Example floating
IMG-20260621-WA0028
Home

Seribu Pohon untuk Papua: Temu Raya PAM GKI Tutup dengan Seruan Merawat Tanah Ciptaan Tuhan

15
×

Seribu Pohon untuk Papua: Temu Raya PAM GKI Tutup dengan Seruan Merawat Tanah Ciptaan Tuhan

Sebarkan artikel ini

Sorong, Detikpapua.Net– Penutupan Temu Raya Ke-V Persekutuan Anggota Muda (PAM) Gereja Kristen Injili (GKI) Se-Tanah Papua di Klasis Malamoi, Kabupaten Sorong, Rabu (15/7/2026), berlangsung dengan cara yang berbeda. Bukan sekadar menutup rangkaian kegiatan, ribuan pemuda GKI menandainya melalui aksi penanaman sekitar seribu bibit pohon sebagai simbol komitmen menjaga kelestarian Tanah Papua.

Aksi penghijauan yang dipusatkan di Kompleks SMK YPK Bethel Aimas itu menjadi penegasan bahwa gereja tidak hanya hadir membangun kehidupan spiritual umat, tetapi juga terpanggil untuk merawat ciptaan Tuhan di tengah berbagai ancaman terhadap lingkungan hidup.

Penanaman pohon tersebut sekaligus menjadi respons atas berbagai persoalan ekologis yang kini dihadapi Papua, mulai dari deforestasi, alih fungsi lahan, pencemaran lingkungan, hingga dampak perubahan iklim yang mulai dirasakan masyarakat. Di tengah berbagai tantangan itu, para peserta Temu Raya ingin menunjukkan bahwa menjaga alam merupakan bagian dari panggilan iman.

Kepala Biro Pemuda dan Remaja (PAM) Sinode GKI di Tanah Papua, Pdt. Eddyson Sekenyap, menegaskan bahwa gerakan menanam pohon bukan sekadar kegiatan simbolis, melainkan pengingat bahwa Papua adalah rumah bersama yang harus dijaga, bukan ruang yang bebas dieksploitasi.

“Terima kasih. Dalam rangka penutupan Temu Raya PAM GKI Se-Tanah Papua ditandai dengan penanaman seribu pohon di Kompleks SMK YPK Bethel Aimas di Tanah Malamoi. Ini sebagai simbol bahwa Tanah Papua bukan tanah kosong dan alam jaga ko, ko jaga Tanah Papua. Kiranya Tuhan memberkati,” ujarnya.

Pesan tersebut menjadi refleksi atas semakin besarnya perhatian publik terhadap kondisi lingkungan di Papua. Kerusakan hutan, menurunnya kualitas daerah aliran sungai, hingga menyempitnya ruang hidup masyarakat adat menjadi tantangan yang tidak dapat diselesaikan hanya melalui kebijakan pemerintah, tetapi membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat, termasuk lembaga keagamaan.

Melalui Temu Raya ini, GKI menegaskan perannya sebagai mitra dalam membangun kesadaran ekologis di tengah masyarakat. Ribuan pemuda yang berasal dari berbagai klasis di Tanah Papua diharapkan kembali ke daerah masing-masing sebagai agen perubahan yang mampu menggerakkan aksi nyata, seperti penghijauan, pengelolaan sampah, perlindungan sumber mata air, serta pendidikan lingkungan bagi generasi muda.

Meski demikian, keberhasilan gerakan ini tidak hanya diukur dari jumlah bibit yang berhasil ditanam. Tantangan terbesar justru terletak pada komitmen untuk merawat dan memastikan pohon-pohon tersebut tumbuh hingga memberikan manfaat bagi lingkungan. Tanpa pemeliharaan yang berkelanjutan, aksi penanaman pohon berpotensi menjadi sekadar kegiatan seremonial.

Karena itu, semangat yang lahir dari Temu Raya PAM GKI diharapkan terus hidup dalam berbagai program pelayanan di tingkat jemaat. Kepedulian terhadap lingkungan perlu diwujudkan melalui langkah-langkah sederhana namun berkesinambungan, sehingga nilai-nilai iman dapat hadir dalam tindakan nyata menjaga bumi.

Penutupan Temu Raya Ke-V PAM GKI Se-Tanah Papua pun meninggalkan pesan yang kuat: menjaga iman tidak dapat dipisahkan dari menjaga ciptaan Tuhan. Ketika hutan mulai berkurang, sungai tercemar, dan ekosistem menghadapi berbagai ancaman, gereja dipanggil bukan hanya menjadi saksi, tetapi juga pelaku yang aktif merawat bumi. Seribu pohon yang ditanam di Malamoi menjadi simbol harapan bahwa generasi muda Papua siap berdiri di garda depan menjaga tanah yang diwariskan Tuhan bagi mereka.

height="600"/>

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *