Example floating
BeritaHomeLingkunganPapua PegununganSosial & Budaya

Jangan Jual Tanahmu! Pesan Kuat Pastor Gregorius pada Malam Paskah di Paroki Pikhe

103
×

Jangan Jual Tanahmu! Pesan Kuat Pastor Gregorius pada Malam Paskah di Paroki Pikhe

Sebarkan artikel ini

WAMENA, DetikPapuaNet— Ratusan umat Katolik Paroki Bunda Maria Pikhe mengikuti perayaan Malam Paskah dengan penuh khidmat di halaman gereja, Sabtu (4/4/2026) malam.

Suasana saat ratusan umat Katolik Paroki Bunda Maria Pikhe menghadiri perayaan Malam Paskah di depan gereja, Sabtu (4/4/2026). Foto/Istimewa.

Perayaan yang dipimpin Pastor Paroki, Pastor Gregorius Atuwea, OFM ini mengangkat tema “Kristus Bangkit Membarui Kemanusiaan Kita” dengan menekankan pentingnya pembaruan diri serta tanggung jawab menjaga warisan Tuhan, khususnya tanah kelahiran.

Dalam khotbahnya, Pastor Gregorius mengajak umat untuk kembali ke “Galilea”, yakni titik awal panggilan iman seperti yang disampaikan dalam Injil. Ia mengibaratkan hal tersebut sebagai ajakan untuk kembali ke “honai” atau rumah asal, tempat manusia merenungkan kembali niat, tekad, dan arah hidup.

“Yesus mengajak murid-murid-Nya kembali ke titik awal untuk merenungkan tekad, niat, dan motivasi perjalanan hidup mereka. Kembali bukan berarti melakukan hal yang sama, tetapi memulai sesuatu yang baru melalui proses pembaruan diri,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa pengalaman kegagalan dan kejatuhan di masa lalu harus menjadi pelajaran untuk meninggalkan “manusia lama” dan bertransformasi menjadi “manusia baru” yang mampu bersaksi tentang Kristus dalam kehidupan sehari-hari.

Mengacu pada kisah penciptaan dalam Kitab Kejadian, Pastor Gregorius juga menyoroti kondisi sosial saat ini, terutama terkait persoalan tanah ulayat. Ia mengingatkan bahwa Tuhan telah menyediakan segala sesuatu dengan baik, namun manusia seringkali lalai menjaganya.

“Tuhan sudah menyiapkan segala sesuatu baik adanya untuk kita. Namun yang menjadi pertanyaan, siapa yang merusak itu? Kita sekarang sedang krisis dengan tanah kita sendiri,” tegasnya.

Ia pun mengingatkan umat agar tidak ceroboh atau serakah dalam menjual tanah, karena hal itu dapat berdampak pada masa depan generasi berikutnya.

“Jangan heran jika suatu saat anak cucu Bapak dan Mama terlantar di atas tanah sendiri. Jangan sampai kita menjadi pengemis atau penonton di tanah kelahiran kita sendiri,” katanya.

Melalui semangat Paskah, umat diajak untuk mewujudkan pembaruan hidup secara nyata, antara lain dengan memperbaiki hubungan yang retak, menanamkan nilai kejujuran, menjaga budaya serta tata kehidupan bersama, dan mensyukuri serta merawat alam sebagai anugerah Tuhan.

Di akhir khotbahnya, Pastor Gregorius juga mengingatkan pentingnya hari ketujuh sebagai waktu untuk beristirahat dan berjumpa dengan Tuhan, serta mengajak umat untuk setia mengikuti perayaan Minggu.

“Paskah adalah momentum untuk bangkit bersama Kristus. Mari kita membenahi diri agar tidak menjadi orang asing di tanah kelahiran kita, melainkan menjadi manusia yang bersyukur atas segala kebaikan-Nya,” pungkasnya.

height="600"/>

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *