Example floating
IMG-20260325-WA0024
Berita

Delegasi Papua Wakili Indonesia Pada Program Global Coach Fellowship di Yunani: Angkat Isu Krisis Iklim dan Kesehatan Berbasis Komunitas Adat

7
×

Delegasi Papua Wakili Indonesia Pada Program Global Coach Fellowship di Yunani: Angkat Isu Krisis Iklim dan Kesehatan Berbasis Komunitas Adat

Sebarkan artikel ini

Sorong, Detikpapua.Net – Tiga perwakilan dari Indonesia akan berpartisipasi dalam Global COACH Fellowship 2026 yang diselenggarakan di Yunani pada 26 Maret – 5 April 2026 di Harvard Center for Hellenic Studies in Greece, Yunani. Sebagai salah satu Universitas terbaik di dunia, kampus ini memiliki 20 pusat kajian yang tersebar di 20 negara, salah satunya Hellenic center yang berada di kota Yunani.

Gambar Suasana Diskusi dan Dialog Lintas Negara dan Perwakilan Komunitas dari tiap Negara.

Program ini merupakan forum kepemimpinan global yang mempertemukan praktisi, peneliti, dan penggerak komunitas dari berbagai negara untuk memperkuat kapasitas dalam menghadapi dampak perubahan iklim terhadap ketahanan pangan, kesehatan Masyarakat dan keberlanjutan sumberdaya aalam

Program ini dikelola atas kerjasama Universitas Harvard, Harvard FXB Centre for Health and Human Rights, the Global Climate and Health Alliance, Health Care Without Harm, dan pembiayaan penuh didukung oleh Stanley Centre for Peace and Security . Sebagaimana pesan whatapp yang diterima oleh Awak Media ini.

Gambar Beberapa Peserta Global Coach Fellowship Program 2026 di Pusat Penelitian Helenic, Harvard University di Kota Nafilio, Yunani.

Dalam forum ini, delegasi Indonesia di wakili oleh Tim dari Tanah Papua membawa materi dan rancangan project yang terfokus pada keterkaitan antara ketahanan pangan, degradasi lingkungan, dan kondisi malnutrisi pada anak seperti Stunting, khususnya di wilayah yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap sumber daya alam seperti hutan di Provinsi Papua Barat Daya. Wilayah ini menjadi case study yang diangkat dalam melihat praktik-praktik pelestarian alam yang dianggap mampu dan mendukung pembangunan kesehatan masyarakat adat, ungkap Prof. Dr. Sepus M Fatem, M. Sc selaku akademisi UNIPA dalam kegiatan dimaksud.

Ditambahkan menurutnya bahwa, pendekatan yang diusung menekankan pentingnya perspektif komunitas, dengan mengangkat pengalaman langsung masyarakat, terutama ibu dan keluarga, dalam menghadapi perubahan lingkungan, dampak perubahan iklim, keterbatasan akses pangan, serta layanan Kesehatan dan pelestarian sumberdaya hutan.

Perubahan lingkungan yang terjadi di berbagai wilayah Indonesia, termasuk di Tanah Papua berdampak pada sistem penghidupan masyarakat, termasuk ketersediaan pangan dan stabilitas ekonomi rumah tangga. Dalam kondisi tersebut, kelompok rentan seperti ibu dan anak menjadi yang paling terdampak.

Berbagai studi menunjukkan bahwa faktor seperti usia ibu, tingkat pendidikan, status ekonomi, serta akses terhadap layanan kesehatan berperan dalam risiko stunting. Namun demikian, dalam konteks wilayah yang terdampak perubahan lingkungan, faktor-faktor tersebut semakin kompleks dan saling berkaitan dengan dinamika ekologi setempat, papar dr.Maria P. Kartika, M.Sc, salah satu anggota Tim dari Tanah Papua tersebut.

Melalui fellowship ini, delegasi Indonesia berupaya memperkuat pemahaman bahwa upaya penurunan stunting tidak dapat dilepaskan dari konteks lingkungan alam lokal, perubahan iklim dan ketahanan pangan dan energi.

Sebagaiman diketahui bahwa, Global COACH Fellowship diikuti oleh peserta dari berbagai negara dengan latar belakang multidisiplin. Proses seleksi dilakukan secara kompetitif, melalui penilaian terhadap relevansi isu, potensi dampak, serta keberlanjutan inisiatif yang diusulkan dan komitmen daerah terhadap sumberdaya alam.

Sejak awal seleksi di tahun 2025, total peserta yang terlibat sejak awal seleksi yakni 700 grup pendaftar yang terdiri dari 21.000 peserta dari 20 negara, dan dari tahapan seleksi tersebut, terpilih sembilan peserta dari sembilan negara, Papar dr Maria P Kartika yang juga alumni Harvard Medical School, Harvard University itu.

Gambar Tim Global Coach Fellowship 2026 Program dari Tanah Papua (drg. Rosaline Krimadi, MPH,SpPM, dr. Maria P Kartika, M.Sc dan Prof. Dr. Sepus M. Fatem, M.Sc) sebagai perwakilan Indonesia.

Salah satu yang berhasil lolos dalam seleksi ini yakni tim dari Indonesia yang dipimpin oleh Prof. Dr. Sepus M. Fatem, M,Sc (dari Fakultas Kehutanan-Universitas Papua sekaligus Tim Ahli Bupati Tambrauw), drg. Rosaline Krimadi, MPH.,SpPM (Pokja Papua Sehat pada BP3OKP Papua Barat Daya) dan dr. Maria P Kartika, MMSc (sebagai Manajer pada Pusat Pengembangan Inisiatif dan Strategis Kesehatan Indonesia), ujar dr Maria P Kartika.

Bagi saya kegiatan ini menjadi modal bagi keberlanjutan penerapan hasil penelitian thesis saya tentang penanganan stunting, perubahan iklim dan ketahanan pangan di Kabupaten Tambrauw, Papua Barat Daya tahun 2024 lalu. Saya sangat yakin bahwa kombinasi hasil studi bersama kegiatan Global Coach Fellowship 2026 yang dilaksanakan, sejak 28 Maret- 5 April 2026 di Kota Nafilio Yunani akan memperkuat jejaring para actor termasuk pemerintah ditingkat Kabupaten dan Provinsi dalam rangka mewujudkan Papua Sehat dan Papua Produktif, papar dr. Maria Kartika, MSc.

Partisipasi Indonesia dalam forum ini diharapkan dapat memperluas jejaring global sekaligus memperkaya pendekatan yang telah dikembangkan di tingkat lokal. Terdapat tiga Kabupaten di Provinsi Papua Barat Daya sebagai lokus kolaborasi Kerjasama yakni Kabupaten Tambrauw, Kabupaten Maybrat dan Kabupaten Sorong SSelatan

Pilihan 3 lokasi ini dengan mempertimbanhgkan karakteristik Masyarakat adat, dukungan pemerintah daerah, serta isu pembangunan yang cukup besar terutama perubahan iklim, kesehatan ibu dan anak, ketersediaan sistem pangan dan sistem konservasi sumberdaya alam, papar Guru Besar Fakultas Kehutanan UNIPA tersebut, ketika diwawancarai awak Media melalui telp sseluler

Menurutnya bahwa upaya pembangunan saat ini tidak bisa mengabaikan pendekatan berbasis komunitas, factor kearifaan local sebagai kekuatan modal sosial maupun potensi modal alam . Modal sosial menjadi pintu masuk dalam rangka pembangunan Masyarakat adat yang adil, iklusif dan berkelanjutan, pungkasnya.

Lebih lanjut salah satu tim yakni drg. Rosaline Krimadi, sebagai koordinator Pokja Papua Sehat di kantor BP3OKP/BPP Papua Barat Daya, mengatakan bahwa melalui kegiatan ini, kolaborasi lintas stakeholder akan memperkuat jejaring multipihak dalam rangka mendukung upaya-upaya pembangunan Kesehatan, khususnya upaya pemerintah dalam penurunan stunting termasuk isu Kesehatan ibu dan anak di provinsi Papua Barat Daya. Selain tentunya memperkuat peran Masyarakat sendiri dalam upaya kemandirian pangan keluarga untuk mencegah terjadinya malnutrisi.

Sebagaimana diketahui bahwa keikutsertaan Tim dari Tanah Papua dalam fellowship ini akan ditindaklanjuti melalui berbagai upaya, antara lain:
Pengembangan model intervensi berbasis komunitas dan suara masyarakat adat dalam mengintegrasikan aspek kesehatan, lingkungan, ketahanan pangan, dan konservasi alam.

Penguatan dialog dengan pemangku kepentingan di tingkat lokal komunitas dan pemerintah daerah serta nasional
Pemanfaatan jejaring global untuk mendukung riset, advokasi, dan implementasi program di di Tanah Papua dan Indonesia melalui partisipasi ini, diharapkan kontribusi dari Tanah Papua tidak hanya memperkaya diskursus global, tetapi juga menghasilkan pembelajaran yang relevan untuk memperkuat upaya peningkatan kesehatan masyarakat di dalam negeri, khususnya dalam menghadapi tantangan perubahan iklim, ungkap Prof Fatem, menutup wawancara awak Media ini.

height="600"/>

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *