KABUPATEN SORONG, DetikPapuaNet— Seorang siswa berusia 14 tahun berinisial AJN dilaporkan menjadi korban kekerasan yang diduga dilakukan oleh seorang frater berinisial GW di Seminari Petrus Van Diepen Sorong, Kabupaten Sorong. Informasi mengenai peristiwa tersebut disampaikan kepada wartawan DetikPapuaNet pada Kamis, (30/4/2026).

Menurut keterangan korban, kejadian berlangsung pada hari Minggu di lingkungan asrama seminari. Ia mengaku dipanggil oleh pelaku, kemudian dipaksa berlutut sebelum mengalami pemukulan berulang menggunakan kaki yang mengenai bagian tubuh, termasuk wajah.
Sebelum kejadian, korban bersama sejumlah rekannya diketahui pergi mencari ikan di area sekitar seminari pada malam Minggu. Mereka kemudian ditegur dan diberi sanksi untuk mencari akar tuba yang akan digunakan untuk memusnahkan ikan di parit sekitar lokasi. Namun, korban mengaku tidak menjalankan perintah tersebut.
Korban menyatakan bahwa tindakan kekerasan terjadi setelah ia kembali dari kegiatan akhir pekan.
“Saya sempat diinfus di klinik dan dirawat satu malam sebelum dipulangkan kembali ke seminari pada Selasa, (28/4/2026),” ujar korban.
Ia menambahkan, setelah kejadian tersebut dirinya sempat dilarikan ke Klinik SP 3 untuk mendapatkan penanganan medis dan menjalani rawat inap selama satu malam.
Pihak keluarga baru mengetahui kejadian tersebut pada Rabu sekitar pukul 10.00 WIT, setelah menerima pesan singkat dari nomor yang tidak dikenal.
Mengetahui hal itu, orang tua korban segera menghubungi pihak seminari dan mendatangi lokasi.
Menurut keterangan ibu korban, saat ia menghubungi salah satu frater di seminari, respons yang diterima justru mempertanyakan sumber informasi yang diperoleh.
“Mama tahu dari mana?” ujar Frater tersebut, seperti ditirukan ibu korban.
Setibanya di asrama, ibu korban mendapati anaknya berada di dalam kamar dan langsung menyampaikan protes.
“Saya tidak terima. Saya langsung protes di asrama, tetapi tidak ada pihak seminari yang datang menemui saya,” ujar ibu korban.
Ibu korban, Yulita Kinho, menilai terdapat indikasi kurangnya keterbukaan dari pihak seminari dalam menangani kasus tersebut.

“Saya melihat ada upaya dari pihak seminari untuk menutupi kasus ini. Saya sudah berkomunikasi dengan pihak sekolah, tetapi tidak mendapat respons. Saya sangat kecewa,” katanya.
Sementara itu, ayah korban, Bernadus NSO, menyampaikan keprihatinannya dan berharap kasus ini ditangani secara serius.

“Ini sangat miris. Sepertinya ada tekanan agar anak-anak tidak berani menyampaikan kejadian kepada keluarga,” ujarnya.
Pihak keluarga menolak penyelesaian secara internal dan meminta agar kasus ini diproses secara hukum.
Mereka juga mendesak agar oknum frater yang terlibat diberhentikan dari jabatannya serta dilakukan evaluasi terhadap sistem pembinaan di lingkungan seminari.
Hingga berita ini diturunkan, pihak pengelola Seminari Petrus Van Diepen Sorong belum memberikan keterangan resmi terkait peristiwa tersebut.













