Example floating
BeritaDaerahPapuaPapua SelatanPress ReleaseSosial & Budaya

Seruan Keras Paskah: Umat Minta Uskup Agung Merauke Bangkit dari “Kematian Nurani”

0
×

Seruan Keras Paskah: Umat Minta Uskup Agung Merauke Bangkit dari “Kematian Nurani”

Sebarkan artikel ini

Jayapura, DetikPapuaNet— Dalam semangat perayaan Paskah 2026, umat Katolik di Tanah Papua menyampaikan seruan reflektif sekaligus kritik pastoral kepada Uskup Agung Merauke agar lebih peka terhadap realitas kehidupan umat di tengah berbagai persoalan sosial yang terjadi, Minggu (5/4/2026).

Melalui pernyataan resmi yang disampaikan oleh Stenlhy Dambujai dan Chris Dogopia, yang tergabung dalam Suara Kaum Awam Katolik Regio Papua, umat diajak untuk memaknai Paskah sebagai momentum kebangkitan iman, nurani, dan tanggung jawab moral, khususnya dalam menyikapi kehadiran proyek strategis nasional (PSN) di Merauke.

IMG-20260404-WA0034

Dalam rilis tersebut, umat menilai bahwa dukungan terhadap PSN telah menimbulkan luka mendalam di tengah masyarakat lokal. Berbagai suara penolakan disebut belum mendapat perhatian yang layak, sehingga memunculkan krisis kepekaan pastoral yang dinilai berpotensi “mematikan mata rohani” dan suara hati nurani.

“Dalam terang iman Paskah, kami menyerukan kepada Uskup Agung Merauke untuk bangkit dari ‘kematian’, yakni dari situasi yang mematikan kepekaan nurani dan suara kenabian Gereja,” ujar Stenlhy Dambujai dan Chris Dogopia dalam pernyataan bersama.

Umat juga mengingatkan bahwa program tersebut berpotensi membawa berbagai dampak serius, mulai dari ancaman kemiskinan, marginalisasi, eksploitasi, hingga kerusakan ekologis yang dapat berujung pada hilangnya sumber kehidupan masyarakat lokal.

Sebagai bentuk seruan moral, umat menyampaikan tiga poin penting. Pertama, bangkit dari sikap yang mengabaikan jeritan umat. Kedua, bangkit dari kompromi terhadap kekuasaan dan kepentingan ekonomi. Ketiga, bangkit menuju semangat kegembalaan yang berpihak pada martabat manusia dan keadilan sosial.

Selain itu, umat Katolik Papua juga menyoroti pentingnya kepemimpinan Gereja yang kontekstual dan berakar pada realitas lokal. Mereka menyampaikan harapan agar Keuskupan Agung Merauke ke depan dapat dipimpin oleh putra asli Papua yang dinilai lebih memahami dinamika pastoral umat setempat.

Tahun ini, misi Katolik di Tanah Papua genap berusia 132 tahun. Momentum ini dinilai sebagai saat yang tepat untuk memperkuat jati diri Gereja lokal yang semakin berakar di Tanah Papua serta mampu menjawab tantangan zaman secara kontekstual.

“Gereja dipanggil untuk berdiri bersama umat, mendengarkan suara mereka, dan menjadi tanda harapan di tengah pergulatan hidup masyarakat,” lanjut pernyataan tersebut.

Pernyataan ini ditutup dengan penegasan bahwa seruan tersebut merupakan bagian dari tanggung jawab iman serta wujud cinta umat kepada Gereja dan Tanah Papua.

Penulis: Yohanes KossayEditor: Yohanes Sole
height="600"/>

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *