Example floating
Berita

Intelektual Aitinyo Eduard Sangkek Minta Penundaan Raperda Theofani A3: Jangan Paksakan Sebelum Keadilan Sejarah Terpenuhi

18
×

Intelektual Aitinyo Eduard Sangkek Minta Penundaan Raperda Theofani A3: Jangan Paksakan Sebelum Keadilan Sejarah Terpenuhi

Sebarkan artikel ini

Maybrat, Detikpapua.Net – Eduard Sangkek, S.H., Advokat sekaligus intelektual asal Aitinyo, mengeluarkan Surat Pandangan dan Pertimbangan bertajuk “Penundaan Raperda Theofani A3 sampai Keadilan Sejarah Terpenuhi”, yang ditujukan kepada Gubernur dan Wakil Gubernur Papua Barat Daya, MRP, DPRP, Sekda Provinsi, Bupati‑Wakil Bupati Maybrat, serta DPRD Kabupaten Maybrat.

Dalam dokumen yang dirilis pada Sabtu (24/10/2026) ini, ia menyampaikan keberatan mendalam atas apa yang ia sebut sebagai naskah akademik Raperda yang “berat sebelah” karena mengesampingkan peristiwa sejarah masuknya Injil pertama kali ke Bumi A3 melalui Aitinyo pada 17 Januari 1937.

Eduard menjelaskan bahwa menurut pandangannya, peristiwa masuknya Injil ke Aitinyo merupakan fondasi utama: tanpa kedatangan Injil tersebut, tidak akan ada nubuatan Theofani di Kayahai pada tahun 1951. Ia mengajukan pertanyaan kritis: “Apakah ada yang salah dengan sejarah ini? Apakah bukan di Aitinyo tetapi di tempat lain? Jika bukan di Aitinyo, di mana sebenarnya Injil pertama kali masuk ke Tanah A3?”

Menurutnya, sejarah ini bukan persoalan yang salah, melainkan persoalan yang dibiarkan berlarut‑larut akibat kepentingan kekuasaan di Kabupaten Maybrat, belum diselesaikan secara jujur dan adil.

“Masalah ini dibiarkan, sementara langkah baru sudah dipaksakan ke depan,” tegas Eduard dalam suratnya.

Ia memperingatkan bahwa apabila Raperda tetap dipaksakan berjalan tanpa menyelesaikan akar masalah sejarah terlebih dahulu, maka hal ini akan melukai rasa keadilan anak‑anak A3. Ia pun mengingatkan bahwa Tuhan melihat setiap niat dan perbuatan.

Sebagai usulan tegas, Eduard meminta agar proses Raperda Theofani A3 ditangguhkan terlebih dahulu. “pending dulu, selesaikan dulu” sebelum melanjutkan ke tahap berikutnya. Ia mengajak seluruh pihak untuk merenungkan bagaimana keadilan dan kebersamaan orang A3 seharusnya: “seperti satu keluarga, satu saudara, satu harapan; jangan sampai sejarah kita terpecah karena kepentingan hari ini.”

Dalam penutupnya, Eduard menyampaikan harapan agar seluruh penerima surat ini dapat mempertimbangkan pandangannya dengan hati terbuka dan takut akan Tuhan, serta diberi hikmat untuk berjalan dalam kebenaran sejarah dan keadilan bagi masyarakat A3 (Ayamaru‑Aitinyo‑Aifat).

height="600"/>

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

IMG-20261020-WA0031