Example floating
BeritaPapuaPapua SelatanSosial & Budaya

Soleman Itlay Bongkar ‘Klarifikasi’ Pastor Roy: Dinilai Menyesatkan dan Tutupi Realitas Papua

55
×

Soleman Itlay Bongkar ‘Klarifikasi’ Pastor Roy: Dinilai Menyesatkan dan Tutupi Realitas Papua

Sebarkan artikel ini

JAYAPURA, DetikPapuaNet— Polemik antara umat dan pihak Gereja Katolik di Papua kembali memanas. Soleman Itlay melayangkan respons keras terhadap surat “Klarifikasi Pastoral dan Rasionalitas Publik” yang ditulis Pastor Roy Sugianto, Pr., dengan menilai isi klarifikasi tersebut tidak hanya keliru, tetapi juga menyesatkan publik dan mengabaikan realitas Papua. Jumat, (10/4/2026).

Melalui surat berjudul “Respon Pastoral dan Koreksi Persaudaraan”, Soleman membantah secara sistematis argumen Pastor Roy, sekaligus mempertanyakan dasar pemikiran yang digunakan dalam merespons kritik terhadap Uskup Agung Merauke, Petrus Canisius Mandagi.

Surat ini ditulis oleh Soleman Itlay sebagai umat Katolik Papua dan ditujukan kepada Pastor Roy Sugianto, Pr., serta menyinggung peran Uskup Petrus Canisius Mandagi dalam polemik terkait proyek strategis nasional (PSN) di Merauke.

Tanggapan disampaikan pada Jumat, 10 April 2026, setelah Soleman menerima surat Pastor Roy pada pukul 12.51 WIT di hari yang sama. Pernyataan ini disampaikan dari Jayapura dan beredar luas di ruang publik.

Soleman menilai klarifikasi Pastor Roy tidak menjawab substansi kritik, melainkan mengaburkan persoalan melalui generalisasi dan narasi yang dianggap merendahkan pengalaman umat terdampak.

“Respon saudara adalah bentuk exaggeration—hasty generalization yang mendistorsi kebenaran,” tulis Soleman.

Dalam suratnya, Soleman menyampaikan sejumlah kritik utama:

Menilai Pastor Roy gagal memahami Papua sebagai satu kesatuan historis, sosial, dan pastoral.
Menyebut klarifikasi sebagai narasi yang tidak berpijak pada realitas umat terdampak PSN.
Menegaskan kritiknya ditujukan pada sikap publik Uskup, bukan manipulasi isu.
Mengkritik pendekatan pembangunan yang dinilai mengabaikan nilai kultural dan ekologis Papua.
Membela aksi umat di gereja sebagai bentuk koreksi persaudaraan yang damai.
Menegaskan aspirasi umat terkait kepemimpinan Gereja lokal bukan bentuk diskriminasi.

“Aksi itu bukan politisasi gereja, tetapi suara iman yang mengingatkan gembalanya,” tegasnya.

Di akhir surat, Soleman meminta klarifikasi langsung dari Petrus Canisius Mandagi, bukan melalui pihak lain, serta membuka ruang dialog dengan umat terdampak.

Penulis: Yohanes KossayEditor: Yohanes Sole
height="600"/>

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *