Example floating
HUT-NKRI-81-2026
BeritaHomePapua BaratPapua Barat DayaSosial & Budaya

Tahbiskan Tiga Imam OSA di Ayawasi, Uskup Hilarion: Menjadi Imam Berbeda dengan Menghayati Imamat

23
×

Tahbiskan Tiga Imam OSA di Ayawasi, Uskup Hilarion: Menjadi Imam Berbeda dengan Menghayati Imamat

Sebarkan artikel ini

MAYBRAT, DetikPapua.Net — Uskup Keuskupan Manokwari-Sorong, Mgr. Hilarion Datus Lega, Pr., menahbiskan tiga Diakon Ordo Santo Agustinus (OSA) menjadi imam dalam Perayaan Ekaristi Tahbisan Imam di Gereja Katolik Paroki Santo Yosep Ayawasi, Jumat (28/8/2026).

Uskup Keuskupan Manokwari Sorong Mgr. Hilarion Datus Lega, Pr., Vikaris OSA Vikariat “Christus Tutus” Papua-Indonesia Pater Floridus Angelus Nadja, OSA dan Vikjen Keuskupan Manokwari Sorong Pastor Izaak Bame, Pr. Saat menumpangi tangan, mendoakan para Diakon yang hendak ditahbiskan. Jumat, (28/8/2026). Foto/Yohanes Kossay.

Tiga Diakon Agustinian yang menerima tahbisan imam tersebut yakni Diakon Simon Welerubun, OSA., Diakon Carlos Filipe Ximenes Belo Sedik, OSA., dan Diakon Yakobus Bobby Arwalembun, OSA.

1-20260801-232714-0000

Tahbisan ini menjadi momentum penuh sukacita dan syukur bagi keluarga besar Ordo Santo Agustinus, Keuskupan Manokwari-Sorong, keluarga para imam baru, serta umat Katolik yang hadir dalam perayaan tersebut.

Dalam homilinya, Uskup Hilarion mengajak ketiga imam baru untuk tidak berhenti pada status sebagai imam setelah menerima tahbisan. Menurutnya, tantangan yang lebih besar adalah bagaimana seorang imam mampu menghayati imamatnya secara sungguh-sungguh dalam kehidupan dan pelayanan setiap hari.

“Menjadi imam berbeda dengan menghayati imamat. Dalam bahasa Inggris kedua terminologi ini dibedakan: on becoming a priest berbeda dengan on being a priest,” kata Uskup Hilarion.

Ia menjelaskan bahwa proses menjadi imam memiliki tahapan yang jelas. Seorang calon imam menjalani masa aspirant, novisiat, pendidikan, orientasi pastoral, pembinaan karya, hingga akhirnya ditahbiskan sebagai diakon dan kemudian imam.

Namun, tahbisan bukanlah akhir dari perjalanan panggilan.

“Menjadi imam itu satu hal, tetapi menghayati imamat adalah hal lain yang sama sekali berbeda,” tegasnya.

Uskup Hilarion menekankan, menghayati imamat membutuhkan proses yang terus-menerus. Seorang imam harus senantiasa belajar, bertumbuh dalam iman, setia terhadap panggilan, serta mampu menghadirkan Kristus melalui pelayanan kepada umat.

Dalam homilinya, Uskup Hilarion juga mengangkat spiritualitas Santo Agustinus sebagai dasar refleksi bagi ketiga imam baru.

Ia mengutip ungkapan terkenal Santo Agustinus, “Hatiku gelisah sampai aku menemukan ketenangan dalam diri-Mu, ya Tuhan.”

Menurut Uskup, ungkapan tersebut menggambarkan perjalanan batin manusia dalam mencari Tuhan. Manusia sebagai makhluk rohani selalu memiliki kerinduan untuk menemukan kedamaian dan ketenangan sejati dalam Tuhan.

“Manusia adalah makhluk rohani yang terikat kepada Tuhan. Karena itu, pencarian akan Tuhan harus menjadi bagian dari perjalanan hidup kita,” ujarnya.

Uskup kemudian menghubungkan refleksi tersebut dengan moto yang dipilih oleh ketiga imam baru.

Kepada Yakobus Bobby Arwalembun, OSA, Uskup menyoroti semangat Kristus sebagai Gembala yang Baik yang menyerahkan nyawa-Nya bagi domba-domba-Nya.

Moto tersebut, menurutnya, mengandung panggilan untuk memberikan diri secara utuh bagi umat yang dilayani.

Sementara itu, kepada Carlos Filipe Ximenes Belo Sedik, OSA, Uskup mengangkat pesan tentang panggilan untuk menjadi anak-anak Allah dan pembawa damai.

Sedangkan kepada Simon Welerubun, OSA, Uskup mengangkat sabda Yesus dalam Injil Yohanes mengenai persahabatan dengan Tuhan.

“Kamu bukan lagi hamba, melainkan sahabat-Ku,” demikian inti pesan Injil yang menjadi refleksi bagi Simon.

Menurut Uskup Hilarion, menjadi sahabat Tuhan bukanlah sekadar sebuah sebutan. Persahabatan dengan Kristus harus diwujudkan melalui kesetiaan dan ketaatan terhadap perintah-Nya, terutama perintah untuk saling mengasihi.

Uskup Hilarion kemudian mengajak ketiga imam baru untuk belajar dari perjalanan hidup Santo Agustinus yang terus mencari dan menemukan Tuhan dalam perjalanan hidupnya.

Melalui Confessiones, Santo Agustinus memberikan kesaksian tentang perjalanan pencarian Tuhan hingga menemukan bahwa hati manusia hanya memperoleh ketenangan ketika kembali kepada Tuhan.

Setelah menemukan Tuhan, Agustinus tidak berhenti pada pengalaman pribadi. Ia kemudian mengabdikan hidupnya untuk mewartakan iman serta membangun kehidupan bersama berdasarkan spiritualitas dan Regula Santo Agustinus.

Karena itu, Uskup Hilarion menegaskan bahwa kehidupan seorang imam harus menjadi kesaksian iman yang nyata.

Ia juga mengajak ketiga imam baru untuk meneladani cara hidup jemaat perdana sebagaimana digambarkan dalam Kisah Para Rasul 2:42-47, yakni tekun dalam pengajaran para rasul, hidup dalam persekutuan, memecahkan roti, berdoa, serta saling berbagi.

“Orang-orang memberikan kesaksian dari penghayatan hidupnya untuk saling berbagi,” katanya.

Bagi Uskup Hilarion, semangat tersebut menjadi penting dalam kehidupan seorang imam. Imamat tidak boleh hanya dipahami sebagai jabatan atau status dalam Gereja, tetapi sebagai panggilan untuk memberikan diri bagi Tuhan dan umat.

“Menghayati imamat selalu membutuhkan dinamika dan proses yang terus-menerus,” ujarnya.

Tahbisan tiga imam OSA di Ayawasi ini sekaligus menjadi tanda syukur atas tumbuhnya panggilan imamat dan hidup membiara di tengah Gereja. Ketiga imam baru diharapkan mampu menjadi pelayan yang setia, rendah hati, penuh kasih, dan sungguh-sungguh menghadirkan Kristus di tengah umat.

Dengan tahbisan tersebut, Gereja melalui Ordo Santo Agustinus kembali menerima tiga pelayan baru yang dipanggil untuk mewartakan Injil, merayakan sakramen, mendampingi umat, serta melanjutkan karya pelayanan Gereja di tengah masyarakat.

Merah-dan-Putih-Modern-Selamat-Hari-Kemerdekaan-Republik-Indonesia-Banner-H-20260801-230602-0000
height="600"/>

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2-20260805-175449-0001