Example floating
BeritaHome

Tak Harus Psikolog Klinis, Guru dan Relawan Bisa Jadi Garda Depan Pemulihan Mental Anak Korban Konflik Papua

7
×

Tak Harus Psikolog Klinis, Guru dan Relawan Bisa Jadi Garda Depan Pemulihan Mental Anak Korban Konflik Papua

Sebarkan artikel ini

Malang, Detikpapua.Net – Setiap kali konflik bersenjata pecah di Papua, perhatian publik umumnya tertuju pada korban fisik dan arus pengungsian. Padahal ada luka lain yang tidak terlihat, yaitu kesehatan mental anak-anak sekolah. Rasa takut, cemas, sulit tidur, mudah kaget, hingga hilangnya semangat belajar menjadi beban yang terus dibawa siswa, bahkan setelah mereka kembali ke kampung dan ruang kelas.

Persoalannya, tenaga psikolog klinis di wilayah terdampak konflik sangat terbatas, sementara kebutuhan pendampingan mendesak. Guru pun tidak luput dari dampak. Banyak di antara mereka harus meninggalkan tempat tugas karena takut, lalu kembali mengajar di tengah rasa cemas yang sama dengan siswanya.

Dari kegelisahan itulah Dr. Tenia Kurniawati, S.Pd., M.Pd., M.Psi. merancang Modul Psikoedukasi Berbasis Trauma, sebuah pendekatan pemulihan kesehatan mental yang bisa dimulai dari sekolah oleh orang-orang terdekat anak. Tenia adalah penggiat pendidikan yang menaruh perhatian besar pada kesehatan mental guru dan siswa di wilayah berdampak konflik Papua.

Ia meraih gelar magister dan doktor di bidang Teknologi Pembelajaran dari Universitas Negeri Malang (UM). Modul ini lahir dari tesis magister keduanya di Program Studi Magister Psikologi Sains, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), yang diujikan pada Jumat (9/10/2026). Ujian tersebut turut menghadirkan penguji dari luar negeri, yakni Dr. Suzanna binti Awang Bono dari Universiti Sains Malaysia (USM).

Modul ini bertujuan memulihkan kesehatan mental siswa dengan memperkuat dua kemampuan kunci. Pertama, koping stres, yaitu kemampuan menghadapi tekanan dan rasa takut secara sehat. Kedua, resiliensi, yaitu kemampuan bangkit dari keterpurukan. Materinya disusun sesuai tahap perkembangan remaja usia SMP dan dikemas lewat beragam permainan edukasi kesehatan mental, sehingga siswa belajar memahami dirinya sambil bermain.

Yang membuat modul ini berbeda, pelaksananya tidak harus psikolog klinis. Guru bimbingan konseling, mahasiswa psikologi, relawan, hingga pendamping lokal dari unsur adat dan gereja dapat menjalankannya setelah mengikuti pembekalan singkat. Seluruh kegiatan berpegang pada prinsip trauma-informed care, yakni menjaga rasa aman, tidak memaksa anak menceritakan pengalaman pahitnya, dan menghormati budaya setempat. Bagi siswa yang menunjukkan tanda tekanan berat, modul menyediakan jalur rujukan ke tenaga profesional.

Modul ini telah diuji coba di SMPN Bamusbama, Kabupaten Tambrauw, Papua Barat Daya. Akibat konflik, anak-anak di sekolah ini sempat tidak belajar selama tujuh bulan pada 2024 dan kembali tidak belajar dua bulan sejak Februari 2026. Setelah mengikuti program, kemampuan koping stres siswa peserta meningkat signifikan, dan skor resiliensi mereka naik lebih dari dua kali lipat dibanding sebelum program.

“Psikolog di daerah konflik sangat terbatas, sementara kebutuhannya mendesak. Kalau guru dan pendamping lokal dibekali, pemulihan bisa dimulai dari sekolah, dari orang-orang yang paling dekat dengan anak,” ujar Tenia.

Tenia berharap modul ini menjadi pijakan bagi pemerintah daerah yang wilayahnya terdampak konflik dalam menangani kesehatan mental warganya, terutama anak sekolah. Langkahnya dapat dimulai dengan melatih guru BK dan pendamping lokal sebagai fasilitator, menerapkan modul sebagai program percontohan di sekolah terdampak, serta membangun kerja sama Dinas Pendidikan dan Dinas Kesehatan untuk jalur rujukan.

Modul telah disusun lengkap dengan panduan fasilitator, lembar kerja siswa, dan instrumen evaluasi, sehingga mudah dicontoh dan diadopsi.
Baginya, pendidikan dan psikologi tidak bisa dipisahkan dalam memulihkan anak-anak Papua. “Anak tidak bisa belajar dengan baik kalau hatinya belum merasa aman. Di situlah pendidikan dan psikologi harus berjalan bersama,” pungkasnya.

Penulis: Press ReleaseEditor: Yohanes Sole
height="600"/>

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *