuk dikembangkan menjadi fasilitas yang lebih baik.

Pastor Paroki Santo Andreas Ayata, Pastor Fredy Sabu, Pr. Foto/Istimewa.

“Ini merupakan inisiatif yang luar biasa untuk melanjutkan pembangunan lapangan terbang yang awalnya telah dirintis oleh misi dan akhirnya dilanjutkan oleh pemerintah untuk dibangun lebih baik lagi,” ungkap Pastor Fredy Sabu.

Sementara itu, tokoh masyarakat Sefnat Momao menegaskan bahwa masyarakat yang mendiami wilayah Suku Maisomara memberikan dukungan penuh terhadap pembangunan tersebut. Ia berharap pembangunan dapat terus masuk dalam program pemerintah pada tahun anggaran berikutnya.

“Kami berharap tahun anggaran 2027 program ini terus berjalan dan 2028 juga terus berjalan, sehingga kami benar-benar merasakan manfaat dari kehadiran pesawat yang bisa landing di Ayata,” tegasnya.

Menurut Sefnat, pembangunan Lapangan Terbang Ayata juga tidak terlepas dari perjuangan Willem Assem, S.E., yang mewakili aspirasi masyarakat melalui lembaga legislatif. Kehadiran alat berat di lokasi, kata dia, menjadi bukti awal bahwa aspirasi masyarakat mulai mendapat respons pemerintah.

“Kami berterima kasih kepada saudara kami, Bapak Willem Assem, yang telah mewakili dan memperjuangkan kami di DPR Papua Barat Daya sehingga hari ini sudah ada pembangunan dan alat berat di sini,” katanya.

Dalam rangkaian kegiatan tersebut, masyarakat juga melaksanakan upacara adat sebagai bentuk penghormatan kepada moyang dan leluhur yang telah menjaga tanah adat setempat. Ritual tersebut sekaligus menjadi bentuk permohonan restu agar proses pembangunan berjalan lancar dan tidak mengalami hambatan.

Masyarakat Kampung Ayata saat melaksanakan upacara adat sebagai bentuk penghormatan kepada moyang dan leluhur yang telah menjaga tanah adat setempat. Sabtu, (12/9/2026). Foto/Istimewa.

Willem Assem, S.E., selaku Wakil Ketua Komisi III DPR Provinsi Papua Barat Daya, menjelaskan bahwa pembangunan Lapangan Terbang Ayata merupakan hasil dari proses perjuangan bersama masyarakat yang telah dimulai sejak awal tahun 2025. Menurutnya, pembangunan tersebut berawal dari langkah swadaya masyarakat untuk membuka dan merintis lokasi lapangan terbang.

Wakil Ketua Komisi III DPR Provinsi Papua Barat Daya, Willem Assem, S.E. Foto/istimewa.

“Lapangan terbang ini pada awal tahun 2025, saya sebagai anggota DPR Papua Barat Daya bersama empat kepala distrik, anggota DPRK Kabupaten Maybrat Bapak Izak Aikingging dan masyarakat Aifat Timur Raya secara swadaya merintis dan menebang lokasi tersebut,” ungkap Willem.

Setelah lokasi dirintis secara swadaya, Willem kemudian mengusulkan pembangunan Lapangan Terbang Ayata kepada pemerintah provinsi. Ia bersyukur usulan tersebut mendapat respons positif dari Gubernur Papua Barat Daya sehingga pembangunan dapat mulai direalisasikan.

“Selanjutnya saya usulkan dan puji Tuhan, Bapak Gubernur menjawab sehingga hari Sabtu tanggal 12 September dilakukan upacara adat sebelum pembangunan dilaksanakan,” katanya.

Menurut Willem, proses tersebut menunjukkan bahwa pembangunan infrastruktur dapat dimulai dari inisiatif dan partisipasi masyarakat, kemudian diperkuat melalui dukungan pemerintah. Ia menilai kolaborasi antara masyarakat, pemerintah distrik, DPRK, DPRP dan pemerintah provinsi menjadi faktor penting dalam mewujudkan pembangunan Lapangan Terbang Ayata.

Willem menegaskan dirinya akan tetap konsisten memperjuangkan pembangunan infrastruktur di wilayah 3T. Sebagai Wakil Ketua Komisi III DPR Provinsi Papua Barat Daya, ia membidangi infrastruktur yang mencakup jalan, jembatan, lapangan terbang, pelabuhan, air bersih, listrik serta kehutanan.

Ia mengatakan pembangunan Lapangan Terbang Ayata merupakan salah satu bentuk nyata dari program kerja dan komitmennya dalam mendorong pemerataan pembangunan, khususnya bagi masyarakat yang berada di wilayah yang selama ini mengalami keterbatasan akses transportasi.

“Saya tetap konsisten mendorong daerah 3T ini menjadi perhatian serius pemerintah sehingga mereka juga mendapatkan akses pelayanan publik dan kesejahteraan seperti orang lain,” tegas Willem.

Menurutnya, pemerintah tidak boleh hanya membangun infrastruktur di wilayah perkotaan, sementara masyarakat di daerah terpencil masih kesulitan mendapatkan akses transportasi. Karena itu, pembangunan lapangan terbang menjadi salah satu solusi penting untuk membuka konektivitas masyarakat dengan daerah lain.

“Lapangan terbang ini kita bangun sebagai bentuk alat transportasi alternatif yang menjawab kebutuhan masyarakat yang mendesak. Ini sebagai bentuk kehadiran pemerintah di daerah 3T,” ujarnya.

Willem juga menyatakan komitmennya untuk terus mendorong pembangunan lapangan terbang lainnya yang masih membutuhkan perhatian pemerintah, termasuk di wilayah Seija Kabupaten Maybrat, Vev Kabupaten Tambrauw dan Kebar Selatan Kabupaten Tambrauw.

Ia berharap Gubernur Papua Barat Daya terus memberikan perhatian khusus kepada wilayah 3T yang memiliki tantangan geografis dan akses transportasi berbeda dengan daerah perkotaan. Menurutnya, pembangunan infrastruktur dasar harus mampu menjangkau masyarakat hingga ke wilayah pedalaman.

“Harapan kami, lapangan terbang ini tahun depan bisa terus dianggarkan dan secepatnya pesawat bisa mendarat di Ayata. Ini adalah bentuk kehadiran pemerintah bagi masyarakat di daerah 3T,” pungkasnya.

Masyarakat kini berharap pembangunan Lapangan Terbang Ayata tidak berhenti pada tahap awal pekerjaan. Mereka meminta pemerintah konsisten mengalokasikan anggaran hingga seluruh proses pembangunan selesai, sehingga cita-cita masyarakat untuk melihat pesawat mendarat di Ayata dapat segera terwujud.

Penulis: Yohanes KossayEditor: Yohanes Sole
height="600"/>

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *