Sorong, Detikpapua.Net – Kepala Suku Besar Maya Papua Barat Daya, Mhatius Samagita, menyatakan dukungan penuh terhadap Program Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) di Provinsi Papua Barat Daya.
Mhatius menilai program tersebut memiliki relevansi kuat dengan kehidupan masyarakat Suku Maya yang secara turun-temurun memiliki keterikatan dengan laut dan sumber daya pesisir.
“Masyarakat Suku Maya adalah masyarakat yang kehidupannya sangat bergantung pada laut. Karena itu, kami mendukung penuh hadirnya Kampung Nelayan Merah Putih. Program ini diharapkan dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat kami yang berada di wilayah pesisir Papua Barat Daya, khususnya masyarakat Suku Maya,” ujar Mhatius Samagita.
Menurutnya, pembangunan KNMP dapat menjadi salah satu sarana untuk memperkuat aktivitas ekonomi masyarakat pesisir, mulai dari kegiatan penangkapan ikan, penyimpanan hasil tangkapan, pengolahan, hingga pemasaran hasil perikanan.
Suku Maya Memiliki Persebaran Adat di Raja Ampat
Secara administratif, salah satu wilayah utama persebaran masyarakat Suku Maya berada di Kabupaten Raja Ampat. Peraturan Bupati Raja Ampat Nomor 20 Tahun 2022 mencatat Suku Maya dalam beberapa kelompok, antara lain Maya Ambel Worem dan Maya Klanafat. Maya Ambel Worem mencakup sub-suku Nock Ambel, Langganyan, Kawe, Umkai, dan Wawiyai, sedangkan Maya Klanafat mencakup Salwat, Fiat, Demu, Waili, Tepin, Apai, dan Butles.
Data yang diterbitkan Raja Ampat Geopark sebelumnya memperkirakan terdapat sekitar 5.000 orang Suku Maya di Raja Ampat, dengan hampir separuhnya berada di wilayah Misool. Angka tersebut merupakan data publikasi sebelumnya, sehingga tidak sebaiknya diperlakukan sebagai jumlah penduduk Suku Maya terkini pada 2026.
Persebaran Suku Maya juga terlihat di sejumlah kampung di Raja Ampat. Dokumen pemerintah daerah mencatat keberadaan kelompok Maya, antara lain di wilayah Kota Waisai, Teluk Mayalibit, dan sejumlah kampung lainnya.
KNMP Dinilai Sesuai dengan Karakter Masyarakat Pesisir
Mhatius mengatakan, karakter kehidupan masyarakat Maya yang dekat dengan laut menjadi alasan penting agar pembangunan KNMP memperhatikan kebutuhan masyarakat adat dan nelayan lokal.
Ia berharap fasilitas yang dibangun melalui program tersebut dapat membantu nelayan meningkatkan produktivitas sekaligus memberikan nilai tambah terhadap hasil tangkapan.
Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya sendiri telah mendorong percepatan pembangunan KNMP bersama pemerintah kabupaten/kota. Dalam rencana pelaksanaannya, fasilitas KNMP dapat mencakup tambatan perahu, pabrik es, coolbox, gudang beku, balai pelatihan nelayan, bantuan kapal dan mesin, bengkel nelayan serta fasilitas pendukung lainnya.
Sejumlah wilayah pesisir Papua Barat Daya juga telah masuk dalam proses verifikasi program, termasuk Kota Sorong, Kabupaten Sorong, Kabupaten Sorong Selatan, Kabupaten Tambrauw, dan Kabupaten Raja Ampat.
“Kami berharap Kampung Nelayan Merah Putih benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat pesisir. Masyarakat Suku Maya harus dapat menjadi bagian penting dalam pengembangan ekonomi kelautan di Papua Barat Daya, dengan tetap memperhatikan adat, budaya, dan keberlanjutan sumber daya laut,” tutur Mhatius.
Ia mengajak masyarakat pesisir untuk mendukung program-program pembangunan yang dapat meningkatkan kesejahteraan nelayan serta membuka peluang usaha baru bagi generasi muda masyarakat adat.
Dengan dukungan pemerintah, masyarakat adat, dan nelayan, KNMP diharapkan dapat menjadi salah satu wadah penguatan ekonomi berbasis potensi kelautan di Papua Barat Daya, khususnya di wilayah-wilayah yang menjadi ruang hidup masyarakat Suku Maya.












