Penthabisan Uskup Timika, Jejak Karya Misionaris dan Loncatan Peradaban Iman Papua
Sebarkan artikel ini
Sorong, Detikpapua.Net – Momentum penthabisan Uskup Timika Mgr. Bernardus Bofitwos Baru, OSA, oleh Duta Besar Tahta Suci Vatikan untuk Indonesia (Nuncio Apostolik), Mgr Piero Pioppo, Rabu (14/05/2025) menjadi momen yang sangat sakral nan istimewah, sekaligus meninggalkan kesan mendalam bagi insan Katolik bahkan seluruh masyarakat di Tanah Papua.
Momen penthabisan tersebut tidak hanya diamini sebagai ritus sakral dalam tradisi gereja katolik, tetapi juga dipandang sebagai loncatan dalam perspektif peradaban iman, yang menjadi buah dari jejak-jejak karya misionaris di “Bumi Cenderawasih”.
Tentu buah manis yang saat ini dinikmati orang Papua, melalui kepercayaan yang diberikan Vatikan kepada Mgr. Bernardus Bofitwos Baru, bukan dipetik dari pohon yang baru ditanam kemarin sore, melainkan buah yang lahir dari kematangan iman, kekuatan moral dan basis pengetahuan mumpuni, sebagai hasil perjalanan panjang nan berliku dari karya misionaris khususnya yang telah ditanamkan oleh Ordo Santo Agustinus (OSA) di tanah Papua.
Gabriel Asem, SE.,M.Si
“OSA telah meletakan dasar iman dan pengetahuan, melalui karya kerasulannya (pendidikan) di tanah Papua terlebih khusus di wilayah Kepala Burung. Sekolah-sekolah dibangun dan dikelolah dengan sangat baik, sehingga telah menghasilkan buah yang begitu banyak. Banyak orang asli Papua yang menjadi pastor, biarawan biarawati dan guru agama, termasuk uskup yang hari ini dithabiskan juga bagian dari buah sulung karya OSA di Tanah Papua,” demikian Tokoh Katolik Papua Gabriel Asem, SE.,M.Si, saat dimintai tanggapannya terkait penthabisan Uskup Timika Mgr. Bernardus Bofitwos Baru, OSA, Rabu (14/05/2025).
Bupati Tambrauw (periode 2012-2017 dan 2017-2022) ini menyebut, jejak-jejak karya OSA di bidang pendidikan dan pewartaan sudah sangat mengakar dan berbuah nyata di tanah Papua, khususnya di wilayah Kepala Burung. Banyak sekolah-sekolah berpola asrama yang dibangun, termasuk satu diantaranya Seminari Petrus Van Diepen yang ada di Kabupaten Sorong. Sekolah yang telah mencetak ribuan generasi Papua berkualitas.
Kehadiran Uskup Bernardus Baru, dengan latar belakang OSA, tentu diharapkan bisa meneruskan karya OSA yang dikenal dengan semangat spiritualitasnya yang kontemplatif dan kehidupan komunal yang kuat, serta fokus pada pelayanan dan evangelisasi, juga menekankan pentingnya pendidikan dan pencarian kebenaran.
“Meski hanya beberapa kali bertemu, tetapi saya bisa menangkap kesan Bapak Uskup Bernardus orangnya sangat tenang, memiliki keteguhan hati dan selalu memberi perhatian lebih bagi kaum lemah dan termarginal. Saya berharap kehadiran beliau di Timika bisa meneruskan karya-karya misionaris termasuk semangat OSA dalam membangun peradaban melalui iman dan pendidikan,” harap Gabriel.
Luapan sukacita pada momentum penthabisan Uskup Timika tentu bukan tanpa sebab. Jika melihat kembali bagaimana perjalanan gereja katolik di tanah Papua, tentu ini bukan cerita yang singkat. Setengah abad lebih umat katolik Papua harus ada dalam pergumulan panjang, doa-doa terus dinaikan, keyakinan dan untaian harapan selalu terpatri bersama semesta dan leluhur, untuk satu niat mulia bahwa suatu saat orang Papua bisa menjadi pemimpin gereja, untuk menggembalakan kawanan domba tetapi juga untuk menjadi berkat bagi sesama.
Agustinus Tenau, S.Sos.,M.Si (kiri)
“Bukan sebuah kebetulan, bukan juga intervensi manusia, tetapi rancangan Tuhan yang begitu indah, begitu baik buat umat Katolik di seluruh Tanah Papua. Setengah abad lebih perjalanan gereja katolik di Papua tentu ada kerinduan bahwa orang Papua pun bisa menjadi uskup, dan harapan ini dibawah dalam doa, puasa, pergumulan umat sehingga hari ini Tuhan jawab, satu tahun lalu Uskup Jayapura dan hari ini Uskup Timika,” senada oleh Tokoh Muda Katolik Papua Agustinus Tenau, S.Sos.,M.Si.
Agustinus kembali menggarisbawahi bawasannya persoalan panggilan tidak pada poin orang Papua atau bukan, tetapi sudah melekat pada diri masing-masing pribadi sebagai orang Katolik, karena Tuhan tidak perna memperhitungkan warna kulit dan embel-embel apapun. Seremonial yang hari ini disukacitakan oleh umat Katolik Papua di Timika, bukan hanya sebagai ritualitas gerejawi, tetapi substansi ini ditunjukan untuk menghadirkan dukungan dari Tuhan, semesta dan para leluhur di Tanah Papua bahwa Tuhan yang kita cari bisa ditemukan melalui kehadiran para rohaniawan.
“Kedua, kami tokoh muda Katolik melihat ini sebagai lompatan besar dalam peradaban iman katolik bagi kami orang Papua, bahwa hari ini kami sudah memiliki begitu banyak biarawan biarawati, para pastor dan rohaniawan lainnya, termasuk Uskup Timika yang baru saja dithabis. Tentu ini sebagai kemajuan yang luar biasa yang bisa memberi spirit, motivasi dan dorongan kepada semua khalayak katolik di tanah Papua, bahwa bukan tidak mungkin diwaktu mendatang akan ada pastor, suster bahkan uskup asli Papua lainnya yang muncul,” sebut Agustinus.
Lebih jauh Agustinus menyebut, jika merunut pada tradisi ajaran gereja katolik, tentu jabatan sebagai uskup merupakan jabatan yang sangat langkah dan tidak muda didapat. Seseorang bisa menjadi Uskup tentu harus memiliki kematangan spiritual, kemampuan intelektualitas dan kedewasaan diri, tetapi terpenting harus sesuai tuntunan roh kudus, kemudian seturut dengan hirarki dan tradisi gereka katolik secara internal. Tidak ada kewajiban harus orang asli Papua, tidak pula berdasarkan warna kulit dan embel-embel apapun.
“Jadi kita meyakini bahwa ini adalah rencana baik Tuhan untuk segenap umat katolik di Papua, khususnya Timika. Untuk itu, saya atas nama pribadi sekaligus tokoh awam katolik di Tanah Papua khususnya Papua Barat Daya, menyampaikan profisiat kepada yang mulia Mgr. Bernardus Bofitwos Baru, OSA yang hari ini dithabiskan sebagai Uskup Keuskupan Timika. Semoga penthabisan ini dimaknai untuk menjadi gembala, oleh karena itu gembalakan domba-dombamu, gembalakan kawanan dombamu untuk menjadi berkat di Tanah Papua, Indonesia dan dunia,” tutup Agustinus.
Yohan Bodory, S.Sos.,M.Tr.Ap
Di tempat berbeda Wakil Bupati Sorong Selatan, Yohan Bodory, S.Sos.,M.Tr.Ap juga ikut menyampaikan profisiat dan sukacita bersama umat katolik atas penthabisan Uskup Timika, Mgr. Bernardus Bofitwos Baru, OSA. Meski bukan bagian dari umat katolik, namun Yohan merasa sebagai umat Tuhan, khususnya pengikut Kristus perlu untuk saling menguatkan, saling mendukung dan saling mengasihi sebagaimana ciri khas ajaran kristiani.
Yohan menyebut, pihaknya atas nama seluruh masyarakat Sorong Selatan termasuk umat katolik menyampaikan profisiat sekaligus rasa syukur atas rahmat Tuhan dan kepercayaan yang diberikan pimpinan tertinggi gereja katolik, kepada salah satu putra terbaik Papua dari wilayah kepala burung. Tentu, ini merupakan suatu kehormatan sekaligus kebanggaan bagi segenap masyarakat khususnya umat katolik di Papua Barat Daya, termasuk Sorong Selatan.
“Atas nama kepala suku Imekko dan dalam kapasitas sebagai Wakil Bupati Sorong Selatan, kami menyampaikan selamat dan profisiat kepada yang mulia Mgr. Bernardus Bofitwos Baru, OSA dan segenap umat katolik di tanah Papua, atas rahmat sukacita yang boleh kita rasakan dihari ini melalui momentum penthabisan uskup Timika. Teruslah menjadi berkat bagi sesama dan menjadi saksi kebesaran dan kemuliaan nama Tuhan di tanah tercinta Papua,” ucap Yohan Bodory.