MAYBRAT, DetikPapua.Net — Tahbisan tiga Diakon Ordo Santo Agustinus (OSA) menjadi imam di Tanah Papua, menjadi momentum bersejarah sekaligus pesta iman bagi umat Katolik di wilayah Kepala Burung Papua. Perayaan tahbisan tersebut berlangsung pada Jumat, (28/8/2026).
Ketiga imam baru tersebut adalah Pater Simon Welerubun, OSA., Pater Carlos Filipe Ximenes Belo Sedik, OSA., dan Pater Yakobus Bobby Arwalembun, OSA. Ketiganya sebelumnya menjalani masa pendidikan dan pembinaan sebagai calon imam sebelum menerima tahbisan imam.
Perayaan tahbisan tersebut dipimpin oleh Uskup Keuskupan Manokwari-Sorong, Mgr. Hilarion Datus Lega, Pr., dan dihadiri umat dari Paroki Santo Yosef Ayawasi, paroki-paroki tetangga, serta berbagai stasi di sekitarnya.
Tokoh Intelektual Muda Katolik Papua, Agustinus Tenau, S.Sos., M.Si., menilai tahbisan tiga imam baru tersebut merupakan buah dari perjalanan panjang karya Gereja dan pertumbuhan iman umat Katolik di wilayah pedalaman Papua.

“Sebagai intelektual di Maybrat, khususnya di wilayah Aifat Raya, pengukuhan tiga Diakon menjadi imam merupakan satu rasa syukur yang tak terhingga. Ini adalah buah karya dari perjalanan panjang umat Katolik di wilayah Kepala Burung, khususnya Ayawasi sebagai salah satu pusat karya Gereja dan misi Katolik tertua,” kata Agustinus.
Menurutnya, kemeriahan perayaan tahbisan tiga imam baru bukan sekadar seremoni keagamaan, tetapi menjadi pesta iman dan ungkapan syukur atas perjalanan panjang Gereja bersama umat di wilayah tersebut.
Ia mengatakan, pertumbuhan iman yang dibangun selama puluhan tahun oleh para misionaris kini mulai memperlihatkan buahnya. Jika pada masa lalu pelayanan Gereja banyak dilakukan oleh para misionaris dari luar Papua, kini anak-anak Papua mulai mengambil peran penting dalam kehidupan dan pelayanan Gereja.
“Kalau 50, 60 bahkan 70 tahun lalu kita mengenal para misionaris yang datang dari berbagai daerah dan negara, hari ini kita menyaksikan anak-anak kita sendiri dikukuhkan menjadi imam. Ini merupakan ungkapan syukur yang luar biasa bagi umat, terlebih bagi keluarga yang telah mempersembahkan anak-anak mereka untuk menjadi imam,” ujarnya.
Agustinus mengatakan, perkembangan Gereja di wilayah pedalaman Papua juga dapat dilihat dari perubahan fisik rumah-rumah ibadah serta semakin berkembangnya kehidupan iman umat.
Ia mengenang bagaimana gereja-gereja di wilayah tersebut dahulu dibangun secara sederhana, namun kini berkembang menjadi bangunan gereja yang megah dan menjadi pusat kehidupan umat.
“Dulu gereja kita masih sangat sederhana. Hari ini kita melihat gereja-gereja yang megah berdiri. Dulu kita dipimpin oleh imam-imam misionaris dari Belanda maupun negara lain. Sekarang kita boleh bangga karena anak-anak Papua sendiri sudah mengambil bagian untuk memimpin dan melayani umat,” katanya.
Bagi Agustinus, lahirnya tiga imam baru, Pater Simon Welerubun, OSA., Pater Carlos Filipe Ximenes Belo Sedik, OSA., dan Pater Yakobus Bobby Arwalembun, OSA., harus menjadi inspirasi bagi generasi muda Katolik lainnya.

Ia berharap ketiga imam baru tersebut dapat menjadi role model sekaligus menjadi perekat bagi tumbuhnya panggilan imam dan hidup bakti di Tanah Papua.
“Harapan kita, mereka menjadi contoh dan inspirasi sekaligus menjadi perekat panggilan bagi umat. Pertumbuhan iman umat semakin hari semakin meningkat. Karena itu, panggilan juga harus semakin tumbuh,” ungkapnya.
Agustinus juga mengajak keluarga-keluarga Katolik di Tanah Papua untuk tidak ragu mempersembahkan anak-anak mereka bagi pelayanan Gereja.
Menurutnya, kebutuhan tenaga pastoral, baik imam maupun biarawan dan biarawati, masih sangat besar, terutama untuk menjangkau umat di wilayah pedalaman.
“Dengan bertambahnya jumlah imam, ini bukan hanya menjadi panggilan bagi para imam, tetapi juga bagi para biarawati. Jangan hanya berharap orang dari luar. Kalau bisa, keluarga-keluarga di pusat paroki ini mempersembahkan anak-anaknya untuk menjadi pastor maupun suster,” ajaknya.
Ia mengakui bahwa panggilan hidup bakti di Tanah Papua telah tumbuh, namun masih membutuhkan penguatan dari sisi jumlah maupun kualitas.
Karena itu, ia mengajak umat untuk membangun budaya saling mendoakan, memberikan informasi mengenai panggilan, serta mendukung generasi muda yang sedang menjalani pendidikan dan pembinaan.
“Kita saling mendoakan, saling memberikan informasi dan saling memberi dukungan. Dengan begitu, panggilan ini dari hari ke hari semakin meningkat dan semakin subur,” katanya.
Menanggapi keberadaan para frater yang saat ini sedang menjalani pendidikan, Agustinus berharap mereka tidak hanya mempersiapkan diri untuk menerima tahbisan, tetapi juga memahami makna kehidupan imamat setelah ditahbiskan.
Ia mengutip pesan Uskup Manokwari-Sorong, Mgr. Hilarion Datus Lega, Pr., dalam homili tahbisan mengenai dua hal penting, yakni imam dan imamat.
“Imam itu mengikuti fase pendidikan, mulai dari titik nol sampai pada hari dikukuhkan. Tetapi fase kedua adalah bagaimana mereka menghayati, merefleksikan dan mengimplementasikan panggilan imam dalam kehidupan imamatnya,” jelas Agustinus.
Menurutnya, menjadi imam bukanlah titik akhir dari sebuah proses, melainkan awal dari perjalanan panjang untuk menghidupi panggilan di tengah berbagai dinamika kehidupan dan pelayanan umat.
Agustinus juga mengingatkan refleksi Santo Agustinus mengenai pencarian manusia akan ketenangan sejati di dalam Tuhan.
“Ini membutuhkan ketenangan. Seperti yang dikatakan Santo Agustinus, hati manusia belum tenang sebelum menemukan Tuhan. Ini harus menjadi motivasi dan way of life bagi setiap imam,” katanya.
Pesan tersebut, lanjutnya, juga relevan bagi para frater, aspiran dan novis yang sedang menjalani proses pendidikan dan pembinaan.
“Mereka yang saat ini sedang berada dalam proses pendidikan, di rumah retret maupun komunitas masing-masing, harus terus dikuatkan dan dimotivasi. Mereka sedang berjalan menuju panggilan sejati untuk menjadi imam ataupun biarawati,” ujarnya.
Agustinus menegaskan, kebutuhan akan imam dan biarawati di Tanah Papua sangat besar. Kehadiran mereka dibutuhkan untuk mendampingi umat, terutama di wilayah-wilayah pedalaman yang memiliki sejarah panjang dalam perkembangan Gereja Katolik.
Ia menyebut sejumlah wilayah seperti Paroki Santo Yosef Ayawasi, Paroki Santo Yosef Noppe di Tambrauw, Paroki Santo Andreas di Ejata, Suswa, serta Paroki Santo Andreas Teminabuan, maupun wilayah lainnya di Tanah Papua.
“Bukan hanya di sini. Ada Papua Tengah, Papua Selatan, Papua Pegunungan dan wilayah Papua lainnya. Semakin hari umat semakin merasakan manfaat kehadiran para imam, biarawan dan biarawati,” tuturnya.
Karena itu, ia mengajak seluruh umat Katolik untuk bersama-sama menjaga dan menyuburkan panggilan.
“Kami sebagai umat harus memberi dukungan kepada mereka yang memilih untuk memberikan diri, bekerja dan melayani sebagai imam atau biarawati di Tanah Papua, khususnya di wilayah Kepala Burung, Manokwari-Sorong, dan terutama di paroki-paroki pedalaman,” tegasnya.
Menurut Agustinus, semakin banyaknya anak Papua yang menjawab panggilan menjadi imam dan biarawati merupakan tanda bahwa karya Gereja terus bertumbuh.
“Semakin hari panggilan ini semakin subur. Itu pertanda bahwa Tuhan sedang memberikan berkat yang luar biasa kepada orang Papua,” pungkasnya.

















