Example floating
Berita

Fatayat NU Papua Barat Daya Gelar ToT Dai’yah, Ini Pesan Gubernur Elisa

148
×

Fatayat NU Papua Barat Daya Gelar ToT Dai’yah, Ini Pesan Gubernur Elisa

Sebarkan artikel ini

Sorong, Detikpapua.Net – Pengurus Wilayah (PW) Fatayat NU Provinsi Papua Barat Daya menggelar kegiatan Training of Trainer (ToT) Dai’yah yang dilaksanakan di Hotel Aimas Convention Centre (ACC), Kabupaten Sorong, Jumat (02/01/2026). Kegiatan tersebut dihadiri Gubernur Papua Barat Daya Elisa Kambu, S.Sos yang diwakili Kepala Badan Kesbangpol Dr. Sellvyana Sangkek, SE.,M.Si.

Kepala Badan Kesbangpol Dr. Sellvyana Sangkek, SE.,M.Si saat menyampaikan sambutan mewakili Gubernur Elisa Kambu, dalam kegiatan Training of Trainer (ToT) Dai’yah yang dilaksanakan oleh Pengurus Wilayah (PW) Fatayat NU Provinsi Papua Barat Daya di Hotel Aimas Convention Centre (ACC), Kabupaten Sorong, Jumat (02/01/2026). Foto/Yohanes Sole

Ketua Pimpinan Wilayah (PW) Fatayat NU Papua Barat Daya Siti Syamsiyah, S.Pd dalam sambutannya menjelaskan, Fatayat NU adalah wadah bagi perempuan muda yang memiliki tanggung jawab besar sebagai garda terdepan dalam menjaga paham Ahlussunnah wal Jama’ah An-Nahdliyyah. Ia lantas menyebut tantangan dakwah hari ini tidak lagi sama dengan sepuluh atau dua puluh tahun yang lalu. Saat ini, mimbar dakwah telah bergeser dari ruang-ruang fisik menuju ruang-ruang virtual.

IMG-20260112-WA0041

Oleh karena itu, tema ToT “Inovatif dan Moderat untuk Dakwah Berbasis Isu Perempuan dan Digitalisasi” bukanlah sekedar rangkaian kata. Ini adalah sebuah visi besar.

“Mengapa harus Inovatif? Dunia digital bergerak sangat cepat. Jika kita tidak kreatif dalam mengemas pesan agama, maka suara-suara yang membawa moderasi akan tenggelam oleh konten-konten yang justru memecah belah. Dai’yah Fatayat harus mampu mengolah konten dakwah yang menarik di media sosial, visual yang kekinian, namun tetap berisi kedalaman ilmu.
Mengapa harus Moderat? Papua Barat Daya adalah tanah yang dipengaruhi oleh keberagaman. Dimunculkannya peran Dai’yah Fatayat sebagai duta Wasathiyah (moderasi beragama) sangat dibutuhkan. Kita harus menjadi penyejuk, menjadi jembatan, dan memastikan bahwa dakwah kita adalah dakwah yang merangkul, bukan memukul; dakwah yang membina, bukan menghina” ujarnya.

Ia menjelaskan, fokus pihaknya kali ini sangat spesifik yakni Isu Perempuan. Pihaknya ingin Dai’yah mampu bicara lantang namun santun mengenai hak-hak perempuan, kesehatan reproduksi, pencegahan kekerasan terhadap perempuan, hingga ketahanan keluarga. Isu-isu ini adalah “ladang” dakwah yang nyata.

“ToT ini diselenggarakan agar sahabat-sahabat Fatayat NU tidak hanya menjadi pendakwah bagi diri sendiri, tetapi menjadi Trainer (Pelatih). Setelah dari sini, saya berharap Sahabat-sahabat mampu mengimplemntasikannya di daerah sehingga mampu melahirkan Dai’yah-Dai’yah baru di tingkatan cabang bahkan di seluruh pelosok Papua Barat Daya,” pungkasnya.

Sementara Kepala Badan Kesbangpol Dr. Sellvyana Sangkek, SE.,M.Si saat membacakan sambutan tertulis gubernur menyampaikan apresiasi kepada Fatayat Nahdlatul Ulama Papua Barat Daya yang
telah menggagas dan menyelenggarakan kegiatan tersebut. Menurutnya, Fatayat NU telah membuktikan diri sebagai organisasi perempuan yang tidak hanya aktif dalam kegiatan sosial keagamaan, tetapi juga konsisten melahirkan kader-
kader perempuan yang berilmu, berakhlak, serta memiliki kepedulian tinggi terhadap umat dan bangsa.

“Training of Trainer ini bukan sekadar forum pelatihan, tetapi merupakan proses kaderisasi kepemimpinan dakwah perempuan. Para peserta yang hadir di sini dipersiapkan untuk menjadi penggerak, pendidik, dan inspirator di tengah masyarakat. Seorang da’iyah hari ini dituntut tidak hanya mampu menyampaikan pesan keagamaan, tetapi juga memiliki kepekaan sosial, wawasan kebangsaan, serta kemampuan membangun harmoni di tengah keberagaman,” sebut Dr. Sellvyana.

Ia melanjutkan, Papua Barat Daya adalah daerah yang kaya akan budaya, adat istiadat, dan latar belakang masyarakat yang beragam. Oleh karena itu, dakwah yang dibutuhkan adalah dakwah yangmenyejukkan, merangkul, dan membangun persaudaraan, bukan dakwah yang memecah belah. Dakwah harus menjadi kekuatan moral yang menghadirkan kedamaian, toleransi, dan saling menghargai antar sesama anak bangsa.

“Peran perempuan, khususnya para da’iyah, sangat strategis dalam menjaga nilai-nilai tersebut. Perempuan adalah pendidik pertama dalam keluarga, pembentuk karakter generasi, serta penopang ketahanan sosial masyarakat. Ketika perempuan berdaya dan berilmu,
maka keluarga menjadi kuat, masyarakat menjadi sehat, dan daerah akan tumbuh secara berkelanjutan,” ungkapnya.

Ia berharap melalui Training of Trainer tersebut, lahir para da’iyah yang cerdas secara intelektual, matang secara spiritual, dan kuat secara sosial. Da’iyah yang mampu berdakwah dengan keteladanan, dengan tutur kata yang santun, serta dengan tindakan nyata yang memberi manfaat bagi masyarakat luas.

“Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya memandang penting sinergi dengan organisasi keagamaan dan perempuan seperti Fatayat NU. Pembangunan daerah
tidak hanya berfokus pada infrastruktur fisik, tetapi juga pada pembangunan manusia seutuhnya, yang beriman, berakhlak mulia, toleran, dan cinta tanah air. Oleh karena itu, kami mendukung penuh kegiatan-kegiatan yang memperkuat kualitas sumber daya manusia, khususnya perempuan dan generasi muda,” tutup Dr. Sellvyana Sangkek.

IMG-20260112-WA0042
height="600"/>

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

IMG-20260112-WA0006