Example floating
BeritaHomeLingkunganPapua PegununganPendidikanPress ReleaseSosial & Budaya

Penutupan Festival Sekolah Adat Hugulama: Advokasi Pendidikan Adat

53
×

Penutupan Festival Sekolah Adat Hugulama: Advokasi Pendidikan Adat

Sebarkan artikel ini

WAMENA, DetikPapuaNet—Festival Sekolah Adat Hugulama Ke-I Tahun 2026 akan resmi ditutup pada Sabtu, 31 Januari 2026, bertempat di Kampung Yogonima, Distrik Itlay Hisage, Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua Pegunungan. Penutupan ini menandai berakhirnya rangkaian perayaan budaya sekaligus menegaskan Sekolah Adat Hugulama sebagai ruang advokasi pendidikan adat dan penguatan identitas masyarakat Hugula di tengah perubahan sosial dan budaya. Penutupan festival akan ditandai dengan ibadah atau misa bersama yang melibatkan masyarakat adat, gereja, dan pemerintah daerah. Wamena, (24/01/2026).

Foto bersama usai seminar dan lokakarya yang bertajuk Membangun Pagar Kehidupan Orang Hugula. Sabtu, (24/01/2026). Foto/Istimewah.

Festival Sekolah Adat Hugulama diposisikan sebagai ruang dialog damai dan refleksi kritis masyarakat adat Hugula dalam merawat jati diri, nilai spiritual, serta relasi dengan leluhur, alam semesta, dan sesama manusia. Di tengah dominasi sistem pendidikan formal yang kerap mengabaikan konteks lokal, sekolah adat hadir sebagai alternatif pendidikan berbasis kearifan lokal dan pengetahuan indigenous.

Rangkaian kegiatan festival meliputi misa atau ibadah, seminar dan lokakarya, Focus Group Discussion (FGD), pertunjukan seni dan budaya, musik dan tarian tradisional, cerita dan puisi rakyat, kerajinan tangan, serta pameran hasil bumi. Seluruh kegiatan ini menjadi wadah pertukaran gagasan lintas generasi antara pemuda, tetua adat, tokoh gereja, pemerintah kampung dan kabupaten, serta mitra pendukung lainnya.

Festival ini diinisiasi oleh Pengurus Sekolah Adat Hugulama dengan melibatkan sejumlah sekolah adat, antara lain Sekolah Adat Santo Yohanes Pembaptis I Yogonima, Sekolah Adat Santo Yohanes Pembaptis II Itlay Hisage, Sekolah Adat Sagesalo, Sekolah Adat Walelagama, Sekolah Adat Alep Meke Hanorasuok Sekan Dalam, dan Sekolah Adat Holal Yakuluok Sekan. Pelaksanaan kegiatan berlangsung melalui kerja sama dengan tokoh adat, gereja, pemerintah kampung dan daerah, serta elemen masyarakat lainnya.

Panitia berharap Festival Sekolah Adat Hugulama dapat menjadi agenda rutin tahunan sebagai ruang belajar bersama, dialog kritis, dan advokasi nilai-nilai kearifan lokal. Kegiatan ini juga diharapkan menjadi sarana pembentukan karakter dan penguatan identitas generasi penerus masyarakat Hugula.

Ketua Panitia Festival Sekolah Adat Hugulama Ke-I, Yeremias Hisage, mengapresiasi partisipasi seluruh keluarga besar Suku Hugula dalam menyukseskan festival tersebut. Ia berharap panitia musyawarah istimewa yang telah dilantik mampu mengembalikan marwah organisasi serta memilih pengurus baru yang berkomitmen menjalankan program Sekolah Adat Hugulama ke depan.

“Semangat yang terbangun selama festival ini harus terus dihidupkan dalam keluarga, honai adat, kampung, gereja, dan sekolah adat,” ujarnya.

Dengan berakhirnya festival ini, panitia menegaskan bahwa Sekolah Adat Hugulama merupakan masa depan orang Hugula karena berakar kuat pada jati diri masyarakat adat. Melalui sekolah adat, generasi penerus diharapkan mampu menjaga kesinambungan pengetahuan lokal, memperkuat eksistensi budaya, serta tetap merawat nilai-nilai pluralisme Indonesia di Lembah Hugulama.

height="600"/>

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *