SORONG, DETIKPAPUA.NET — Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Sorong Santo Agustinus menegaskan komitmennya dalam membentuk kader mahasiswa yang berkarakter, berintegritas, dan memiliki kepedulian sosial terhadap persoalan masyarakat. Komitmen tersebut diwujudkan melalui kegiatan Masa Penerimaan Anggota Baru dan Masa Bimbingan (MPAB/MABIM) yang berlangsung selama lima hari dan ditutup di Aula Serbaguna Stasi Santo Yoseph Freinademetz Malasilen, kemudian dilanjutkan dengan kegiatan di Pantai Tanjung Kasuari, Kota Sorong, Papua Barat Daya, Sabtu (17/10/2026).

Selama lima hari pelaksanaan, para mahasiswa baru yang tergabung dalam PMKRI Cabang Sorong Santo Agustinus mendapatkan berbagai materi pembinaan yang disampaikan oleh sejumlah narasumber berkompeten. Materi-materi tersebut bertujuan memperluas wawasan, membentuk karakter, menanamkan nilai-nilai organisasi, serta mempersiapkan mahasiswa agar mampu berperan aktif dalam kehidupan sosial kemasyarakatan.
Ketua PMKRI Cabang Sorong Santo Agustinus, Marselius Nauw, menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah memberikan dukungan dan kontribusi dalam menyukseskan kegiatan tersebut. Menurutnya, keberhasilan pelaksanaan MPAB/MABIM tidak terlepas dari keterlibatan berbagai pihak yang memiliki perhatian terhadap proses pendidikan dan kaderisasi mahasiswa.

“Atas nama pimpinan cabang, kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dan mengulurkan tangan untuk memberikan kontribusi dalam kegiatan ini. Dukungan tersebut sangat berarti bagi proses pembinaan kader PMKRI,” ujar Marsel.
Ia menegaskan bahwa berakhirnya MPAB/MABIM bukan berarti proses pembinaan kader telah selesai. Sebaliknya, kegiatan tersebut merupakan tahap awal yang akan dilanjutkan dengan berbagai agenda pembinaan, baik formal maupun nonformal, seperti kajian, diskusi, dan pelatihan untuk meningkatkan pengetahuan serta kemampuan para kader.

Menurut Marsel, proses kaderisasi dilaksanakan berdasarkan silabus pembinaan dan peraturan organisasi. Para anggota diharapkan terus berkomitmen mengikuti setiap tahapan pembinaan agar dapat mengembangkan potensi diri, memperkuat mental, serta memahami tanggung jawab sebagai kader PMKRI.
“Pembinaan di PMKRI tidak berhenti sampai kegiatan MPAB/MABIM selesai. Masih ada proses lanjutan yang harus dijalani untuk mengembangkan pengetahuan, mengasah kemampuan, serta membentuk mental dan karakter kader agar siap menghadapi kehidupan sosial kemasyarakatan,” jelasnya.
Marsel juga menyoroti dinamika persoalan di Tanah Papua, termasuk deforestasi atau penggundulan hutan, perlindungan hak-hak masyarakat adat, penguatan ekonomi lokal, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Ia menilai persoalan tersebut perlu menjadi perhatian bersama, termasuk PMKRI, tokoh masyarakat, masyarakat adat, dan berbagai organisasi yang memperjuangkan kepentingan rakyat.

Menurutnya, PMKRI sebagai organisasi mahasiswa memiliki tanggung jawab moral untuk membangun kepekaan sosial kader sehingga mereka mampu memahami berbagai persoalan yang terjadi di tengah masyarakat dan mengambil bagian dalam memperjuangkan keadilan serta kesejahteraan.
Sementara itu, Senior PMKRI Cabang Sorong Santo Agustinus, Maximus Air, S.E., M.M., menegaskan bahwa MPAB/MABIM merupakan bagian dari tradisi kaderisasi organisasi yang dirancang untuk membekali mahasiswa dengan pengalaman berorganisasi, pembentukan karakter, dan keterampilan sosial yang tidak selalu diperoleh melalui pendidikan formal di perguruan tinggi.

“Ini baru awal. PMKRI adalah rumah pembentukan kader, tempat mahasiswa menimba pengalaman, membentuk diri, dan mempersiapkan masa depan. Karena itu, adik-adik jangan berhenti sampai di sini, tetapi teruslah memberikan diri untuk dibina melalui proses organisasi,” tegas Maximus.
Ia menjelaskan bahwa pengalaman berorganisasi menjadi bekal penting bagi mahasiswa untuk menghadapi kehidupan sosial setelah menyelesaikan pendidikan di kampus. Melalui PMKRI, para anggota diharapkan dapat belajar tentang kepemimpinan, tanggung jawab, kedisiplinan, solidaritas, dan pengabdian kepada masyarakat.
Maximus juga menekankan bahwa keberhasilan kaderisasi tidak semata-mata diukur dari jumlah anggota, tetapi dari kualitas kader yang dihasilkan. Menurutnya, organisasi harus mampu melahirkan pribadi-pribadi yang memiliki prinsip, karakter, integritas, dan kemampuan untuk memberikan kontribusi nyata bagi lingkungan sekitarnya.
“Di PMKRI, kami tidak hanya mengejar kuantitas atau jumlah anggota. Lima orang pun tetap akan kami didik. Kami ingin membentuk karakter, prinsip, dan pola pikir mereka agar kelak menjadi manusia yang berguna bagi Gereja, bangsa, negara, serta daerah masing-masing,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa para senior PMKRI dengan latar belakang dan disiplin ilmu yang beragam siap mendampingi anggota melalui proses pendidikan, berbagi pengalaman, serta pengembangan kapasitas diri. Karena itu, para mahasiswa baru diharapkan tetap aktif mengikuti proses pembinaan dan tidak menjadikan kegiatan MPAB/MABIM sebagai akhir dari keterlibatan mereka dalam organisasi.

Penutupan kegiatan yang dilanjutkan di Pantai Tanjung Kasuari menjadi bagian dari rangkaian akhir MPAB/MABIM selama lima hari. Melalui seluruh proses tersebut, PMKRI Cabang Sorong Santo Agustinus berharap para anggota baru dapat mengembangkan potensi diri, memperkuat persaudaraan, serta menumbuhkan semangat keberpihakan kepada masyarakat, terutama kelompok-kelompok yang mengalami ketidakadilan.
Dengan berakhirnya kegiatan tersebut, PMKRI Cabang Sorong Santo Agustinus berharap proses kaderisasi yang berkelanjutan dapat melahirkan mahasiswa yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepekaan sosial, keberanian menyuarakan kebenaran, dan komitmen untuk mengabdi kepada Gereja, bangsa, negara, serta masyarakat di Tanah Papua.












