Buka Festival Hutan Adat, Wabup Bodory: Hutan Adat Milik Masyarakat Adat dan Dikelola Seturut Kearifan Lokal
Sebarkan artikel ini
“Mari kita rawat hutan kita yang tersisa ini dengan baik. Kita harus pastikan hutan yang tersisa ini tetap lestari agar bisa memberi kehidupan buat kita dan generasi penerus kita kedepan” Yohan Bodory, S.Sos.,M.Tr.Ap
Teminabuan, Detikpapua.Net – Wakil Bupati Sorong Selatan, Yohan Bodory, S.Sos.,M.Tr.Ap secara resmi membuka Festival Hutan Adat Papua yang digelar Suku Afsya di Kampung Bariat, Distrik Konda, Kabupaten Sorong Selatan, Selasa (22/4/2025).
Kegiatan yang menggandeng Yayasan Pusaka Bentala Rakyat ini mengangkat tema “Planet Kita Kekuatan Kita, Akui Hak Kami dan Selamatkan Hutan Adat Papua”. Kegiatan berlangsung selama 2 hari pada 22-23 April 2025.
Wakil Bupati Sorong Selatan, Yohan Bodory, S.Sos.,M.Tr.Ap dijemput secara adat saat menghadiri pembukaan Festival Hutan Adat Papua yang digelar Suku Afsya di Kampung Bariat, Distrik Konda, Kabupaten Sorong Selatan, Selasa (22/4/2025). Foto/Yohanes Sole
Kepada awak media, Wabup Bodory menegaskan bahwa hutan merupakan intrumen penting dan vital dalam menjaga kelestarian ekosistem bumi. Hutan ibarat ibu yang dapat memberi makan, memberi hidup dan kedamaian bagi manusia.
Berkenaan dengan festival hutan adat tersebut, Wabup menegaskan bahwa sudah menjadi kesepahaman bersama bahwa hutan adat merupakan murni milik masyarakat adat dan dikelola seturut budaya dan kearifan lokal yang ada.
“Didalam Undang-undang pokok agraria, kemudian UU 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan, termasuk UU Otsus ada ruang penghormatan khusus kepada masyatakat adat, termasuk dalam pengelolaan hutan adat. Jadi, hutan adat itu murni milik masyarakat adat dan pengelolaannya pun demimikian sesuai dengan kearifan lokal masyarakat adat yang ada,” ujar Wabup Bodory.
Berangkat dari pemahaman tersebut, Kepala Suku Imekko Sorong Selatan ini menambahkan Pemerintah Kabupaten Sorong Selatan terus berkomitmen untuk memberikan ruang penghargaan kepada masyarakat adat.
Wilayah Sorong Selatan, lanjut dia kaya akan sumber daya alam (SDA) dan telah menjadi target pelaksanaan kegiatan investasi baik berskala kecil maupun besar. Menurutnya kegiatan investasi sangat penting tetapi bukan berarti mengabaikan hak masyarakat adat, karena tanah Papua, termasuk Sorong Selatan bukan tanah kosong.
“Semua tempat ada pemiliknya, kegiatan investasi boleh jalan tetapi harus melalui pertimbangan masyarakat adat. Jika kegiatan tersebut dirasa merugikan dan masyarakat adat menolak, maka kita tidak bisa paksakan, begitu pun sebaliknya jika masyarakat mendukung maka kita maju bersama,” sebut Wabup.
Lebih jauh Wabup menegaskan bahwa pelaksanaan Festival Hutan Adat tersebut, sangat bermanfaat dalam memberikan alarm sekaligus warning bagi masyarakat adat untuk sekuat mungkin menjaga hutan adatnya tetap lestari dan tidak tergerus oleh deruhnya roda modernisasi saat ini.
Ia berharap melalui kegiatan festival tersebut masyarakat adat semakin sadar akan pentingnya menjaga hutan adat sebagai sumber pemberi kehidupan bagi mereka, baik yang saat ini hidup maupun generasi-generasi selanjutnya.
“Mari kita rawat hutan kita yang tersisa ini dengan baik, jangan sampai ada pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab masuk dan merusak hutan adat kita. Kita harus pastikan hutan yang tersisa ini tetap lestari agar bisa memberi kehidupan buat kita dan generasi penerus kita kedepan,” ucap Wabup Bodory.
Diakhir penyampaiannya, Wabup mengajak seluruh masyarakat adat dari Suku Afsya, juga Distrik Konda bahkan Sorong Selatan secara keseluruhan agar tetap menjaga kekompakan, persaudaraaan dan silaturahmi, sehingga Sorong Selatan tetap aman dan nyaman bagi siapapun yang mendiaminya.
“Mari kita jaga kondusifitas daerah ini agar tetap aman dan damai, sehingga program-program pembangunan yang dicanangkan pemerintah bisa berjalan lancar, yang pada akhirnya semua demi kesejahteraan kita bersama,” ungkapnya sembari menyampaikan selamat dan profisiat atas terselenggaranya kegiatan festival tersebut.