Example floating
1-20260501-153417-0000
BeritaKesehatanLingkunganPapua Barat DayaPendidikanPeristiwaSosial & Budaya

Surat Terbuka ke Uskup KMS: Deretan Kasus Kekerasan di Seminari Petrus Vandiepen Sorong Disorot

2
×

Surat Terbuka ke Uskup KMS: Deretan Kasus Kekerasan di Seminari Petrus Vandiepen Sorong Disorot

Sebarkan artikel ini

JAYAPURA, DetikPapuaNet— Kelompok Suara Kaum Awam Katolik Regio Papua menyampaikan surat terbuka kepada Mgr. Hilarion Datus Lega terkait keprihatinan serius atas sejumlah kasus yang terjadi di Seminari Petrus Van Diepen. Surat tersebut menyoroti dugaan kekerasan, pelanggaran pembinaan, hingga indikasi krisis sistemik dalam tata kelola seminari. Surat ini dikeluarkan di Jayapura pada Jumat, (1/5/2026).

Dalam surat itu, kelompok tersebut mengungkapkan bahwa seorang siswa berinisial AJN (14) diduga menjadi korban kekerasan oleh seorang senior (frater) berinisial GW. Peristiwa tersebut terjadi pada Minggu, 26 April 2026, sekitar malam hari di lingkungan seminari. Mereka menilai kasus ini bukan kejadian tunggal, melainkan bagian dari persoalan yang telah lama menjadi “rahasia umum” di lingkungan internal maupun di tengah umat.

“Peristiwa ini mencederai nilai-nilai pendidikan dan merusak martabat kemanusiaan serta semangat panggilan imamat yang seharusnya dibina dengan kasih dan tanggung jawab,” demikian kutipan isi surat terbuka tersebut.

Selain kasus terbaru, mereka juga mengungkap sejumlah temuan yang dinilai memprihatinkan. Di antaranya adalah dugaan adanya korban meninggal dunia dalam lingkungan seminari yang hingga kini belum memiliki kejelasan, serta pengakuan sejumlah siswa yang mengalami perlakuan tidak manusiawi baik dari senior maupun pembina.

Lebih lanjut, surat itu juga menyinggung indikasi konsumsi minuman keras oleh oknum tertentu di lingkungan seminari yang diduga memicu tindakan disipliner tidak wajar. Bahkan, tenaga medis disebut kerap menangani siswa dari seminari tersebut, yang dinilai sebagai indikasi adanya praktik kekerasan berulang.

Kelompok itu juga mengklaim masih terdapat sejumlah kasus lain yang belum diungkap ke publik, termasuk dugaan pelanggaran serius lainnya, dan menyatakan siap menyampaikannya apabila tersedia ruang dialog yang terbuka dan transparan.

Atas situasi tersebut, mereka menilai telah terjadi krisis serius dalam sistem pembinaan dan tata kelola lembaga pendidikan calon imam tersebut, bukan sekadar pelanggaran individu.

Dalam tuntutannya, Suara Kaum Awam Katolik Regio Papua mendesak agar pelaku kekerasan ditindak tegas sesuai hukum Gereja dan hukum negara. Mereka juga meminta dilakukan evaluasi total dan independen terhadap sistem pembinaan di seminari, serta mendesak pergantian pimpinan seminari sebagai bentuk tanggung jawab moral.

“Kami percaya Gereja adalah rumah kebenaran dan keadilan. Karena itu, diam bukanlah pilihan ketika calon imam justru menjadi korban di dalam rumah pembinaan,” demikian pernyataan dalam surat tersebut.

Surat terbuka ini ditulis oleh Kaum Awam Katolik Regio Papua, Soleman Itlay.

Mereka berharap Mgr. Hilarion Datus Lega dapat mengambil langkah tegas, transparan, dan berpihak pada korban demi memulihkan kepercayaan publik serta menjamin masa depan pembinaan generasi muda di lingkungan Gereja.

height="600"/>

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2-20260501-153417-0001