TIMIKA, DetikPapua.Net —Pemerintah Kabupaten Jayawijaya melalui Dinas Koperasi, UKM dan Tenaga Kerja memberikan pelatihan keterampilan menjahit kepada enam peserta asal Jayawijaya sebagai bagian dari program peningkatan kompetensi dan pemberdayaan Orang Asli Papua (OAP).
Pelatihan tersebut dibuka di Balai Latihan Kerja (BLK) Timika, Kabupaten Mimika, Sabtu (26/9/2026), dan dilaksanakan selama 17 hari kalender hingga 12 Oktober 2026. Kegiatan ini diselenggarakan bekerja sama dengan LPK Idaman Karya Mandiri Training Center Timika.

Kepala Dinas Koperasi, UKM dan Tenaga Kerja Kabupaten Jayawijaya, Liberius Mabel, S.Sos, mengatakan pelatihan tersebut merupakan langkah Pemerintah Kabupaten Jayawijaya untuk meningkatkan keterampilan pencari kerja, khususnya OAP, agar memiliki kemampuan yang dapat digunakan untuk membuka lapangan usaha secara mandiri.
Menurut Liberius, peserta tidak hanya diharapkan memahami teori, tetapi harus mampu menguasai praktik menjahit secara langsung.
“Setelah 17 hari, saya harap kalian bisa mengukur, memotong pola, mengoperasikan mesin jahit dengan benar, sampai menghasilkan satu sampai dua pakaian yang layak dipakai,” ujar Liberius dalam arahannya kepada peserta.
Ia mengatakan kebutuhan jasa jahit di Wamena dan wilayah Jayawijaya masih terbuka luas. Peluang tersebut antara lain pembuatan seragam sekolah, seragam kantor, pakaian adat hingga berbagai produk kerajinan berbahan tekstil.
Karena itu, Liberius mendorong enam peserta tidak kembali ke Jayawijaya sebagai pencari kerja, tetapi mampu menjadi pelaku usaha baru.
“Jangan pulang menganggur. Jangan hanya mencari kerja, tetapi buka lapangan kerja. Kalau belum mampu membeli mesin baru, bisa mulai dengan satu mesin jahit bekas dari rumah, menerima pesanan dari tetangga, saudara maupun keluarga,” katanya.
Ia juga berharap peserta yang telah mendapatkan pelatihan dapat menjadi pelatih kampung, dengan menularkan keterampilan yang diperoleh kepada masyarakat, khususnya mama-mama dan pemuda di kampung maupun distrik.
“Ilmu yang didapat di sini harus ditularkan ke mana-mana. Enam orang ini saya harapkan setelah pulang bisa menjadi pelatih di setiap kampung, sehingga keterampilan ini dapat membantu mengurangi angka pengangguran di Jayawijaya,” ujarnya.
Liberius juga berpesan agar peserta menjaga disiplin, fokus selama mengikuti pelatihan dan menghormati para instruktur dari LPK Idaman Karya Mandiri Training Center.
“Mesin jahit yang kalian gunakan selama 17 hari adalah salah satu kunci masa depan kalian. Menjahit membutuhkan kesabaran. Kalau hari ini polanya miring, besok harus diluruskan. Jangan malu untuk membongkar dan menjahit ulang sampai hasilnya benar,” pesannya.
Ia menargetkan enam bulan setelah pelatihan, para peserta sudah mulai memiliki usaha sendiri.
“Harapan terakhir saya, enam bulan lagi saya bertemu kalian bukan sebagai pencari kerja, tetapi sebagai pemilik usaha jahit yang sudah mempekerjakan orang lain,” tegasnya.
Liberius menambahkan, Dinas Koperasi, UKM dan Tenaga Kerja Kabupaten Jayawijaya siap memberikan pendampingan melalui bantuan peralatan maupun program Wirausaha Baru.
Sementara itu, Kepala Bidang Penempatan Tenaga Kerja Dinas Koperasi, UKM dan Tenaga Kerja Kabupaten Jayawijaya, Marthen H.A. Saroy, S.P, mengatakan pelatihan tersebut merupakan bentuk keberpihakan pemerintah daerah dalam membuka ruang bagi OAP Pegunungan untuk meningkatkan kompetensi dan memasuki dunia kerja.
Menurut Marthen, peserta diharapkan pulang ke Jayawijaya dengan membawa keterampilan khusus yang dapat dikembangkan menjadi usaha produktif.
“Kami memberikan ruang khusus kepada anak-anak Orang Asli Papua Pegunungan untuk mengikuti pelatihan ini, sehingga mereka kembali membawa skill yang bisa dikembangkan untuk membuka ruang usaha dan menjadi orang Papua yang sukses di masa mendatang,” katanya.
Marthen menilai antusiasme enam peserta sejak awal pelatihan menjadi modal penting untuk mengembangkan keterampilan menjahit dan tata busana.
Ia juga meminta peserta aktif bertanya kepada instruktur serta menggali pengetahuan selama pelatihan berlangsung.
“Jangan malu-malu bertanya. Galilah pengetahuan dan hal-hal yang belum diketahui selama pelaksanaan kegiatan, sehingga ketika kembali ke Kabupaten Jayawijaya, berbagai kendala yang dihadapi dapat diatasi dengan keterampilan yang sudah diperoleh,” ujarnya.
Marthen menjelaskan, program tersebut juga diarahkan agar peserta dapat memiliki akses lebih luas dalam dunia kerja, termasuk melalui sistem pelayanan ketenagakerjaan yang dikembangkan pemerintah pusat. Peserta diharapkan dapat memperoleh sertifikasi sesuai kompetensi sehingga memiliki pengakuan atas keterampilan yang dimiliki.
Pada kesempatan tersebut, Pemerintah Kabupaten Jayawijaya juga memberikan pesan kepada enam peserta agar menjaga nama baik daerah selama berada di Timika.
Para peserta diminta disiplin, mengikuti seluruh ketentuan pelatihan, menghormati instruktur, serta memanfaatkan 17 hari pelatihan secara maksimal.
“Kalian adalah duta Jayawijaya di Timika. Tunjukkan bahwa anak-anak Papua Pegunungan mampu mengikuti pelatihan dengan baik dan memiliki keterampilan yang dapat dibanggakan,” pesan Liberius.
Pelatihan ini diharapkan tidak berhenti pada peningkatan kemampuan individu, tetapi menjadi awal lahirnya pelaku usaha baru dari Jayawijaya yang mampu membuka lapangan pekerjaan sekaligus menularkan keterampilan kepada masyarakat lainnya.
Pemerintah Kabupaten Jayawijaya menegaskan komitmennya untuk terus mendampingi peserta melalui program pemberdayaan, bantuan peralatan dan pengembangan wirausaha agar keterampilan yang diperoleh selama pelatihan dapat diterapkan secara nyata setelah kembali ke Jayawijaya.












