Example floating
HUT-NKRI-81-2026
BeritaHomePapua Barat DayaPendidikan

HUT ke-23 YPPK-KMS: Teguhkan Komitmen Pendidikan untuk Masa Depan Generasi Papua

0
×

HUT ke-23 YPPK-KMS: Teguhkan Komitmen Pendidikan untuk Masa Depan Generasi Papua

Sebarkan artikel ini

SORONG, DetikPapuaNet— Dalam rangka memperingati HUT ke-23 Yayasan Pendidikan dan Persekolahan Katolik Keuskupan Manokwari-Sorong (YPPK-KMS), seluruh sekolah di bawah naungan YPPK-KMS melaksanakan perayaan secara sederhana di masing-masing sekolah. Khusus wilayah Kota Sorong dan Kabupaten Sorong, perayaan seremonial dilaksanakan secara bersama-sama di Aula SMA YPPK Santo Agustinus Sorong pada Sabtu (22/8/2026).

Sekretaris eksekutif YPPK-KMS, Drs. Simon I. Mendopma bersama para Guru SMA YPPK Agustinus Sorong saat foto bersama. Sabtu, (22/8/2026). Foto/Yohanes Kossay.

Perayaan tersebut turut dihadiri Sekretaris Eksekutif YPPK-KMS, Vikjen Keuskupan Manokwari-Sorong Pastor Isak Bame, Pr., Pastor Lewi Ibori, Pastor Daniel Gobay, para suster biarawati, para alumnus YPPK-KMS, kepala-kepala sekolah, para guru, tenaga kependidikan, serta para guru yang telah memasuki masa purna tugas.

1-20260801-232714-0000

Momentum HUT ke-23 YPPK-KMS menjadi kesempatan untuk merefleksikan perjalanan karya pendidikan Katolik sekaligus meneguhkan kembali komitmen seluruh keluarga besar YPPK-KMS dalam memberikan pelayanan pendidikan bagi masyarakat di Tanah Papua.

Perjalanan 23 tahun YPPK-KMS tidak dapat dipisahkan dari sejarah panjang YPPK di Tanah Papua yang telah mencapai 52 tahun. Perjalanan tersebut menjadi bagian dari karya Gereja Katolik dalam mencerdaskan kehidupan masyarakat dan mempersiapkan generasi penerus.

Sekretaris Eksekutif YPPK-KMS, Drs. Simon I. Mendopma, dalam sambutannya mengatakan bahwa usia 23 tahun YPPK-KMS harus menjadi momentum untuk melihat kembali apa yang telah dilakukan sekaligus mempersiapkan langkah pendidikan untuk masa depan.

Menurut Simon, perjalanan YPPK bukanlah perjalanan yang singkat. Selama puluhan tahun, banyak pihak telah memberikan tenaga, pikiran, waktu, dan pengorbanan untuk memastikan karya pendidikan tetap berjalan.

Sekretaris Eksekutif YPPK-KMS, Drs. Simon I. Mendopma, saat menyampaikan sambutan. Sabtu, (22/8/2026). Foto/Yohanes Kossay.

Ia menegaskan bahwa pendidikan tidak boleh hanya dimaknai sebagai proses menyampaikan pengetahuan, tetapi harus menjadi proses memanusiakan manusia.

“Pendidikan bukan sekadar menyampaikan pengetahuan. Pendidikan adalah proses memanusiakan manusia. Anak-anak yang kita didik harus dipandang sebagai manusia yang memiliki martabat, potensi, dan masa depan,” ujar Simon.

Saat ini, YPPK-KMS menaungi 121 sekolah yang tersebar di wilayah Keuskupan Manokwari-Sorong, dari Sorong hingga Kaimana. Kondisi tersebut menunjukkan besarnya tanggung jawab YPPK-KMS dalam memberikan pelayanan pendidikan kepada masyarakat.

Namun, Simon mengakui bahwa karya pendidikan masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari keterbatasan tenaga pendidik, pembiayaan, sarana dan prasarana, hingga persoalan keberlanjutan sekolah.

Karena itu, ia mengajak seluruh keluarga besar YPPK-KMS untuk terus membangun kebersamaan, melakukan pembenahan, dan memiliki keberanian untuk menghadapi berbagai tantangan pendidikan.

Sementara itu, Vikjen Keuskupan Manokwari-Sorong, Izaak Bame, Pr., mengatakan bahwa sejarah pendidikan Katolik di Tanah Papua jauh lebih panjang daripada usia sebuah lembaga.

Menurutnya, kehadiran Gereja Katolik sejak awal tidak dapat dipisahkan dari karya pendidikan dan kesehatan. Gereja hadir untuk mencerdaskan anak-anak dan membangun manusia di Tanah Papua.

“Gereja hadir bukan untuk dirinya sendiri. Gereja hadir untuk membangun manusia yang ada di tanah ini melalui pendidikan,” kata Izaak Bame.

Ia menilai perjalanan 52 tahun YPPK di Tanah Papua dan 23 tahun YPPK-KMS merupakan bagian dari sejarah panjang Gereja dalam memberikan pelayanan pendidikan kepada masyarakat.

Menurutnya, masyarakat hingga saat ini masih memberikan kepercayaan kepada Gereja untuk membuka dan mengelola sekolah. Kepercayaan tersebut menjadi tanda bahwa karya pendidikan Katolik masih dibutuhkan oleh masyarakat.

Isak juga mengingatkan bahwa berbagai kekurangan yang masih dihadapi YPPK tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti atau mengeluh.

“Kekurangan bukan alasan untuk mengeluh. Kekurangan justru menunjukkan bahwa masih ada bagian yang harus kita perbaiki,” ujarnya.

Dalam sambutannya, Isak memberikan apresiasi kepada para guru dan tenaga kependidikan yang selama ini tetap setia menjalankan tugas dalam berbagai kondisi.

Ia menilai pekerjaan guru memiliki peran yang sangat penting karena guru tidak hanya memberikan ilmu pengetahuan, tetapi juga mempersiapkan manusia yang akan menentukan masa depan bangsa dan Gereja.

“Di balik pekerjaan seorang guru ada sesuatu yang jauh lebih besar, yaitu pemberian diri untuk mempersiapkan generasi masa depan,” katanya.

Menurut Isak, anak-anak yang saat ini berada di bangku sekolah merupakan calon pemimpin masyarakat, pemerintah, Gereja, dan berbagai bidang kehidupan pada masa mendatang.

Karena itu, pendidikan harus diarahkan bukan hanya untuk menghasilkan manusia yang cerdas secara akademik, tetapi juga manusia yang memiliki karakter, tanggung jawab, iman, dan kepedulian terhadap sesama.

Ia mengajak para guru untuk terus memberikan yang terbaik dalam mendidik generasi muda.

“Siapkan generasi ini dengan baik. Ajarkan kepada mereka ilmu pengetahuan, karakter, tanggung jawab, nilai kemanusiaan, dan yang paling penting, tanamkan nilai iman serta kecintaan terhadap sesama,” pesannya.

Isak juga menekankan pentingnya kebijakan pendidikan yang memperhatikan kondisi dan kebutuhan daerah. Menurutnya, kebijakan pendidikan tidak boleh hanya diterapkan secara seragam tanpa mempertimbangkan realitas yang dihadapi sekolah-sekolah di Papua.

Ia berharap para pemimpin dan pejabat daerah dapat memperjuangkan kepentingan pendidikan secara sungguh-sungguh, termasuk memastikan keberlanjutan sekolah dan kesejahteraan tenaga pendidik.

“Pemimpin boleh berganti. Menteri boleh berganti. Kepala daerah boleh berganti. Tetapi pendidikan harus terus berjalan,” tegasnya.

Peringatan HUT ke-23 YPPK-KMS tersebut menjadi momentum untuk memperkuat kebersamaan antara Gereja, pengelola YPPK, kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, alumnus, orang tua, dan masyarakat dalam menjaga keberlanjutan karya pendidikan.

Dengan semangat 52 tahun perjalanan YPPK di Tanah Papua dan 23 tahun perjalanan YPPK-KMS, karya pendidikan Katolik diharapkan terus berkembang dan menjadi bagian penting dalam membangun generasi Papua yang berkualitas, berkarakter, beriman, serta mampu menghadapi tantangan masa depan.

Merah-dan-Putih-Modern-Selamat-Hari-Kemerdekaan-Republik-Indonesia-Banner-H-20260801-230602-0000
Penulis: Yohanes KossayEditor: Yohanes Sole
height="600"/>

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2-20260805-175449-0001