Example floating
BeritaHome

Visi Dr. Sellvyana Sangkek: Sekda Sebagai Perekat, Penerjemah dan Penggerak

1
×

Visi Dr. Sellvyana Sangkek: Sekda Sebagai Perekat, Penerjemah dan Penggerak

Sebarkan artikel ini

Sorong, Detikpapua.Net – Sosok Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Papua Barat Daya diposisikan bukan sekadar pejabat administratif, melainkan sebagai mitra strategis Gubernur sekaligus perekat, penerjemah, dan penggerak pembangunan di tanah yang baru berstatus sebagai Daerah Otonom Baru ini.

Inilah kerangka kepemimpinan yang ditawarkan oleh Dr. Sellvyana Sangkek, S.E., M.Si., satu-satunya calon perempuan dalam seleksi terbuka jabatan Sekda Papua Barat Daya.

Dr. Sellvyana Sangkek, SE.,M.Si

Dr. Sellvyana saat ini menjabat sebagai Kepala Dinas Koperasi, Perindustrian, Perdagangan, dan Usaha Kecil Menengah Provinsi Papua Barat Daya, sekaligus merangkap sebagai Ketua Harian Dewan Kerajinan Nasional Daerah (DEKRANASDA) Papua Barat Daya.

Ia dikenal sebagai birokrat yang memiliki rekam jejak panjang dalam pengelolaan keuangan daerah dan pembangunan ekonomi masyarakat, khususnya pemberdayaan ekonomi Orang Asli Papua.

Berbekal latar belakang pendidikan di bidang manajemen dan ekonomi, ia dikenal memiliki pendekatan kepemimpinan yang menggabungkan ketegasan manajerial dengan kepekaan budaya yang mendalam. Kombinasi yang diyakini sangat dibutuhkan untuk memimpin birokrasi di daerah yang beragam ini.

Konsep kepemimpinan yang ditawarkannya memadukan 8 kompetensi yang terbagi ke dalam dua pilar utama:

Pilar Kompetensi Manajerial

  • Integritas & Pengambilan Keputusan Berani — Menolak intervensi politik dan memastikan pengelolaan anggaran berjalan bersih demi menjaga keuangan negara.
    ​
  • Kolaborasi dan Komunikasi 3 Arah — Membangun jembatan kemitraan antar-lembaga serta menyederhanakan bahasa regulasi agar mudah dipahami seluruh lapisan masyarakat.
    ​
  • Orientasi Hasil — Menargetkan penyerapan anggaran di atas 90% sekaligus mendorong pemberdayaan ekonomi UMKM Orang Asli Papua secara nyata.

Pilar Kompetensi Sosial Kultural

  • Penyelesaian Konflik Melalui Musyawarah Adat — Mengembalikan nilai-nilai kearifan lokal dalam menyelesaikan perselisihan, termasuk sengketa lahan, dengan pendekatan diskusi dan mufakat.
    ​
  • Empati dan Pelayanan Inklusif — Memastikan masyarakat di daerah pedalaman tetap terlayani dengan baik, bahkan tanpa akses teknologi, melalui pendekatan yang humanis dan langsung ke tengah masyarakat.

Dr. Sellvyana menegaskan, lebih dari sekadar menjalankan administrasi, sosok Sekda diharapkan menjalankan tiga fungsi utama:

  • Perekat: Menyatukan keberagaman suku, budaya, dan kepentingan di Papua Barat Daya
    ​
  • Penerjemah: Menerjemahkan visi dan kebijakan Gubernur ke dalam langkah-langkah operasional yang dipahami seluruh perangkat daerah
    ​
  • Penggerak: Memastikan roda pemerintahan berjalan efektif dan pembangunan berdampak langsung bagi kesejahteraan masyarakat, khususnya Orang Asli Papua.

Dalam gagasannya, Dr. Sellvyana menegaskan bahwa tantangan Papua Barat Daya bukan sekadar membangun gedung dan infrastruktur, melainkan membangun kebersamaan yang berakar pada kearifan lokal, dijalankan dengan integritas tinggi, dan menghasilkan kesejahteraan yang dirasakan secara merata.

“Sekda bukan sekadar administrator. Ia adalah jantung yang memompa visi pemerintahan ke seluruh pelosok daerah, dengan kepekaan budaya dan ketegasan manajemen,” demikian ungkapan Dr. Sellvyana Sangkek.

Penulis: Yohanes KossayEditor: Yohanes Sole
height="600"/>

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *