Oleh: Yohanes Kossay
SORONG, PBD—Perjalanan Salib Indonesian Youth Day (IYD) di Tanah Papua seharusnya menjadi momentum rohani yang kuat bagi Orang Muda Katolik untuk merenungkan penderitaan Kristus sekaligus penderitaan manusia di sekitarnya. Namun dalam kenyataannya, makna spiritual yang mendalam dari perjalanan salib itu sering kali tereduksi menjadi sekadar seremoni keagamaan. Banyak orang muda hadir sebagai peserta kegiatan, tetapi belum sungguh-sungguh hadir sebagai pelaku perubahan.
Perjalanan salib bukan hanya simbol berjalan mengikuti Yesus yang memanggul salib menuju Golgota. Ia adalah panggilan untuk berani memanggul salib kehidupan nyata: ketidakadilan, kemiskinan, kerusakan alam, serta berbagai persoalan sosial yang melilit masyarakat Papua. Ketika perjalanan salib hanya dimaknai sebagai ritual tanpa refleksi sosial, maka iman berhenti pada simbol, bukan tindakan.
Orang Muda Katolik di Papua memiliki potensi besar untuk menjadi agen perubahan. Mereka hidup di tengah realitas sosial yang kompleks: konflik kepentingan atas tanah adat, ketimpangan pembangunan, serta persoalan pendidikan dan kesehatan. Namun sayangnya, banyak orang muda masih berada dalam zona nyaman kegiatan seremonial gereja, tanpa keberanian untuk terlibat secara kritis dalam realitas sosial tersebut.
IYD seharusnya menjadi ruang pembentukan kesadaran kritis bagi orang muda. Perjalanan salib yang dijalani bukan hanya mengingat penderitaan Yesus dua ribu tahun lalu, tetapi juga mengajak untuk melihat “salib-salib” yang dipanggul masyarakat Papua hari ini. Tanpa kesadaran itu, perjalanan salib hanya menjadi prosesi simbolik yang indah tetapi kosong makna.
Banyak situasi di Tanah Papua yang seharusnya disikapi secara serius oleh Orang Muda Katolik sebagai tulang punggung Gereja. Persoalan Proyek Strategis Nasional (PSN) di Merauke, konflik di Kisor Aifat, konflik kemanusiaan di Intan Jaya, hingga ketegangan yang terus terjadi di Pegunungan Bintang—yang notabene merupakan wilayah misi Katolik—menjadi tanda nyata bahwa “salib” itu ada di depan mata. Namun pertanyaannya, sejauh mana orang muda hadir dan bersuara atas realitas tersebut?
Lebih dari itu, Orang Muda Katolik juga harus mengambil peran sebagai benteng terakhir perlindungan ekologi Tanah Papua. Hutan, sungai, dan tanah adat bukan sekadar sumber daya, melainkan bagian dari kehidupan yang tidak terpisahkan dari identitas orang Papua. Ketika eksploitasi alam semakin masif, orang muda dipanggil untuk berdiri di garis depan menjaga ciptaan, merawat rumah bersama, dan menolak segala bentuk perusakan lingkungan yang mengancam masa depan generasi berikutnya.
Kenyataan ini menantang Gereja untuk mengevaluasi pendekatan pastoral terhadap orang muda. Kegiatan rohani yang diselenggarakan tidak boleh berhenti pada kemeriahan acara atau banyaknya peserta. Gereja harus berani membangun ruang refleksi yang menantang orang muda untuk berpikir kritis, berdialog dengan realitas, dan mengambil peran nyata dalam kehidupan masyarakat.
Perjalanan salib seharusnya menumbuhkan keberanian moral. Yesus tidak berjalan menuju salib dalam kenyamanan; Ia berjalan dalam penderitaan, penolakan, dan ketidakadilan. Maka mengikuti perjalanan salib berarti juga siap keluar dari kenyamanan pribadi dan menghadapi realitas pahit yang dialami banyak orang di sekitar kita.
Orang Muda Katolik di Papua perlu bertanya secara jujur: setelah mengikuti perjalanan salib IYD, perubahan apa yang terjadi dalam diri kita? Apakah kita menjadi lebih peduli terhadap nasib masyarakat adat, lingkungan hidup, dan masa depan generasi muda Papua? Ataukah semua pengalaman itu hanya berhenti sebagai kenangan kegiatan gereja semata?
Jika perjalanan salib dimaknai secara mendalam, ia seharusnya melahirkan generasi muda yang peka terhadap penderitaan sesama. Orang muda tidak lagi sekadar menjadi peserta kegiatan gereja, tetapi menjadi suara kenabian yang berani berbicara tentang kebenaran, keadilan, dan kelestarian ciptaan.
Papua hari ini membutuhkan orang muda yang berani keluar dari zona nyaman. Gereja tidak hanya membutuhkan orang muda yang aktif dalam paduan suara, liturgi, atau kepanitiaan kegiatan, tetapi juga orang muda yang memiliki keberanian moral untuk membela kehidupan, menjaga tanah adat, melindungi ekologi, dan memperjuangkan masa depan masyarakatnya.
Akhirnya, perjalanan salib IYD akan benar-benar bermakna jika ia tidak berhenti di jalan prosesi, tetapi berlanjut dalam kehidupan sehari-hari. Salib yang dipanggul dalam simbol harus berubah menjadi tanggung jawab nyata. Dari sanalah lahir orang muda Katolik yang tidak hanya beriman dalam doa, tetapi juga beriman dalam perjuangan hidup.
Penulis: Domba yang hendak mencari Gembala Sejati
















