JAYAPURA, DetikPapuaNet— Umat Katolik di Tanah Papua menyampaikan kritik keras terhadap pernyataan Petrus Canisius Mandagi yang dinilai bersifat intimidatif, melukai iman umat, serta mencederai semangat kegembalaan Gereja, Rabu, (6/4/2026).
Pernyataan Uskup Agung Merauke yang menyebut atau memberi kesan bahwa umat yang melakukan aksi protes di lingkungan Gereja “akan binasa” serta dikaitkan dengan kepentingan politik dan uang dipandang sebagai bentuk penghakiman yang tidak mencerminkan kasih pastoral.
“Pernyataan ini bukan hanya melukai, tetapi juga menciptakan ketakutan di tengah umat. Gereja seharusnya menjadi rumah yang merangkul, bukan ruang yang menghakimi,” tegas Stenlhy dan Chris.
Pernyataan ini disampaikan oleh Stenlhy Dambujai dan Chris Dogopia, yang tergabung dalam Suara Kaum Awam Katolik Regio Papua.
Menurut mereka, pernyataan tersebut menunjukkan krisis kepekaan pastoral. Gereja yang seharusnya menjadi ruang perlindungan justru terkesan berubah menjadi ruang yang menghakimi dan menakutkan.
“Jika suara umat dibungkam dengan stigma dan ancaman, maka di situlah krisis pastoral sedang terjadi,” lanjut Stenlhy Dambujai dan Chris Dogopia.
Sebelumnya, Petrus Canisius Mandagi menyampaikan pernyataan tersebut saat meresmikan dan memberkati Gereja Katolik Santa Maria Fatima Kelapa Lima, Merauke, Papua Selatan, pada Senin (6/4/2026). Dalam konteks itu, pernyataan tersebut memicu reaksi luas dari umat.
Aksi protes yang dilakukan umat ditegaskan sebagai ekspresi kegelisahan iman, bukan tindakan perusakan Gereja.
“Kami tidak merusak Gereja. Kami bersuara karena iman kami gelisah melihat realitas yang mengancam kehidupan umat,” ujar keduanya.
Protes tersebut lahir dari keprihatinan terhadap dukungan Uskup terhadap proyek strategis nasional (PSN) Merauke, yang dinilai mengabaikan aspirasi umat serta berpotensi menghadirkan ancaman serius seperti marginalisasi, perampasan ruang hidup, dan kerusakan ekologis.
Umat juga menilai situasi ini sebagai kemunduran serius dalam praksis pastoral Gereja di Papua, yang selama ini dikenal berpihak pada umat kecil dan menjunjung tinggi keadilan.
Umat Katolik Papua secara tegas menyerukan agar Petrus Canisius Mandagi menghentikan pendekatan yang bersifat menghakimi dan membuka ruang dialog yang jujur, setara, serta tanpa intimidasi.
“Seorang gembala hadir untuk mendengar dan melindungi umatnya, bukan menghakimi atau menakut-nakuti mereka,” tegas mereka.
Selain itu, umat meminta Tahta Suci Vatikan untuk melakukan evaluasi serius terhadap arah kebijakan pastoral di Keuskupan Agung Merauke.
Mereka juga menyampaikan harapan agar ke depan kepemimpinan Gereja di wilayah tersebut dipercayakan kepada imam asli Papua.
“Kami berharap pemimpin Gereja ke depan adalah putra asli Papua yang benar-benar hidup bersama umat, memahami penderitaan mereka, dan berani memperjuangkan keadilan,” tambah mereka, merujuk pada teladan Herman Tillemans dan Jacobus Duivenvoorde.
Pernyataan ini disampaikan di Jayapura sebagai bentuk tanggung jawab iman dan sikap kritis umat terhadap situasi Gereja saat ini.
Pernyataan ini menegaskan bahwa kritik yang disampaikan bukanlah bentuk perlawanan terhadap Gereja, melainkan panggilan iman untuk mengembalikan Gereja pada jati dirinya sebagai rumah bersama yang melindungi, bukan menghakimi.












