Tetesan Embun Inspiratif Sebuah Kado Terindah dihari Ulang Tahun Pernikahan Ke 35 Bpk. Rafael Gambu,S.Pd dan Ibu Regina Rebia, S.Pd.
Ada kalanya perubahan besar dalam kehidupan umat tidak selalu dimulai oleh seorang imam, tokoh masyarakat, ataupun pemimpin organisasi. Terkadang, perubahan itu justru lahir dari ketulusan hati seorang guru yang merasa terpanggil untuk melakukan sesuatu demi pertumbuhan iman sesamanya. Sosok seperti itulah yang tergambar dalam diri Ibu Regina Remia, S.Pd. Di balik profesinya sebagai seorang guru Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), tersimpan semangat pelayanan yang begitu besar. Ia bukan hanya mendidik peserta didik di ruang kelas, tetapi juga menjadi pelopor yang menanamkan dan menghidupkan tradisi devosi kepada Bunda Maria di tengah umat Katolik di Sausapor.
Sebuah kisah yang menginspirasi itu terungkap pada suatu malam yang penuh sukacita. Halaman rumah Bapak Rafael Gambu tampak berbeda dari biasanya. Deretan kursi telah ditata dengan rapi, lampu-lampu menghiasi setiap sudut halaman sehingga menciptakan suasana yang hangat dan khidmat. Sebuah meja altar berdiri dengan anggun, dihiasi kain liturgi dan perlengkapan misa yang telah dipersiapkan dengan baik. Alunan musik rohani mengiringi kedatangan umat yang perlahan memenuhi tempat acara. Malam itu, keluarga besar Bapak Rafael Gambu mengadakan Perayaan Misa Syukur dalam rangka ulang tahun pernikahan mereka yang ke-35.
Perayaan Ekaristi dipimpin oleh Pastor Emanuel Tenauw, Pr., Pastor Paroki Kristus Raja. Sejak awal hingga akhir, umat mengikuti jalannya misa dengan penuh kekhusyukan. Doa, nyanyian, serta bacaan Kitab Suci mengalir dalam suasana penuh syukur. Setelah perayaan misa hampir selesai, tibalah saat sambutan dari beberapa perwakilan keluarga. Di antara para pembicara, Ibu Regina Remia diberikan kesempatan untuk menyampaikan sepatah dua patah kata.
Sambutan yang awalnya tampak sederhana itu justru membuka sebuah kisah yang begitu mengesankan. Dengan penuh kerendahan hati, Ibu Regina mengenang awal mula dirinya menginjakkan kaki di tanah Sausapor. Ia menceritakan bagaimana perjalanan hidup membawanya meninggalkan kampung halamannya di Manggarai, Nusa Tenggara Timur, untuk mengemban tugas sebagai guru di SMP Negeri 1 Sausapor. Penugasan itu bukan sekadar perpindahan tempat kerja, melainkan sebuah panggilan pengabdian yang kemudian mengubah kehidupan iman banyak orang.
Sebagai seorang perempuan yang dibesarkan dalam keluarga Katolik yang sangat menjunjung tinggi tradisi devosi kepada Bunda Maria, Ibu Regina telah akrab dengan kebiasaan doa Rosario sejak masa kecil. Dalam tradisi Gereja Katolik, bulan Mei dan bulan Oktober selalu dirayakan sebagai Bulan Maria, yaitu masa ketika umat secara khusus memberikan penghormatan kepada Bunda Maria melalui doa Rosario bersama. Tradisi tersebut telah menjadi bagian penting dalam kehidupan rohaninya.
Namun, setelah beberapa waktu tinggal di Sausapor, Ibu Regina menemukan kenyataan yang cukup memprihatinkan. Ia melihat bahwa sebagian besar umat Katolik di daerah tersebut belum mengenal secara baik tradisi doa Rosario pada bulan Mei maupun Oktober. Bahkan, ada umat yang sama sekali belum pernah mengikuti doa Rosario bersama. Keadaan ini menimbulkan kegelisahan di dalam hatinya. Baginya, doa Rosario bukan sekadar rangkaian doa yang diucapkan berulang-ulang, melainkan sarana untuk semakin mendekatkan diri kepada Kristus melalui perantaraan Bunda Maria. Karena itu, ia merasa bahwa tradisi iman yang begitu indah ini perlu diperkenalkan kepada umat.
Meskipun dirinya bukan seorang imam, biarawan, ataupun petugas pastoral, Ibu Regina tidak menganggap bahwa pewartaan iman hanya menjadi tanggung jawab para pelayan Gereja. Sebagai seorang guru IPS yang setiap hari mengajar Geografi dan ilmu-ilmu sosial, ia percaya bahwa setiap orang beriman memiliki panggilan untuk menjadi saksi Kristus melalui tindakan nyata. Kesadaran inilah yang mendorongnya mengambil langkah yang berani.
Dengan penuh hormat, Ibu Regina mendatangi Pastor Paroki yang saat itu dijabat oleh Pastor Nyoman. Ia menyampaikan isi hatinya serta keprihatinannya terhadap situasi umat Katolik di Sausapor yang belum memiliki kebiasaan melaksanakan doa Rosario bersama.
Kepada Pastor Nyoman, ia mengungkapkan keinginannya untuk memulai kegiatan doa Rosario di lingkungan umat apabila memperoleh izin dan dukungan dari pihak Gereja.
Gagasan tersebut ternyata disambut dengan penuh sukacita. Pastor Nyoman melihat semangat pelayanan yang tulus dalam diri Ibu Regina. Beliau memberikan restu sekaligus mendukung penuh rencana tersebut. Sebagai bentuk dukungan nyata, Pastor Nyoman menyerahkan beberapa sarana rohani kepada Ibu Regina, antara lain sebuah salib, patung Bunda Maria, rosario, serta lilin-lilin yang dapat digunakan dalam pelaksanaan doa bersama. Bantuan sederhana itu menjadi bekal awal bagi sebuah gerakan iman yang kelak membawa dampak besar bagi kehidupan umat Katolik di Sausapor.
Berbekal iman, keberanian, dan kepercayaan penuh kepada penyelenggaraan Tuhan, Ibu Regina mulai mengajak umat berkumpul untuk melaksanakan doa Rosario. Pada mulanya, jumlah peserta yang hadir belum banyak. Tidak sedikit pula yang masih merasa asing dengan tata cara berdoa Rosario. Namun, Ibu Regina tidak pernah merasa putus asa. Dengan penuh kesabaran ia membimbing umat satu demi satu, mengajarkan doa-doa dasar, menjelaskan makna setiap peristiwa Rosario, serta menumbuhkan kecintaan kepada Bunda Maria sebagai Bunda Gereja.
Pelan tetapi pasti, benih-benih iman yang ia tanam mulai bertumbuh. Semakin banyak keluarga yang bersedia membuka rumah mereka sebagai tempat pelaksanaan doa Rosario. Anak-anak, kaum muda, orang tua, hingga para lanjut usia mulai ikut mengambil bagian dalam doa bersama. Suasana kebersamaan yang terbangun melalui doa Rosario bukan hanya mempererat hubungan umat dengan Tuhan, tetapi juga memperkuat persaudaraan di antara sesama umat Katolik.
Tradisi yang semula hanya dimulai oleh seorang guru kini berkembang menjadi kebiasaan yang dinantikan setiap datangnya bulan Mei dan Oktober. Doa Rosario tidak lagi dipandang sebagai kegiatan baru, melainkan telah menjadi bagian dari identitas kehidupan umat Katolik di Sausapor. Hampir setiap lingkungan dan keluarga memiliki semangat yang sama untuk menghormati Bunda Maria melalui doa bersama. Apa yang dahulu belum dikenal kini telah menjadi tradisi yang hidup dan terus diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
Perjalanan panjang tersebut menunjukkan bahwa perubahan tidak selalu lahir dari program besar ataupun fasilitas yang melimpah. Sebaliknya, perubahan sering kali dimulai dari kepedulian seorang pribadi yang berani bertindak. Ibu Regina tidak memiliki jabatan pastoral, tetapi ia memiliki hati yang peka terhadap kebutuhan rohani umat. Ia memahami bahwa iman tidak cukup hanya dipelajari di ruang kelas atau didengarkan di gereja, melainkan harus diwujudkan dalam tindakan nyata yang mampu menggerakkan orang lain untuk semakin dekat kepada Tuhan.
Sebagai seorang pendidik, Ibu Regina telah menunjukkan bahwa tugas seorang guru tidak berhenti pada proses transfer ilmu pengetahuan. Seorang guru juga dapat menjadi teladan dalam kehidupan beriman, menjadi pembangun karakter, bahkan menjadi penggerak kehidupan rohani masyarakat. Melalui kesederhanaannya, ia memperlihatkan bahwa pendidikan dan pelayanan iman dapat berjalan berdampingan serta saling melengkapi.
Kini, ketika umat Katolik di Sausapor dengan penuh semangat melaksanakan doa Rosario setiap bulan Mei dan Oktober, tidak banyak yang mengetahui bahwa tradisi tersebut berawal dari keberanian seorang guru yang rela keluar dari zona nyamannya. Apa yang ia mulai dengan langkah-langkah kecil akhirnya bertumbuh menjadi warisan iman yang sangat berharga bagi Gereja setempat. Tradisi devosi kepada Bunda Maria yang telah mengakar kuat di tengah umat merupakan buah dari ketekunan, kesabaran, dan kesetiaan seorang perempuan sederhana dalam menjawab panggilan Tuhan.
Kisah hidup Ibu Regina Remia, S.Pd. memberikan pelajaran bahwa setiap orang, apa pun profesinya, dapat menjadi alat Tuhan untuk menghadirkan perubahan. Menjadi guru bukan hanya soal mengajar mata pelajaran, tetapi juga menghadirkan nilai-nilai kehidupan yang memberi inspirasi bagi banyak orang. Melalui dedikasinya, Ibu Regina telah membuktikan bahwa seorang guru dapat menjadi pewarta iman, pelopor pelayanan, sekaligus penjaga tradisi Gereja yang terus hidup di tengah umat.
Warisan yang ditinggalkannya bukanlah bangunan megah ataupun harta benda, melainkan sebuah kebiasaan suci yang terus dipraktikkan oleh umat hingga saat ini. Selama doa Rosario tetap berkumandang di rumah-rumah umat Katolik Sausapor setiap bulan Mei dan Oktober, selama itu pula nama dan pengabdian Ibu Regina Remia akan dikenang sebagai sosok yang dengan tulus menghidupkan devosi kepada Bunda Maria. Kisahnya menjadi bukti bahwa iman yang diwujudkan dalam tindakan sederhana mampu menghasilkan buah yang besar dan membawa berkat bagi banyak orang.
Oleh : Agustinus Jehurung,S.Fil.Gr (Guru SMA Negeri 4 Kota Sorong)













