KOTA SORONG, DetikPapuaNet— Anggota DPR Papua Barat Daya, Wilem Asem, SE., memberikan klarifikasi terkait postingan akun Facebook Johanes Alua berjudul “TNI Melindungi Warga Maybrat” yang mengaitkan dirinya dengan pernyataan Seby Sambom serta rencana aksi demonstrasi. Dalam postingan tersebut, Johanes Alua menyebut pernyataan Wilem Asem “segendang, sepenarian” dengan pernyataan Seby Sambom, bahkan mengaitkannya dengan dugaan rencana aksi untuk menggagalkan perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 2026. Wilem membantah keras seluruh tudingan tersebut, dalam keterangannya kepada media pada Sabtu (15/8/2026).
Wilem menjelaskan bahwa video yang menjadi dasar pernyataannya merupakan bentuk kekecewaan dan keprihatinannya sebagai keluarga korban atas insiden penembakan yang menimpa tiga warga dari kampungnya. Ia menegaskan bahwa dua korban merupakan orang tua kandungnya, sementara satu korban lainnya adalah adik kandungnya. Karena itu, pernyataan yang disampaikannya kepada publik merupakan luapan kekecewaan sebagai keluarga korban, bukan bentuk keberpihakan terhadap gerakan tertentu maupun upaya menyudutkan aparat keamanan.
“Apa yang saya sampaikan melalui video kemarin adalah bentuk kekecewaan saya sebagai keluarga korban. Dua orang korban adalah orang tua kandung saya dan satu lagi adalah adik kandung saya. Siapa pun pasti kecewa apabila keluarganya mengalami kejadian seperti itu,” tegas Wilem.
Wilem secara khusus membantah pernyataan yang menyebut dirinya “segendang, sepenarian” dengan Seby Sambom. Ia mengatakan tidak mengenal siapa Seby Sambom, tidak mengetahui keberadaannya, profesinya maupun statusnya. Karena itu, ia mempertanyakan dasar yang digunakan untuk menyamakan pernyataannya dengan pernyataan Seby Sambom.
“Saya saja tidak tahu siapa Seby Sambom, dia ada di mana, profesinya apa, statusnya apa. Saya tidak pernah berkomunikasi dengan dia. Jadi bagaimana bisa saya dikatakan segendang, sepenarian dengan dia?” kata Wilem.
Ia juga membantah keras tudingan bahwa dirinya mempunyai hubungan dengan rencana aksi demonstrasi pada 15 Agustus maupun rencana menggagalkan perayaan 17 Agustus. Menurut Wilem, tudingan tersebut sama sekali tidak sesuai dengan isi video yang ia sampaikan. Ia meminta masyarakat melihat video secara utuh agar dapat membedakan antara pernyataan asli dirinya dengan narasi yang dibangun melalui media sosial.
“Saya tidak pernah merencanakan aksi demo, apalagi menggagalkan 17 Agustus. Itu tidak benar. Coba lihat video saya, apakah ada saya mengatakan seperti itu? Tidak ada. Yang saya sampaikan adalah bentuk kekecewaan saya sebagai keluarga korban,” tegasnya.
Terkait penyebutan aparat keamanan dalam video tersebut, Wilem menjelaskan bahwa informasi mengenai pelaku yang mengenakan pakaian loreng disampaikan berdasarkan keterangan korban dan saksi yang berada di lokasi kejadian. Ia menegaskan tidak memiliki tendensi untuk menyudutkan TNI maupun Polri.
“Saya tidak menyudutkan TNI, Polri atau siapa pun. Yang saya sampaikan adalah berdasarkan keterangan korban dan saksi yang melihat pelaku menggunakan pakaian loreng. Tidak ada tendensi lain,” ujarnya.
Wilem menegaskan bahwa dirinya merupakan warga negara Indonesia yang sah sekaligus anggota DPR Papua Barat Daya. Ia juga menyebut orang tuanya merupakan tokoh pejuang Pepera dan veteran perjuangan pembebasan Irian Barat. Menurutnya, latar belakang tersebut menjadi bagian dari alasan dirinya menolak keras tudingan bahwa dirinya hendak menggagalkan perayaan kemerdekaan Indonesia.
“Saya ini warga negara Indonesia yang sah. Orang tua saya juga adalah tokoh pejuang Pepera dan veteran. Jadi kalau ada yang menyampaikan saya merencanakan menggagalkan 17 Agustus, itu tidak benar,” katanya.
Wilem mengatakan dirinya tidak memiliki hubungan dengan berbagai gerakan atau aksi yang terjadi di wilayah Maybrat. Ia menegaskan bahwa fokusnya saat ini adalah mengurus keluarga yang menjadi korban dan memastikan mereka mendapatkan penanganan hingga pulih.
“Saya ada di Sorong untuk menjemput keluarga dan bersama keluarga mengurus orang tua kami supaya sehat. Fokus saya sekarang bagaimana keluarga saya sembuh. Saya tidak ada urusan dengan gerakan-gerakan yang terjadi di Maybrat,” ujarnya.
Ia juga menilai penggunaan foto, potongan video, serta narasi tertentu dalam postingan media sosial tanpa melihat konteks pernyataan secara utuh dapat membentuk opini yang keliru di tengah masyarakat. Wilem meminta masyarakat tidak mudah terprovokasi oleh narasi yang belum tentu sesuai dengan pernyataan sebenarnya.
Lebih lanjut, Wilem mengajak seluruh pihak, termasuk TNI dan Polri, untuk bersama-sama menjaga keamanan di Kabupaten Maybrat, Kabupaten Tambrauw dan wilayah Papua Barat Daya. Ia menegaskan bahwa tidak ada pihak yang menginginkan konflik maupun kekacauan terjadi di tengah masyarakat.
“Kita semua bertanggung jawab. Saya juga bertanggung jawab sebagai anggota DPR. Kita terus mendukung aparat keamanan, terutama TNI dan Polri, untuk menjaga keamanan. Siapa pun orangnya, kita semua tidak menginginkan konflik dan kekacauan,” katanya.
Wilem berharap kasus penembakan terhadap tiga warga tersebut dapat segera diungkap melalui proses hukum berdasarkan fakta dan bukti. Ia meminta aparat terkait mencari tahu siapa pelaku sebenarnya sehingga kejadian serupa tidak kembali terjadi dan tidak menimbulkan dampak yang lebih luas bagi masyarakat.
“Yang kita inginkan adalah proses hukum berjalan, mencari tahu berdasarkan fakta dan bukti siapa pelakunya. Jangan sampai kejadian seperti ini terulang lagi. Kita tidak menginginkan ada kematian lagi atau keluarga kita menjadi korban,” pungkas Wilem Asem.

















