Denpasar, Detikpapua.Net – Dalam kegiatan Capacity Building Penguatan Ekosistem Ekspor yang berlangsung di Kota Denpasar, Bali, Selasa (20/10/2026), Kepala Dinas Koperasi, UKM dan Perindag Provinsi Papua Barat Daya Dr. Sellvyana Sangkek, SE.,M.Si memaparkan kerangka strategis lengkap untuk memperkuat produktivitas, hilirisasi, dan daya saing ekspor Papua Barat Daya. Paparan tersebut mengangkat tema: “Penguatan Produktivitas, Hilirisasi, dan Daya Saing Ekspor Papua Barat Daya — Strategi Pengembangan Sorong sebagai Hub Perdagangan dan Ekspor Kawasan Timur Indonesia”.
Potensi Besar yang Belum Sepenuhnya Tergarap
Papua Barat Daya memiliki posisi geografis yang sangat strategis serta kekayaan sumber daya alam yang melimpah. Perekonomian daerah tumbuh sebesar 4,03% pada tahun 2025, dengan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) mencapai Rp39.219,64 miliar. Namun, pertumbuhan ini belum sepenuhnya diikuti oleh peningkatan nilai tambah ekonomi di tingkat lokal.
Salah satu contoh nyata yang disampaikan dalam paparan tersebut adalah sektor perikanan: hanya sekitar 1,2% hasil perikanan Papua Barat Daya yang diekspor langsung dari daerah, sedangkan sebagian besar lainnya dikirim dalam bentuk bahan baku ke wilayah lain di Indonesia. Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan antara besarnya potensi produksi dengan manfaat ekonomi yang diterima oleh masyarakat daerah.
Tantangan utama yang diuraikan meliputi: keterbatasan kapasitas pengolahan, pemenuhan standar mutu, kontinuitas pasokan, akses pasar ekspor, efisiensi logistik, serta keterlibatan pelaku usaha lokal dalam rantai nilai komoditas unggulan.
Produktivitas sebagai Kunci Utama
Dalam paparannya, Dr. Sellvyana menegaskan bahwa produktivitas bukan sekadar menghasilkan lebih banyak, tetapi menghasilkan dengan lebih efisien dan berkualitas. Faktor-faktor seperti kualitas infrastruktur, ketersediaan energi, keterampilan tenaga kerja, hingga kepastian pasar saling berkaitan dan menentukan daya saing produk daerah.
“Peningkatan produktivitas perlu dilaksanakan melalui intervensi terpadu yang menghubungkan infrastruktur, teknologi, keterampilan, tata kelola, dan efisiensi pasar,” ujarnya di hadapan peserta kegiatan yang berasal dari berbagai instansi terkait.
Hilirisasi: Mengolah di Daerah, Menciptakan Nilai Tambah
Salah satu poin penting yang disampaikan adalah pemahaman tentang hilirisasi. Menurut Dr. Sellvyana, hilirisasi tidak boleh dipahami semata-mata sebagai pembangunan pabrik, melainkan sebagai pembentukan rantai nilai yang utuh dan berkelanjutan — dari penyediaan bahan baku, pengumpulan, pengolahan, pemenuhan standar mutu, hingga pemasaran dan distribusi.
Tanpa pengolahan yang memadai di daerah, bahan baku dikirim keluar dan dikembalikan dalam bentuk produk jadi — di mana sebagian besar nilai tambah, kesempatan kerja, dan pengembangan keterampilan justru dinikmati di luar daerah.
Sorong sebagai Hub Perdagangan dan Ekspor Kawasan Timur Indonesia
Salah satu gagasan utama yang dipaparkan adalah penguatan posisi strategis Kota Sorong. Sorong bukan sekadar kota pelabuhan, melainkan berpotensi menjadi simpul perdagangan, distribusi, pengolahan, dan ekspor yang melayani seluruh wilayah Papua Barat Daya serta konektivitas dengan kawasan timur Indonesia dan pasar internasional.
Namun, posisi strategis ini perlu ditopang oleh ekosistem yang lengkap — ketersediaan komoditas berkualitas, industri pengolahan, infrastruktur logistik andal, layanan perdagangan yang efisien, serta jaringan kemitraan dengan pembeli.
Dalam konteks ini, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sorong di Arar, Kabupaten Sorong, dipandang memiliki peran penting. KEK ini dapat menjadi basis pengembangan industri, termasuk agroindustri dan logistik, selama dikelola berdasarkan kelayakan ekonomi nyata dan terhubung dengan pemasok lokal.
Kesiapan Ekspor Berbasis Pendampingan Bertahap
Dr. Sellvyana memaparkan kerangka kerja sistematis untuk meningkatkan kesiapan ekspor pelaku usaha, yang dilakukan dalam lima tahap berkesinambungan:
1. Pemetaan: mengidentifikasi produk dan pelaku usaha
2. Peningkatan Kapasitas: pendampingan teknis, standarisasi, kemasan, manajemen usaha
3. Pencocokan Pasar: mempertemukan pelaku usaha dengan eksportir dan calon pembeli
4. Fasilitasi Transaksi: koordinasi dokumen, kepabeanan, dan persyaratan teknis
5. Evaluasi dan Keberlanjutan: menilai dampak, hambatan, dan keberlanjutan hubungan dagang
UMKM, Koperasi, dan OAP: Pilar Utama Ekonomi Daerah
Paparan ini juga menekankan pentingnya memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi benar-benar dirasakan oleh masyarakat lokal. UMKM, koperasi, dan pelaku usaha Orang Asli Papua (OAP) harus menjadi bagian aktif dalam rantai nilai, bukan sekadar penerima program pemerintah.
Kebijakan afirmasi perlu diarahkan pada peningkatan akses sekaligus penguatan kemampuan bersaing — sehingga pelaku usaha lokal dapat memenuhi standar pasar, menjaga konsistensi produk, dan membangun kemitraan dagang yang sehat dan berkelanjutan.
Enam Rekomendasi Strategis
Di akhir paparan, Dr. Sellvyana menyampaikan enam rekomendasi kebijakan utama untuk memperkuat ekosistem ekspor Papua Barat Daya:
1️. Tetapkan Sorong sebagai Hub Perdagangan dan Ekspor sebagai agenda lintas sektor. Menyelaraskan pembangunan infrastruktur, industri, produksi, dan akses pasar dalam satu kerangka kerja terpadu.
2️. Susun peta jalan komoditas unggulan berbasis data. Penentuan prioritas berdasarkan pemetaan potensi yang akurat, bukan asumsi.
3️. Bangun program terpadu peningkatan kesiapan ekspor. Pendampingan berkelanjutan yang mengawal pelaku usaha dari produksi hingga transaksi pasar luar negeri.
4️. Perkuat hubungan industri dan pemasok lokal. Setiap investasi baru harus membuka ruang keterlibatan ekonomi masyarakat sekitar.
5️. Optimalkan KEK Sorong berdasarkan kelayakan ekonomi nyata. Fokus pada kegiatan yang beroperasi dan memberi manfaat langsung bagi daerah.
6️. Bangun sistem pemantauan dan evaluasi yang terukur. Mengukur keberhasilan berdasarkan data real: produktivitas, nilai tambah, ekspor, investasi, dan partisipasi usaha lokal.
“Keberhasilan pembangunan tidak cukup diukur dari besarnya sumber daya yang tersedia atau volume barang yang keluar dari daerah. Ukuran yang lebih penting adalah seberapa besar nilai tambah yang tercipta, seberapa banyak kesempatan kerja yang berkembang, dan seberapa luas masyarakat lokal memperoleh manfaat dari kegiatan tersebut,” tegas Dr. Sellvyana Sangkek.
Paparan strategis ini diharapkan menjadi landasan penting bagi Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya dalam menyusun kebijakan pembangunan ekonomi yang lebih terarah, terintegrasi, dan berdaya saing tinggi, dengan Sorong sebagai gerbang utama dan masyarakat Papua Barat Daya sebagai pemilik utama pembangunan di tanahnya sendiri.













