Example floating
Home

Alam Kurang Bersahabat dengan Manusia Huwula di Lembah Baliem

179
×

Alam Kurang Bersahabat dengan Manusia Huwula di Lembah Baliem

Sebarkan artikel ini

Oleh: Paskalis Haluk (Menteri Hukum Dan HAM Universitas Papua)

Saya masih ingat dengan cerita rakyat tentang asal-usul Sungai Baliem (Palrima), yang diturunkan dari generasi ke generasi oleh para tetua kami. Cerita ini mengisahkan dua sahabat, Burung dan Ular—namanya sengaja tidak disebut demi menjaga rahasia leluhur—yang sepakat membentuk jalur sungai Baliem.

IMG-20260210-WA0021

Cerita pendek dimulai dengan ada seekor Burung dan Ular Di ujung Sungai kali Baliem. Mereka dua adalah sahabat yang akrab.

Suatu hari Burung dan Ular berencana Mau membentuk jalur sungai air Baliem.

Saat itu Burung dan Ular mulai bersiap-siap membentuk jalur air sungai Baliem.

Burung sampaikan ke ular, ular kamu yang lebih dulu berjalan karena gaya berjalan Kamu lambat dan berliku-liku untuk mencapai Muara.

Namun Saat itu juga ular menjawab ke burung, burung Kamu yang lebih dulu karena kamu yang lebih cepat untuk mencapai Muara.

Saat itu ular dan burung Sempat bertengkar untuk siapa yang lebih dulu membuat jalur air sungai Baliem ke muara.

Namun dengan nada keras, ular menyampaikan ke burung, burung Kamu yang lebih dulu agar kamu cepat tiba di Muara.

Dengan nada keras seperti itu, burung lansung mengambil jalan jalur air sungai Baliem lebih dulu sampai tiba di muara.

Setelah itu ular dari belakang dengan merayap melintasi membuat jalur air sungai Baliem dengan jalur jejaknya yang berliku-liku sampai tiba di Muara.

Sungai Baliem

Carita pendek inilah Ular dan burung membuat Sungai kali Baliem sampai hari ini dari jejak ular.

Berdasarkan cerita pendek diatas penulis akan sedikit membongkar kejahatan manusia Baliem terhadap Sungai Baliem setelah musibah bencana banjir.

Cerita pendek ini menjadi cermin bahwa sungai Baliem bukan sekadar aliran air. Ia adalah warisan sakral, jalur hidup yang dipercayai masyarakat Baliem sebagai berkat dari alam.

Sungai Baliem, Sumber Kehidupan yang Dikhianati

Sejak dahulu, masyarakat pinggiran kali Baliem menggunakan airnya untuk segala kebutuhan hidup—minum, memasak, mandi, bahkan pengobatan alami seperti malaria dan penyakit ringan lainnya. Keindahan pohon-pohon di sepanjang sungai menjaga tanah dari longsor, menyimpan air hujan dalam akar, dan menyatu dengan keseharian masyarakat.

Namun hari ini, sungai Baliem itu seolah menjadi lawan. Banjir yang melanda Kota Wamena sejak Februari hingga April 2025 membawa kehancuran besar.

Air sungai yang dahulu menghidupi kini menghanyutkan.

Penyebab Banjir Sungai Baliem
Survei dua hari oleh mahasiswa dari kota studi Manokwari dan Sorong mengungkap penyebab utama bencana ini. Letak geografis Wamena yang datar dan minim resapan memperparah situasi. Saluran air tersumbat oleh sampah dan kayu. Material dari Kali Uwe menumpuk di muara Baliem, menyempitkan aliran. Longsor dari wilayah Hepuba menambah beban, dan aliran dari anak-anak sungai seperti Kali Holima turut meluap.

Lebih dari itu, kejahatan manusia terhadap alam tidak bisa dipungkiri. Penebangan pohon liar di pinggiran sungai Baliem menyebabkan hilangnya penyangga alamiah dari longsor dan luapan air. Drainase rusak, tidak terurus, dan pembangunan sembarangan di jalur air menjadi pemicu utama banjir yang kini kerap terjadi.

Dampak Banjir Baliem

Mahasiswa yang turun langsung menyaksikan kerusakan parah: rumah-rumah tenggelam, bahkan ada yang terseret arus. Jalan rusak, fasilitas umum lumpuh. Kebun-kebun warga hancur—ubi, sayur-mayur, dan tanaman pangan hilang tak bersisa. Ratusan orang mengungsi ke lokasi yang lebih aman di dataran tinggi. Aktivitas sosial, termasuk acara keagamaan, tertunda atau batal.

Gerakan Mahasiswa: Solidaritas untuk Kemanusiaan

Mahasiswa dari kota studi Manokwari-Sorong tidak tinggal diam. Mereka membentuk “Solidaritas Peduli Kemanusiaan Bencana Banjir” dan membuka posko donasi. Bantuan berupa kebutuhan pokok disalurkan ke berbagai distrik terdampak seperti Wesaput, Musatfak, Wita-Waya, Kurulu, Siep Kosi Hubikiak, Maima dan Asotipo. Mereka juga terlibat langsung dalam distribusi bantuan dan pemantauan lapangan.

Solidaritas Mahasiswa Sorong-Manokwari untuk banjir kota Wamena saat penyaluran bantuan kemanusiaan. Foto/istimewah

Langkah kecil dari generasi muda ini menjadi pengingat bahwa bencana bukan hanya soal air yang meluap, tetapi juga soal tanggung jawab kita terhadap alam dan sesama.

Penutup

Cerita Burung dan Ular kini menjadi ironi. Sungai yang dibentuk dengan persahabatan kini terancam oleh ketamakan dan ketidaktahuan manusia. Jika sungai adalah berkat, maka menjaga dan merawatnya adalah bentuk syukur kita.

Penulis adalah anak dusun pinggir kali Baliem yang sehari-hari mandi, minum, dan masak makanan dari air sungai Baliem

Catatan:
Bila pembaca Ada saran masukan atau kritikan tulisan ini langsung hubungi (082199159090)

height="600"/>

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Biru-dan-Putih-Modern-Ucapan-Selamat-Menunaikan-Ibadah-Puasa-Instagram-Post-20260221-033120-0000