TIMIKA, DetikPapuaNet— Pengumuman tegas dan tidak biasa disampaikan oleh Pastor Amandus Rahadat dalam misa di gereja katedral pekan ini. Di hadapan umat, ia mengungkap adanya dugaan tindakan intimidatif oleh pihak tak dikenal, termasuk oknum aparat, yang dinilai telah melampaui batas dan mencederai ruang sakral gereja. Pengumuman ini disampaikan di ruang pengumuman Katedral Tiga Raja Timika pada Minggu, (26/4/2026).
Dalam keterangannya, Pastor Amandus menyebut bahwa selama beberapa waktu terakhir terdapat orang-orang tidak dikenal yang hadir dalam misa, berdiri di titik-titik tersembunyi, serta melakukan perekaman dan pengambilan gambar, terutama saat uskup memimpin perayaan. Aktivitas ini disebut berlangsung berulang dan menimbulkan keresahan di kalangan umat.
“Mereka tidak dikenal, berdiri di tempat tersembunyi, lalu foto-foto dan merekam.”
Situasi memuncak saat kunjungan Wakil Presiden yang diikuti peningkatan kehadiran aparat keamanan di sekitar gereja. Pastor Amandus secara terbuka mengkritik tindakan sejumlah oknum tentara yang disebut masuk hingga ke ruang privat para pastor, bahkan ke ruang tidur, tanpa izin.
“Apakah kami ini teroris? Atau pastor menyimpan OPM di pastoran?”
Ia menegaskan bahwa tindakan tersebut bukan hanya tidak etis, tetapi juga melanggar batas penghormatan terhadap institusi keagamaan. Gereja, menurutnya, adalah ruang suci yang tidak boleh diperlakukan dengan pendekatan represif dan penuh kecurigaan.
“Ini terlalu. Sangat terlalu. Tidak boleh lagi terjadi.”
Selain itu, laporan lain juga mengungkap adanya kendaraan tak dikenal yang masuk ke area gereja pada malam hari, berhenti sejenak untuk mengamati, lalu pergi tanpa penjelasan. Dugaan keterlibatan intelijen pun mencuat, meski Pastor Amandus tetap membuka ruang komunikasi.
“Kalau perlu, panggil kami. Kita bicara baik-baik. Jangan datang seperti intimidasi.”
Sebagai respons atas situasi ini, pihak gereja mengambil langkah pengamanan internal. Akses masuk ke area gereja akan diperketat. Umat diminta melalui pemeriksaan satpam, membuka penutup wajah, serta mencatat identitas kendaraan yang masuk sebagai bagian dari upaya menjaga keamanan bersama.
Namun demikian, langkah ini sekaligus mencerminkan situasi yang lebih luas: adanya tekanan terhadap kebebasan ruang ibadah. Pastor Amandus menegaskan bahwa gereja memiliki peran moral yang tidak bisa dibungkam oleh tekanan apa pun.
“Wilayah pastor adalah wilayah moral—keadilan, kebenaran, kejujuran. Kalau ada yang melampaui itu, kami akan bicara.”
Ia juga mengingatkan bahwa jika tindakan serupa kembali terjadi, pihak gereja siap membawa persoalan ini ke tingkat yang lebih tinggi.
“Sekali lagi terjadi, kita akan bertemu ke level yang lebih tinggi. Jangan kelewatan.”
Menutup pengumumannya, Pastor Amandus mengajak umat untuk tetap tenang dan mendoakan para pastor serta uskup agar tetap kuat dalam menjalankan panggilan mereka.
“Doakan para pastor dan uskup agar kami tetap kuat menjalankan tugas yang dipercayakan Tuhan.”
Pernyataan ini menjadi penanda kegelisahan yang kian nyata: ketika ruang ibadah berada dalam bayang-bayang pengawasan, yang dipertaruhkan bukan hanya rasa aman umat, tetapi juga kebebasan menjalankan iman secara bermartabat.













