{"id":9444,"date":"2025-12-15T05:54:46","date_gmt":"2025-12-15T05:54:46","guid":{"rendered":"https:\/\/detikpapua.net\/?p=9444"},"modified":"2025-12-15T05:54:46","modified_gmt":"2025-12-15T05:54:46","slug":"paparan-materi-wakil-pokja-idi-papua-barat-daya-dalam-rakor-idi-9-desember-2025","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/detikpapua.net\/index.php\/2025\/12\/15\/paparan-materi-wakil-pokja-idi-papua-barat-daya-dalam-rakor-idi-9-desember-2025\/","title":{"rendered":"Paparan Materi Wakil Pokja IDI Papua Barat Daya Dalam Rakor IDI 9 Desember 2025"},"content":{"rendered":"\n<p><strong>Sorong, Detikpapua.Net &#8211; <\/strong>Wakil Ketua Kelompok Kerja (Pokja) Indeks Demokrasi Indonesia (IDI) Papua Barat Daya Dr. Sellvyana Sangkek, SE.,M.Si memaparkan materi dalam rapat koordinasi (Rakor) IDI yang digelar di Kota Sorong, 9 Desember 2025.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam paparannya, Dr. Sellvyana menyampaikan bahwa rapat tersebut merupakan rapat strategis karena menjadi titik awal kerja terarah dalam penyusunan Indeks Demokrasi Indonesia (IDI) Provinsi Papua Barat Daya Tahun 2025.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"700\" height=\"400\" src=\"https:\/\/detikpapua.net\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/1000524828-700x400.jpg?v=1765777945\" alt=\"\" class=\"wp-image-9445\"\/><\/figure>\n\n\n\n<p>Ia menjelaskan, IDI adalah instrumen nasional yang digunakan pemerintah untuk mengukur kualitas demokrasi secara periodik melalui tiga aspek penting yakni Kebebasan (civil liberties), Kesetaraan (political equality) dan Kapasitas lembaga demokrasi IDI tidak hanya mengukur prosedur demokrasi, tetapi juga kualitas substantifnya. Karena itu, IDI menjadi indikator kunci dalam RPJMN 2025\u20132029, RPJPN 2025\u20132045, dan menjadi rujukan bagi seluruh provinsi dalam merumuskan arah pembangunan politik.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Bagi Papua Barat Daya, posisi kita lebih fundamental lagi. Sebagai provinsi baru hasil pemekaran, kita belum memiliki baseline IDI. Baseline inilah yang akan menjadi pembanding bagi perkembangan demokrasi kita di tahun-tahun berikutnya. Tanpa baseline, pemerintah daerah tidak memiliki pijakan objektif untuk menilai apakah demokrasi kita semakin baik atau semakin menurun,&#8221; ujar Dr. Sellvyana.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"700\" height=\"400\" src=\"https:\/\/detikpapua.net\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/1000524820-700x400.jpg?v=1765777964\" alt=\"\" class=\"wp-image-9446\"\/><\/figure>\n\n\n\n<p>Pada kesempatan itu, ia pun menggambarkan tantangan Papua Barat Daya. Selain belum memiliki baseline, Papua Barat Daya menghadapi sejumlah tantangan struktural seperti Kapasitas kelembagaan yang masih dalam tahap<br>pembentukan, Keterbatasan akses informasi dan literasi politik<br>masyarakat, Ketimpangan geogra\ufb01s yang memengaruhi partisipasi<br>politik hingga Potensi kon\ufb02ik sosial dan tekanan terhadap kebebasan sipil.<\/p>\n\n\n\n<p>Tantangan ini serupa dengan temuan global. Laporan V-Dem 2025 menunjukkan adanya kemunduran demokrasi dunia dalam 10 tahun terakhir\u2014terutama pada aspek kebebasan sipil dan rule of law. International IDEA juga mencatat tren serupa. Artinya, Papua Barat Daya tidak bekerja dalam ruang kosong tetapi berada dalam ekosistem demokrasi global yang penuh dinamika dan tekanan.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"700\" height=\"400\" src=\"https:\/\/detikpapua.net\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/1000524832-700x400.jpg?v=1765777985\" alt=\"\" class=\"wp-image-9447\"\/><\/figure>\n\n\n\n<p>&#8220;Tantangan Administratif: Pokja IDI Papua Barat Daya baru terbentuk secara resmi pada akhir November 2025, dan rapat baru bisa kita laksanakan hari ini, 9 Desember 2025. Ini berarti kita tidak dapat mengikuti siklus penyusunan IDI nasional yang biasanya dimulai Januari\u2013November. Oleh karena itu, tugas kita adalah: Menyesuaikan timeline pengerjaan IDI secara adaptif tanpa mengurangi kualitas metodologi,&#8221; sebut Dr. Sellvyana.<\/p>\n\n\n\n<p>Ia pun menjelaskan Mengapa Pokja IDI Sangat Penting. Pokja IDI adalah jantung penyusunan IDI daerah. Pokja memiliki mandat strategis: Memberikan masukan kebijakan, Melakukan quality assurancedata, Mengkoordinasikan lintas-instansi, melakukan FGD dan veri\ufb01kasi data, Menyusun baseline IDI, Mendiseminasikan hasil kepada publik dan pemerintah.<\/p>\n\n\n\n<p>Ia juga menyinggung Komposisi Pokja PBD sangat kuat: melibatkan BPS, KPU, Bawaslu, Kepolisian, PTUN, OPD teknis, akademisi, media, FKUB, LSM, dan unsur masyarakat sipil. Ini adalah modal besar yang harus dimanfaatkan dengan maksimal.<\/p>\n\n\n\n<p>Sementara terkait Sumber Data IDI, ia menyebut IDI mengandalkan data dari Dokumen kebijakan daerah (Perda, Pergub, SE), Pemberitaan media online (scraping oleh BPS), Data penegakan hukum dan kebebasan sipil, Data pemilu dari KPU dan Bawaslu, Data akses informasi publik dari Kominfo, Data layanan dasar dan isu kesetaraan dari OPD teknis, \u00b7 FGD dan wawancara pemangku kepentingan.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"700\" height=\"400\" src=\"https:\/\/detikpapua.net\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/1000524824-700x400.jpg?v=1765778009\" alt=\"\" class=\"wp-image-9448\"\/><\/figure>\n\n\n\n<p>Lebih jauh ia menerangkan Dengan mempertimbangkan kondisi riil, berikut timeline adaptif Pokja IDI: Desember 2025<br>\u00b7 Konsolidasi Pokja<br>\u00b7 Sosialisasi Juklak\u2013Juknis<br>\u00b7 Pemetaan indikator dan pemilik data<br>\u00b7 Pengumpulan data awal (dokumen &amp; media) Januari 2026<br>\u00b7 Pengumpulan data paralel lintas-instansi<br>\u00b7 Quality assurance awal<br>\u00b7 Penyusunan draft indikator Februari 2026<br>\u00b7 FGD veri\ufb01kasi provinsi<br>\u00b7 Finalisasi baseline IDI<br>\u00b7 Penyusunan laporan Maret 2026<br>\u00b7 Penyampaian hasil IDI ke BPS pusat<br>\u00b7 Integrasi IDI ke RPJMD &amp; Renstra OPD<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Timeline ini valid secara metodologis, \u201caman\u201d secara administratif, dan memungkinkan penyusunan baseline pertama yang kredibel,&#8221; ungkapnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Untuk memastikan keberhasilan, ia menerangkan beberapa strategi kerja yakni:<\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\">\n<li>Parallel Data Collection<br>Setiap instansi pemilik data mengirimkan informasi secara simultan\u2192 menghemat waktu 50\u201360%.<\/li>\n\n\n\n<li>Baseline Minimal<br>Mengutamakan indikator yang datanya paling kuat dan paling relevan untuk provinsi baru.<\/li>\n\n\n\n<li>Quality Assurance Berlapis<br>Pokja bertugas memveri\ufb01kasi data melalui: \u00b7 pencocokan dokumen, \u00b7 analisis berita,<\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<p>Diakhir pemaparannya ia menyampaikan harapan dan arah Penguatan Demokrasi Papua Barat Daya. Ia menyebut suksesnya penyusunan IDI tahun 2025 akan menjadi titik balik bagi demokrasi Papua Barat Daya. Hasil IDI akan menjadi:<br>\u00b7 dasar penyusunan RPJMD,<br>\u00b7 bahan re\ufb02eksi bagi OPD dalam menguatkan tata kelola<br>\u00b7 rujukan bagi penguatan partisipasi masyarakat,<br>\u00b7 instrumen evaluasi bagi lembaga legislatif dan eksekutif,<br>\u00b7 serta cermin bagi publik tentang kualitas demokrasi daerah.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"700\" height=\"400\" src=\"https:\/\/detikpapua.net\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/1000524834-700x400.jpg?v=1765778049\" alt=\"\" class=\"wp-image-9449\"\/><\/figure>\n\n\n\n<p>&#8220;IDI adalah lebih dari sekadar angka.<br>IDI adalah cermin konsolidasi demokrasi Papua Barat Daya. Akhir kata, saya mengajak seluruh anggota Pokja untuk bekerja kolaboratif, menjaga kualitas data, mempercepat proses dengan mekanisme adaptif serta menjadikan IDI sebagai kompas pembangunan daerah,&#8221; pungkasnya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sorong, Detikpapua.Net &#8211; Wakil Ketua Kelompok Kerja (Pokja)&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":9445,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"om_disable_all_campaigns":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"kia_subtitle":"","_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[11],"tags":[],"newstopic":[],"class_list":["post-9444","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita"],"aioseo_notices":[],"views":10,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/detikpapua.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9444","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/detikpapua.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/detikpapua.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/detikpapua.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/detikpapua.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=9444"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/detikpapua.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9444\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":9450,"href":"https:\/\/detikpapua.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9444\/revisions\/9450"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/detikpapua.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/9445"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/detikpapua.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=9444"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/detikpapua.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=9444"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/detikpapua.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=9444"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/detikpapua.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/newstopic?post=9444"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}