SORONG, DetikPapua.Net — Ketua Kelompok Khusus (Poksus) DPR Provinsi Papua Barat Daya, Franky Umpain, mendorong mahasiswa untuk mengambil peran lebih aktif dalam pembangunan ekonomi daerah, khususnya melalui pengembangan potensi ekonomi lokal serta kajian akademik yang dapat menjadi dasar dalam perumusan kebijakan pemerintah.
Hal tersebut disampaikan Franky Umpain saat menjadi narasumber dalam Basic Training Latihan Kader I (LK-I) Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Tarbiyah dan Komisariat Syariah Dakwah, yang berlangsung di Kampus IAIN Sorong, Rabu (23/9/2026).

Kegiatan Basic Training LK-I tersebut berlangsung selama delapan hari, mulai 20 hingga 27 September 2026, dengan mengusung tema “Terbinanya Kepribadian Muslim yang Berkualitas Akademis, Sadar akan Fungsi dan Perannya sebagai Kader Umat dan Kader Bangsa.”
Dalam pemaparannya, Franky mengatakan mahasiswa memiliki ruang strategis untuk berkontribusi dalam pembangunan daerah karena memiliki kapasitas intelektual dan kemampuan melakukan kajian terhadap berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.
Menurutnya, mahasiswa tidak cukup hanya menyampaikan kritik, tetapi juga perlu menghadirkan data dan kajian yang dapat menjadi bahan bagi pemerintah daerah dalam merumuskan kebijakan pembangunan ekonomi kerakyatan.

“Peran mahasiswa harus lebih aktif, terutama melihat potensi daerah dan ditunjang dengan keilmuan yang ada. Mahasiswa bisa berkontribusi langsung melalui studi-studi yang bermitra dengan pemerintah daerah,” ujar Franky.
Ia mengatakan salah satu persoalan dalam pengembangan ekonomi di Papua Barat Daya adalah bagaimana potensi ekonomi lokal dapat dikembangkan secara berkelanjutan. Karena itu, pemerintah daerah perlu memiliki komitmen untuk mengembangkan potensi tersebut sekaligus membangun pasar bagi produk masyarakat.
Franky mencontohkan pengembangan usaha keripik keladi. Menurutnya, apabila petani keladi, kelompok pengolah hingga pasar dapat dihubungkan dalam satu rantai ekonomi, maka produk lokal dapat menciptakan perputaran ekonomi yang berkelanjutan.
“Ketika satu sektor bisa dikelola dengan baik, ada petani, ada kelompok pengolah dan ada pasar. Persoalannya ketika pasar terputus, kelompok usaha tidak bisa berkesinambungan. Bagaimana pemerintah bisa menjadi salah satu pasar utama bagi produk masyarakat,” jelasnya.
Ia juga menekankan pentingnya pembangunan ekonomi kerakyatan berbasis data dan kajian yang memadai. Menurutnya, berbagai program pemerintah dalam pengembangan sektor riil dan UMKM perlu dilakukan secara berkelanjutan sehingga hasilnya dapat diukur.
“Pembangunan ekonomi kerakyatan harus dimulai dengan data dan studi yang cukup agar kita mendapatkan formula yang tepat dalam melakukan pelayanan kepada masyarakat,” katanya.
Dalam diskusi tersebut, Franky turut mendorong mahasiswa untuk membangun pusat kajian maupun inkubator bisnis di tingkat lokal. Menurutnya, mahasiswa perlu melihat terlebih dahulu potensi pasar di daerah sebelum berpikir untuk membawa produk lokal ke pasar yang lebih luas.
Ia menilai organisasi mahasiswa, termasuk HMI, memiliki posisi strategis untuk melahirkan gagasan dan kajian yang dapat diterjemahkan menjadi rekomendasi kebijakan kepada pemerintah daerah.
Franky juga mengajak generasi senior untuk memberikan ruang kepada generasi muda agar dapat berkembang dan mengambil peran dalam pembangunan.
“Setiap generasi baru yang tumbuh harus kita berikan ruang untuk tumbuh, bukan menjadi pesaing kita. Mereka adalah regenerasi yang akan meneruskan apa yang kita perjuangkan dan belum selesai,” tegasnya.
Ia berharap mahasiswa HMI dapat memainkan peran kritis secara cerdas. Kritik, kata dia, perlu dibarengi data dan hasil temuan lapangan sehingga dapat menjadi dasar dalam mendorong kebijakan yang berpihak kepada masyarakat.
Sementara itu, Ketua Panitia LK-I HMI Komisariat Kampus IAIN Sorong, Fauzan Ongge, menyampaikan apresiasi kepada Franky Umpain yang telah hadir dan memberikan materi dalam kegiatan tersebut.

Fauzan berharap materi yang diberikan dapat menjadi motivasi bagi peserta untuk meningkatkan kapasitas kepemimpinan, intelektual, serta kepedulian terhadap pembangunan Papua.
“Semoga dengan kehadiran Bapak menjadi motivasi bagi peserta untuk dapat membangun Papua menjadi daerah yang maju,” kata Fauzan.
Ia mengatakan Basic Training LK-I menjadi ruang penting dalam proses pembentukan kader HMI yang diharapkan mampu memberikan kontribusi bagi bangsa, daerah, dan masyarakat Papua.












