Oleh: Vredigando Engelberto Namsa.
Nico Dister lahir di Kota Maastricht – Belanda pada 07 Maret 1939 dari pasangan suami istri, Yohanes H. Nikolaus Dister (Ayah) dan Maria Katarina (Ibu). Ia Terlahir dengan nama lengkap Nicolas M. J. A Dister. Ia memiliki dua orang saudara yang bernama, Lily Dister dan Josef Dister. Ketika menempuh pendidikan di Sekolah Menengah Umum, Nico Dister muda mendapat pengajaran agama dari dua guru agama, yang kedua-duanya dikagumi yakni, Pastor Hari Mulders, SJ dan Laetus Keulaerds OFM. Pada tahun 1954, Nico Dister muda, mengikuti rombongan siswa berziarah ke Lourdes – Prancis. Pada saat itu, timbullah keinginan untuk menjadi seorang pastor.
Dalam proses selanjutnya, ia merasa tertarik untuk menjadi seorang pengikut Fransiskan (Pengikut Santo Fransiskus dari Asisi). Tahun 1955, Nico Dister masuk kolese Misi yang merupakan salah satu dari ketiga Seminari Menengah milik Fransiskan di Belanda. Setelah menyelesaikan pendidikan pada seminari tersebut dan atas keputusan pribadi, Nico Dister berbagung bersama Persaudaraan Fransiskan Provinsi Belanda. Tahun 1957 , Nico Dister memulai masa novisiat OFM, sebuah tempat untuk memulai hidup religius yang juga sebagai jalan menjadi imam dari Ordo atau tarekat religius. Selama setahun menjalani masa Novisat Fransiskan, ia mengucapkan Kaul Pertama sebagai Fransiskan muda pada tahun 1958.
Tahun 1958 hingga sampai pada tahun 1965, Nico Dister menjalani pendidikan calon imam selama enam tahun. Pada saat itu yang dipelajari adalah filsafat, teologi dan Ilmu pengetahuan Alam. Sebagai Saudara Muda Fransiskan, Nico Dister sangat terkesan oleh pengajaran konfrater Hans (Donulus) van Munster, OFM , ahli filsafat Kierkegaard dan di kemudian hari sekretaris KWB (Konferensi Waligereja Belanda). Selain sebagai dosen filsafat di philosophicum fransiskan Belanda di Venray, tempat Saudara Muda OFM berstudi, saudara Donulus juga Magister Saudara Muda (1958-1959). Beliau memberi Nico Dister dan teman-temannya pengajaran agama dengan judul: “Kernvragen rond het Christendom” ( Pertanyaan inti sekitar Agama Kristani). Karena bahan ajaran Magister ini bahwa Nico merasa sedemikian gembira dan bersyukur menjadi seorang Kristiani. Ini juga yang mendorongnya untuk memberikan sukacita kepada orang lain dari negara lain. Pengajaran beliau inilah yang paling menginspirasi Nico Dister untuk dapat membatinkan semangat zaman untuk bermisi, hingga ia bermisi ke Tanah Papua.
Pater Nico Dister, OFM ditabiskan menjadi imam pada, 08 Maret 1964. Tahun 1965 hingga 1968, Pater Nico menempuh studi lanjut filsafat di Univesitas Katolik Leuven (Belgia) dengan perhatian khusus untuk psikologi dan sejarah filsafat. Filsafat rupanya bukan titik akhir studinya, pada 1968 hingga 1971, ia menempuh pendidikan spesialis dalam bidang teologi di Wilhelmsuniversitaet, kota Muenster, Jerman di mana waktu itu Karl Rahner dan Johan-Baptst Metz mengajar. Dalam periode studinya di Jerman ini Nico menyelesaikan disertasi untuk Universitas Leuven di mana mendapat promosi doktor pada tahun 1972. Disertasinya berkenaan dengan Coincidentia Oppositorum in Deo atau in Infinito (Pertentangan saling Bertindih di dalam Allah atau di dalam Yang Tak Terhingga).
Pada tahun 1972, pater Nico berangkat ke Indonesia untuk mengajar di STF Driyarkara. Beliau mengajar Teologi Dasar, Psikologi Agama dan Metafisika. STFT FT. Sejak tahun 1977 ia merangkap sebagai dosen Sekolah Tinggi Kateketik “Karya Wacana” (Jakarta). yang adalah misi tak menghentikannya untuk berkarya di ibu kota negara. Tahun 1983, ia bermisi ke ufuk paling timur Nusantara. Ia dipanggil untuk mengajar pada Sekolah Tinggi Filsafat Teologi “Fajar Timur”, Papua, sambil juga membantu di STF Driyakara.
Sebagai tenaga pengajar di STFT Fajar Timur, ia menempatkan diri sebagai seorang pengajar hingga tahun 2023, di mana beliau secara formal mengakhirinya dengan kuliah umum penutup. Ia hadir sebagai seorang gembala para mahasiswa dan mahasiswi. Apa yang dikerjakan di sana meliputi cukup banyak bidang studi. Hal ini disebabkan pada era itu, STFT Fajar Timur tidak memiliki tenaga yang cukup dalam bidang akademis. Nico mengajar banyak matakuliah teologi dan filsafat. Di bidang teologi beliau mengajar pengantar teologi, kristologi, sejarah dogma, pneumatology. Di bidang filsafat dia mengajar pengantar filsafat, sejarah filsafat, metafisika, filsafat manusia dan filsafat ketuhanan. Di samping mengajar dia juga menjabat pimpinan SFTF Fajar Timur dari 1984 hingga 1988 dan ketua satu bidang akademik dari tahun 1994 hingga 1998.
Puncak karir akademisnya tercatat pada tahun 2024. Pada 4 Juni 2005 di Auditorium Universitas Cendrawasih, ia memberikan pidato pengukuhan dan dikukuhkan sebagai professor teologi. Hingga kini, dialah yang mengukir sejarah tertinggi itu pada STFT Fajar Timur. Pidato pengukuhannya berjudul: Penghubung antar Agama Maria dalam Alkitab dan Al-Quran serta Penghormatan terhadapnya dalam Tradisi Kristiani dan Islami. Konon, beliau sudah harus menjadi professor pada awal 1990an. Namun karena kesalahan administrasi pengukuhan itu baru terwujud pada 2005.
Di Tanah Papua, Pater Nico Syukur Dister, OFM terlibat aktif dalam proyek-proyek social yang sangat membantu sesama yang lain. Hal ini terbukti dengan atusiasme dan energy yang tak kenal lelah, ia mendedikasikan dirinya selama lebih dari setengah abad untuk kesejahteraan anak-anak di Tanah Papua. Selain itu, Pater Nico juga menggunakan bakatnya untuk melayani sesama yang lain. Ia sendiri, mempunyai kekuatan spiritual yang mendalam dalam memperjuangkan kaum kecil dan terpinggirkan. Melalui Yayasan Putri Kerahiman, Pater Nico berusaha memastikan anak-anak tak mampu untuk mendapatkan tempat tinggal dan pendidikan yang layak.
Setelah mencapai usia pensiun , ia menetap di Biara St. Antonius Padua Sentani. Di biara ini, ia mengisi hari-hari hidupnya menerjemahkan karya-karya teologis, secara khusus Agustinus dan melayani orang-orang kecil. Semua itu dijalankan dengan sebuah irama hidup yang amat jelas dan konsisten. Ia adalah orang yang hidup dengan program yang jelas. Salah satu contoh yang paling jelas adalah bahwa ia merencanakan kuliah dan menjalankan kuliah sesuai dengan waktu dan bahan yang disediakan. Bahan yang disediakan selalu diselesaikan tepat pada saat lonceng tanda kuliah berakhir. Walaupun demikian, ia adalah orang yang jarang untuk berekreasi. Di pesawat pada saat perjalanan dan di pinggir pantai pada saat rekreasi, ia masih dengan pekerjaan mahasiswa atau skripsi yang harus diperiksa. Sekian lama mengabdi di Tanah Papua, kurang lebih 41 tahun lama, akhirnya pater Nico Dister memutuskan untuk kembali ke Belanda. Ia kembali ke Belanda pada April 2024. Ia adalah misionaris asal Belanda yang terakhir meninggalkan Tanah Papua.
Pada awal tahun 2026, kesehatan dari Pater Prof. Dr. Nico Syukur Dister, OFM kian menurun. Tidak disangka, pada 11 April 2026, guru besar itu dipanggil oleh Tuhan yang Maha Kuasa, di Kota Nijmegen, Belanda. Ia meninggal dunia dalam usia 87 tahun dan akan dimakamkan pada, Sabtu 18 April 2026, yang diawali dengan misa requem (Arwah) di hari yang sama, pukul 14.30 waktu Belanda.
Penulis adalah Alumnus STFT Fajar Timur Jayapura-Papua













