Example floating
IMG-20260202-234237
BeritaHome

Makna Perjalanan Sejarah Peradaban Pekabaran Injil di Tanah Papua: Peringatan 171 Tahun Masuknya Injil di Tanah Papua (5 Februari 1855 – 5 Februari 2026

15
×

Makna Perjalanan Sejarah Peradaban Pekabaran Injil di Tanah Papua: Peringatan 171 Tahun Masuknya Injil di Tanah Papua (5 Februari 1855 – 5 Februari 2026

Sebarkan artikel ini

“Pertobatan Mendatangkan Keselamatan” (Yunus 3:1–10)

Oleh: Dr. Sellvyana Sangkek, SE., M.Si

IMG-20260204-171442

Makalah ini mengkaji makna perjalanan sejarah pekabaran Injil di Tanah Papua sebagai proses transformasi peradaban sejak 5 Februari 1855 hingga 5 Februari 2026. Masuknya Injil dipahami bukan semata peristiwa keagamaan, melainkan momentum historis yang membuka tabir peradaban baru melalui perubahan spiritual, sosial, budaya, pendidikan, dan etika publik masyarakat Papua. Dengan pendekatan historis teologis dan refleksi kontekstual, makalah ini menempatkan tema Pertobatan Mendatangkan Keselamatan Yunus 3:1–10 sebagai kerangka teologis utama untuk membaca dinamika perubahan tersebut. Pertama, kajian ini menelusuri sejarah pekabaran Injil sebagai proses injili yang menanamkan nilai kasih, martabat manusia, disiplin sosial, dan tanggung jawab moral dalam kehidupan kolektif orang Papua. Kedua, analisis teologis Yunus 3:1–10 menegaskan bahwa pertobatan bersifat kolektif, kontekstual, dan transformatif, sementara keselamatan dipahami sebagai buah perubahan karakter, perilaku sosial, dan relasi kemanusiaan yang adil serta damai. Ketiga, makalah ini merefleksikan relevansi nilai Injil bagi dinamika kontemporer Papua Barat Daya dalam menjawab ketimpangan sosial, konflik identitas, rekonsiliasi nasional, penguatan pendidikan, serta pembangunan kebangsaan berkelanjutan. Dengan memanfaatkan sumber sejarah dan kajian teologi kontemporer, makalah ini diharapkan menjadi kontribusi intelektual strategis bagi pemimpin publik, gereja, dan perumus kebijakan sosial keagamaan di Papua Barat Daya yang mendukung persatuan, perdamaian, keadilan sosial, dan visi pembangunan Papua bermartabat berkelanjutan nasional inklusif.

I. Pendahuluan

  1. Latar Belakang
    Masuknya Injil ke Tanah Papua pada 5 Februari 1855 merupakan sebuah peristiwa transformatif yang tidak hanya menandai awal penyebaran agama Kristen, tetapi juga membuka babak baru dalam sejarah peradaban masyarakat Papua. Pada tanggal tersebut, dua misionaris asal Jerman, Carl Wilhelm Ottow dan Johann Gottlob Geissler, menapakkan kaki di Pulau Mansinam, Teluk Doreh (kini wilayah Kabupaten Manokwari, Papua Barat). Peristiwa ini secara luas diakui sebagai titik awal pekabaran Injil yang terorganisasi dan berkelanjutan di Tanah Papua.
    Dalam ingatan kolektif orang Papua, kedatangan Injil bukan dipahami semata-mata sebagai peristiwa religius, melainkan sebagai awal perjumpaan intensif dengan dunia modern—meliputi pendidikan formal, pelayanan kesehatan, literasi, serta nilai-nilai baru tentang kemanusiaan dan kehidupan sosial. Oleh karena itu, peristiwa 5 Februari 1855 diperingati setiap tahun sebagai Hari Pekabaran Injil di Tanah Papua, dan sejak tahun 2001 secara resmi ditetapkan sebagai hari libur daerah di Papua sebagai bentuk pengakuan negara terhadap signifikansi historis dan sosial peristiwa tersebut.
    Kajian-kajian misi dan antropologi agama kontemporer menegaskan bahwa injilisasi di Papua tidak dapat dipahami sebagai proses linear atau tunggal, melainkan sebagai proses dialogis yang kompleks antara Injil dan konteks lokal. Injil hadir dan bekerja melalui interaksi dengan struktur adat, kosmologi lokal, dan dinamika sosial masyarakat Papua, sehingga membentuk ekspresi kekristenan yang khas dan kontekstual. Dalam kerangka ini, Injil tidak hanya “datang” ke Papua, tetapi diterima, ditafsirkan, dan dihidupi oleh orang Papua sesuai dengan pengalaman sejarah dan kebudayaan mereka.
    Kedatangan Injil juga membuka ruang transformasi sosial yang gradual namun mendalam. Pendidikan berbasis zending menjadi sarana awal pembentukan sumber daya manusia Papua; pelayanan kesehatan memperkenalkan pemahaman baru tentang tubuh, penyakit, dan perawatan; sementara nilai-nilai Injil seperti kasih, pengampunan, dan penghargaan terhadap martabat manusia mulai memengaruhi relasi sosial yang sebelumnya sering diwarnai konflik dan kekerasan antar-kelompok. Dalam perspektif sejarah sosial, Injil berfungsi sebagai agen perubahan moral dan etis yang berkontribusi pada terbentuknya tatanan sosial yang lebih damai dan teratur.
    Penelitian 5 (lima)tahun terakhir tentang kekristenan di kawasan Melanesia dan Pasifik termasuk Papua menunjukkan bahwa agama Kristen memainkan peran penting dalam pembentukan identitas kolektif, ketahanan sosial (social resilience), dan kemampuan masyarakat lokal untuk beradaptasi dengan perubahan politik dan ekonomi. Kekristenan di Papua tidak hanya menjadi sistem kepercayaan, tetapi juga sumber makna, solidaritas, dan daya tahan di tengah berbagai tantangan sejarah, mulai dari kolonialisme, integrasi nasional, hingga globalisasi.
    Dalam konteks Papua Barat Daya sebagai provinsi baru, refleksi atas masuknya Injil menjadi semakin relevan. Injil telah menjadi bagian dari memori historis dan fondasi moral masyarakat Papua, yang dapat berkontribusi secara konstruktif dalam membangun kehidupan berbangsa yang damai, adil, dan bermartabat. Oleh karena itu, memahami latar belakang historis masuknya Injil bukanlah upaya romantisasi masa lalu, melainkan upaya kritis untuk membaca akar peradaban Papua dan menafsirkan maknanya bagi tantangan masa kini dan masa depan.
  2. Kondisi Sosial dan Budaya Tanah Papua Pra-1855

Sebelum masuknya pekabaran Injil pada pertengahan abad ke-19, Tanah Papua ditandai oleh keragaman sistem sosial dan kepercayaan lokal yang berkembang secara otonom dalam komunitas-komunitas adat yang relatif terisolasi. Masyarakat Papua hidup dalam struktur sosial berbasis kekerabatan, di mana identitas individu sangat ditentukan oleh afiliasi suku, klan, dan wilayah adat. Sistem ini membentuk solidaritas internal yang kuat, namun pada saat yang sama membatasi relasi antar-kelompok dan sering memicu konflik antarsuku sebagai mekanisme mempertahankan kehormatan, sumber daya, dan wilayah hidup.
Secara religius, masyarakat Papua pra-1855 umumnya menganut kepercayaan animistik dan dinamistik, di mana dunia dipahami sebagai ruang yang dipenuhi kekuatan spiritual. Roh nenek moyang, entitas alam (gunung, sungai, hutan), dan benda-benda tertentu diyakini memiliki kuasa yang dapat memengaruhi kehidupan manusia. Relasi manusia dengan dunia spiritual dijaga melalui ritual adat, pantangan, dan praktik magis-religius yang bertujuan menjaga keseimbangan kosmis dan menghindari malapetaka. Dalam kerangka ini, agama tidak dipisahkan dari kehidupan sehari-hari, melainkan terintegrasi secara menyeluruh dalam sistem sosial, ekonomi, dan budaya.
Kajian antropologi agama kontemporer menegaskan bahwa pandangan dunia (worldview) masyarakat Papua bersifat holistik, yakni memandang manusia, alam, dan roh sebagai satu kesatuan yang saling bergantung. Tidak terdapat dikotomi tajam antara yang sakral dan yang profan sebagaimana dalam pemikiran modern Barat. Kehidupan dipahami sebagai jaringan relasi kosmis yang harus dijaga melalui kepatuhan terhadap adat dan ritus kolektif. Dalam konteks ini, keselamatan dimaknai bukan sebagai pembebasan moral atau transformasi etis, melainkan sebagai terpeliharanya keseimbangan relasi dengan dunia roh dan alam.
Penelitian sejarah misi dan antropologi juga mencatat bahwa kontak dengan agama monoteistik eksternal sebelum abad ke-19 sangat terbatas dan tidak berkelanjutan. Meskipun terdapat interaksi sporadis dengan pedagang Muslim dari Maluku atau wilayah pesisir lainnya, tidak ditemukan bukti kuat mengenai proses penginjilan atau islamisasi yang sistematis dan mengakar di sebagian besar wilayah Papua sebelum kedatangan misionaris Kristen pada tahun 1855. Dengan demikian, masyarakat Papua memasuki perjumpaan dengan Injil dari latar belakang religius yang sepenuhnya berbeda dengan tradisi monoteistik Abrahamik.
Pendekatan antropologi agama modern menekankan bahwa perubahan besar dalam sistem kepercayaan seperti ini tidak pernah berlangsung secara instan. Transformasi religius selalu menuntut perjumpaan yang mendalam, dialogis, dan kontekstual antara ajaran baru dan struktur makna yang telah hidup lama dalam masyarakat. Oleh karena itu, masuknya Injil ke Tanah Papua tidak dapat dipahami sebagai penggantian langsung sistem kepercayaan lama, melainkan sebagai proses negosiasi makna yang panjang antara Injil dan kosmologi lokal.
Dalam perspektif ini, kondisi sosial dan budaya Papua pra-1855 menjadi kunci penting untuk memahami mengapa pekabaran Injil kemudian berkembang sebagai proses transformasi peradaban, bukan sekadar peristiwa keagamaan. Injil hadir di tengah masyarakat yang memiliki struktur sosial kuat, spiritualitas mendalam, dan pandangan hidup holistik— sehingga penerimaan Injil di Papua berlangsung melalui proses kontekstualisasi yang membentuk kekristenan Papua yang khas hingga hari ini.
Kajian ini penting karena lebih dari sekadar sejarah perkabaran agama; ia merupakan studi tentang interaksi antara agama, peradaban, dan masyarakat Papua. Peristiwa 5 Februari 1855 dipandang sebagai titik balik transformatif dari kehidupan komunitas yang relatif tertutup terhadap dunia luar menjadi masyarakat yang memiliki struktur sosial baru yang lebih kompleks, kesadaran terhadap kolaborasi antar-etnis, dan keterlibatan dalam pendidikan serta kegiatan sosial.
Lebih jauh, studi modern dalam konteks Papua menunjukkan bahwa adopsi dan adaptasi Injil oleh masyarakat Papua tidak hanya bersifat pasif, tetapi merupakan proses dialogis antara tradisi lokal dan nilai-nilai kristiani, membentuk cara hidup baru yang menghormati elemen budaya asli sekaligus membuka ruang untuk transformasi sosial dan religius.

II. Sejarah Pekabaran Injil di Tanah Papua (1855–2026)

  1. Kedatangan Para Pionir Injil: 1855–1870

Perkembangan Injil di Papua dimulai secara resmi pada 5 Februari 1855, ketika dua misionaris Protestan dari Gossner Mission Society di Jerman, yaitu Carl Wilhelm Ottow dan Johann Gottlob Geissler, tiba di Pulau Mansinam, Teluk Doreh (kini Manokwari) dan memulai pelayanan pekabaran Injil. Dalam catatan sejarah gereja lokal, kedatangan mereka dicatat sebagai momen penting karena merupakan titik awal dari penyebaran agama Kristen secara sistematis di wilayah Papua Barat, yang sekaligus membawa pengenalan huruf, pendidikan, dan nilai-nilai universal tentang martabat manusia.
Para misionaris ini menghadapi tantangan besar: bahasa yang berbeda, geografis yang sulit, dan sistem kepercayaan animistik yang kuat. Namun, pendekatan mereka bukan sekadar penginjilan verbal, tetapi juga pendidikan, kesehatan, dan pelatihan keterampilan bagi masyarakat lokal, yang membuka pintu penerimaan Injil secara lebih luas.
Kedua tokoh ini, meskipun mengalami tantangan seperti penyakit tropis dan isolasi sosial, tetap membangun dasar gereja awal di Mansinam dan kawasan sekitarnya hingga Ottow wafat pada 1862 dan Geissler kembali ke Jerman pada 1870.

  1. Ekspansi Misi Kristen: 1870–1940

Setelah periode pionir, pelayanan misi terus berkembang oleh pendeta dan pekerja zending Belanda maupun Jerman lainnya. Di era kolonial awal, zending Protestan berfokus pada wilayah pantai utara Papua dan pulau- pulau sekitarnya, membangun sekolah, gereja, dan sistem pengajaran yang mulai membuka akses pendidikan formal bagi orang Papua sejak akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20.
Pada dekade awal abad ke-20, Dokumen historis menunjukkan bahwa jumlah gereja Protestan dan institusi pendidikan meningkat pesat, mencerminkan perluasan agama Kristen dari rumah ke rumah dan dari suku ke suku sampai komunitas pegunungan mulai dikenal oleh para penginjil. Perlu dicatat juga bahwa dalam konteks kolonial Belanda, misi Protestan berkoordinasi dengan kelompok misi Katolik di wilayah Selatan Papua, sehingga pada awal abad ke-20 kedua tradisi gereja berkembang hampir bersamaan meskipun dengan wilayah pengaruh yang berbeda.

  1. Masa Peralihan dan Pengakuan Organisasi Gerejawi Lokal (1940–1960)

Setelah Perang Dunia II dan menjelang kemerdekaan Indonesia, gereja- gereja lokal semakin mandiri. Pada tahun 1948, diadakan pertemuan gerejawi penting yang menandai tata organisasi gereja Protestan di Papua. Kemudian, pada 1956, dicatat bahwa Sinode pertama Gereja Kristen Injili di Tanah Papua (GKITP) diselenggarakan—ini menjadi lembaga organisasi gereja mandiri yang kini menjadi salah satu denominasi terbesar di Papua. Proses ini sangat penting karena memindahkan kekuasaan gereja dari kendali zending asing ke tangan orang-orang Papua sendiri, yang kemudian menjadi pemimpin gereja, guru, dan pengajar dalam komunitas mereka sendiri.

  1. Reformasi Sosial dan Lokalisasi Iman (1960–1990)

Memasuki era setelah integrasi wilayah Papua ke dalam Indonesia pada 1960-an, gereja-gereja lokal memainkan peran penting dalam pembangunan sosial dan budaya masyarakat Papua. Dalam periode ini, gereja tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga pusat pendidikan dan layanan sosial, serta identitas kolektif masyarakat Papua di tengah tantangan pembangunan nasional.
Gereja Kristen menjadi ruang dialog antara tradisi lokal dan nilai-nilai injili, membentuk suatu lokalisasi iman di mana praktik Kristen diinternalisasi dalam konteks budaya Papua. Pendekatan ini menunjukkan bahwa evangelisasi bukan sekadar penyeragaman, tetapi proses adaptasi di mana masyarakat Papua turut memaknai dan menerjemahkan iman ke dalam budaya lokal mereka.

  1. Peran Gereja dalam Identitas Sosial dan Kebudayaan (1990–2026)

Dalam beberapa dekade terakhir, akademisi mulai memperhatikan bagaimana Kristen memainkan peran dalam identitas sosial, budaya, dan politik masyarakat Papua, termasuk dalam era globalisasi dan desentralisasi pemerintahan Indonesia. Studi terbaru menunjukkan bahwa gereja bukan hanya institusi religius, tetapi juga marker identitas sosial yang berperan dalam dialog antar kelompok, advokasi hak asasi, serta perdamaian sosial di Papua.
Penyebaran Injil sejak 1855 telah menghasilkan masyarakat Papua yang mayoritas Kristen secara budaya dan religius, dengan banyak komunitas berakar kuat pada gereja lokal setempat yang juga berperan dalam pendidikan, kesehatan, dankemanusiaan1.

III. Dampak Pekabaran Injil terhadap Transformasi Sosial dan Budaya Tanah Papua

  1. Injil dan Transformasi Nilai Sosial

Pekabaran Injil di Tanah Papua membawa perubahan mendasar pada struktur nilai sosial masyarakat. Injil memperkenalkan konsep martabat manusia yang setara di hadapan Allah, yang kemudian berdampak pada relasi sosial antar-individu dan antar-komunitas. Studi antropologi agama kontemporer menunjukkan bahwa kekristenan di Papua berperan sebagai agen moral yang menggeser praktik kekerasan, balas dendam, dan konflik suku menuju rekonsiliasi dan perdamaian.
Dalam konteks ini, Injil tidak menghapus adat secara total, tetapi mereinterpretasi adat melalui nilai kasih, pengampunan, dan tanggung jawab bersama. Proses ini menciptakan apa yang oleh para sarjana disebut sebagai contextual Christianity, yaitu iman Kristen yang hidup dan bertumbuh dalam budaya lokal.

  1. Pendidikan sebagai Pilar Peradaban Baru

Salah satu dampak paling nyata dari Injil di Tanah Papua adalah lahirnya sistem pendidikan modern. Sekolah-sekolah zending menjadi ruang awal literasi, pembentukan karakter, dan kesadaran kritis masyarakat Papua. Penelitian mutakhir menegaskan bahwa misi Kristen di wilayah Pasifik, termasuk Papua, memiliki kontribusi signifikan dalam peningkatan kapasitas intelektual masyarakat adat tanpa harus meniadakan identitas budaya mereka.
Dalam perspektif pembangunan manusia, pendidikan berbasis nilai Injil telah:
· Membentuk generasi pemimpin lokal · Mengurangi keterisolasian sosial
· Membuka akses partisipasi dalam kehidupan berbangsa
Hal ini menjadi fondasi penting bagi Papua Barat Daya sebagai provinsi baru yang membutuhkan sumber daya manusia berkarakter, beriman, dan berwawasan kebangsaan.

  1. Pelayanan Kesehatan dan Diakonia Sosial

Selain pendidikan, Injil juga mendorong lahirnya pelayanan kesehatan dan diakonia sosial. Rumah sakit dan klinik misi menjadi institusi pertama yang memperkenalkan konsep kesehatan modern di banyak wilayah Papua. Studi global tentang misi Kristen menegaskan bahwa pelayanan kesehatan merupakan ekspresi konkret dari teologi keselamatan yang holistik (holistic salvation).
Pendekatan ini menegaskan bahwa keselamatan tidak hanya menyangkut kehidupan setelah kematian, tetapi juga kualitas hidup manusia di dunia sekarang. Di Papua, pelayanan diakonia gereja terbukti menjadi jaring pengaman sosial bagi masyarakat rentan di wilayah terpencil.

  1. Injil, Rekonsiliasi, dan Perdamaian Sosial

Dalam konteks konflik dan ketegangan sosial di Papua, gereja dan nilai Injil sering kali berperan sebagai mediator moral dan sosial. Penelitian lima tahun terakhir menunjukkan bahwa institusi keagamaan di wilayah konflik berfungsi sebagai moral authority yang relatif dipercaya oleh masyarakat lokal.
Pesan pertobatan dalam Yunus 3:1–10 menemukan relevansinya di sini: pertobatan bukan hanya relasi manusia dengan Tuhan, tetapi juga rekonsiliasi antar-manusia. Gereja dipanggil untuk terus mendorong: · Dialog tanpa kekerasan
· Pengakuan kesalahan struktural · Pemulihan relasi sosial

IV. Injil, Identitas, dan Kebangsaan di Papua Barat Daya

  1. Kekristenan dan Identitas Orang Papua

Bagi banyak orang Papua, kekristenan telah menjadi bagian integral dari identitas kolektif. Identitas ini tidak berdiri berlawanan dengan keindonesiaan, tetapi dapat berfungsi sebagai jembatan etis untuk membangun relasi yang adil antara negara dan masyarakat lokal. Studi politik identitas kontemporer menekankan bahwa agama dapat menjadi sumber resiliensi sosial, bukan ancaman disintegrasi, apabila dikelola secarainklusif.

  1. Relevansi bagi Kesbangpol Papua Barat Daya

Sebagai Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Papua Barat Daya, refleksi 171 tahun Injil memberikan kerangka moral bagi: · Penguatan persatuan dalam keberagaman · Pencegahan radikalisme dan kekerasan
· Pengelolaan politik identitas secara sehat
Nilai pertobatan dalam Injil mengajarkan bahwa stabilitas politik sejati lahir dari keadilan, kejujuran, dan kesediaan memperbaiki relasi, bukan sekadar pendekatan keamanan.

  1. PIKI dan Tanggung Jawab Intelektual Kristen

Sebagai Ketua DPP Persatuan Inteligensia Kristen Indonesia (PIKI) Papua Barat Daya, Injil harus diterjemahkan ke dalam tanggung jawab intelektual dan etika publik. Intelektual Kristen dipanggil untuk: · Menjadi penjaga nalar publik
· Menyumbang gagasan kebijakan berbasis nilai · Mengkritisi ketidakadilan secara konstruktif Literatur teologi publik mutakhir menegaskan bahwa iman Kristen di ruang publik harus hadir sebagai kekuatan moral yang dialogis, bukan hegemonik.

V. Sintesis Teologis Yunus 3:1–10 dalam Konteks Tanah Papua

  1. Yunus 3:1–10 sebagai Narasi Pertobatan Kolektif

Yunus 3:1–10 menampilkan salah satu narasi paling kuat dalam Alkitab mengenai pertobatan kolektif sebagai jalan keselamatan historis. Kota Niniwe—sebuah entitas politik, ekonomi, dan budaya—mengalami pembaruan bukan karena kekuatan militernya, melainkan karena kesediaan seluruh struktur sosialnya untuk berubah. Mulai dari rakyat hingga raja, pertobatan dimaknai sebagai perubahan arah hidup (metanoia) yang konkret dan publik.
Teologi Perjanjian Lama kontemporer menegaskan bahwa teks ini menampilkan Allah yang responsif terhadap perubahan etis masyarakat, bukan Allah yang deterministik dan menghukum tanpa ruang anugerah. Dengan demikian, keselamatan dalam Yunus bersifat historis dan sosial, bukan hanya eskatologis.

  1. Pertobatan sebagai Transformasi Sosial, Bukan Sekadar Ritual

Penekanan Yunus 3:8 “masing-masing harus berbalik dari tingkah lakunya yang jahat dan dari kekerasan” menunjukkan bahwa pertobatan sejati diukur dari berakhirnya kekerasan dan ketidakadilan. Studi teologi biblika mutakhir menegaskan bahwa pertobatan dalam Alkitab selalu berimplikasi sosial dan politis, karena menyentuh relasi kuasa, ekonomi, dan kemanusiaan.
Dalam konteks Tanah Papua, Injil yang diberitakan sejak 1855 membawa pesan yang serupa:
bahwa iman yang sejati harus terwujud dalam kehidupan yang menghormati martabat manusia, menolak kekerasan, dan membangun damai. Oleh karena itu, Injil membuka tabir peradaban baru bukan melalui dominasi, melainkan melalui pembentukan etika hidup bersama.

  1. Relevansi Teologis bagi Papua Masa Kini

Memasuki usia 171 tahun Injil di Tanah Papua, pesan Yunus 3:1–10 menjadi semakin relevan. Papua hari ini tidak hanya membutuhkan pembangunan fisik, tetapi pertobatan struktural dan kultural, yakni: · Pertobatan dari kekerasan menuju dialog
· Pertobatan dari ketidakpercayaan menuju rekonsiliasi
· Pertobatan dari eksklusivisme menuju solidaritas kebangsaan Teologi pascakolonial menegaskan bahwa Injil di wilayah seperti Papua harus terus dibaca secara kontekstual, sebagai sumber daya moral untuk keadilan, perdamaian, dan pembebasan, bukan alat legitimasi kekuasaan.

VI. Kesimpulan

Perjalanan 171 tahun pekabaran Injil di Tanah Papua (1855–2026) merupakan perjalanan sejarah yang sarat makna peradaban. Injil telah membuka tabir peradaban baru dengan menghadirkan:

  1. Transformasi nilai sosial dan budaya 2. Pendidikan dan literasi sebagai alat pembebasan
  2. Pelayanan kesehatan dan diakonia sosial
  3. Etika publik yang menekankan martabat manusia dan perdamaian Melalui tema “Pertobatan Mendatangkan Keselamatan” (Yunus 3:1–10), makalah ini menegaskan bahwa keselamatan bukanlah konsep abstrak, melainkan realitas historis yang terwujud ketika masyarakat bersedia berubah secara personal, kolektif, dan struktural.

Bagi Tanah Papua—khususnya Papua Barat Daya—Injil adalah warisan spiritual, kultural, dan moral yang harus terus dihidupi secara kritis dan kontekstual dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

VII. Rekomendasi

  1. Rekomendasi Kebijakan

a. Mengintegrasikan narasi sejarah Injil dan nilai perdamaian dalam
program pendidikan kebangsaan dan moderasi sosial.
b. Memperkuat peran tokoh agama dan gereja sebagai mitra strategis pencegahan konflik dan radikalisme.
c. Mengembangkan kebijakan politik identitas yang berbasis keadilan, dialog, dan penghormatan martabat manusia.

  1. Rekomendasi Intelektual dan Gerejawi

a. Mendorong kajian akademik dan publikasi ilmiah tentang Injil, Papua,
dan pembangunan perdamaian.
b. Menguatkan peran intelektual Kristen sebagai penjaga etika publik
dan nalar kebangsaan.
c. Mengembangkan teologi kontekstual Papua yang relevan dengan tantangan sosial, politik, dan ekologis masa kini.

Penulis saat ini menjabat sebagai Kepala Kesbangpol Papua Barat Daya dan Ketua Persatuan Intelegensia Kristen Indonesia (PIKI) Papua Barat Daya

height="600"/>

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

IMG-20260207-WA0024