{"id":8594,"date":"2025-11-07T08:36:05","date_gmt":"2025-11-07T08:36:05","guid":{"rendered":"https:\/\/detikpapua.net\/?p=8594"},"modified":"2025-11-07T12:49:55","modified_gmt":"2025-11-07T12:49:55","slug":"gereja-tumbuh-megah-tapi-weltinus-pahabol-tumbuh-di-jalan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/detikpapua.net\/index.php\/2025\/11\/07\/gereja-tumbuh-megah-tapi-weltinus-pahabol-tumbuh-di-jalan\/","title":{"rendered":"Gereja Tumbuh Megah, Tapi Weltinus Pahabol Tumbuh di Jalan"},"content":{"rendered":"\n<p><strong>Kabut<\/strong> turun pelan di Lembah Baliem. Dingin pagi menggigit hingga ke tulang. Di sudut Jalan Irian, di depan pintu toko yang belum dibuka, seorang anak duduk memeluk lututnya. Tubuhnya kurus. Rambutnya kusut. Kakinya kotor. Di tangan kecilnya tergenggam plastik putih berisi lem Aibon. Ia menghirupnya perlahan, dalam-dalam.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"700\" height=\"400\" src=\"https:\/\/detikpapua.net\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/IMG_20251107_162841-700x400.jpg?v=1762504255\" alt=\"\" class=\"wp-image-8597\"\/><figcaption class=\"wp-element-caption\"><em>Weltinus Pahabol bersama rekannya. (07\/11\/2025).<strong>Foto\/Yohanes Kossay<\/strong><\/em><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p>Seakan ada sesuatu yang hilang di dalam dirinya, dan lem itu adalah satu-satunya cara untuk tidak merasakan sakitnya kehilangan itu.<\/p>\n\n\n\n<p>Namanya<strong> Weltinus Pahabol.<br><\/strong>Usianya<strong> baru 12 tahun.<\/strong><\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\">\n<p><strong>\u201cKalau saya isap begini\u2026 hati jadi tidak sakit,\u201d katanya lirih, hampir seperti ia sedang bicara hanya kepada dirinya sendiri.<\/strong><\/p>\n<\/blockquote>\n\n\n\n<p>Tidak banyak orang ingin tahu bagaimana Weltinus bisa sampai hidup di jalan. Mereka hanya melihat hasil akhirnya: seorang anak yang mabuk lem, berjalan tanpa arah, tertawa kosong, masa depan yang kabur.<\/p>\n\n\n\n<p>Namun sebelum menjadi anak jalanan, <strong>Weltinus<\/strong> adalah <strong>seorang anak biasa<\/strong>. Ia pernah punya rumah. Ia pernah punya tempat yang disebut keluarga. Tapi rumah itu penuh suara keras: bentakan, piring pecah, air mata ibu yang tidak pernah kering. Tangan ayah yang seharusnya melindungi justru menjadi ancaman.<\/p>\n\n\n\n<p>Dan pada suatu hari, Weltinus pergi.<br>Ia memilih jalanan.<br>Karena <strong>rumah tidak lagi menjadi tempat pulang.<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Weltinus<\/strong> bukan sendiri. Di trotoar, di depan pertokoan Himalaya, anak-anak lain duduk melingkar. Plastik lem berpindah dari tangan ke tangan. Mereka tertawa, tetapi tawa itu hampa\u2014tawa yang bukan berasal dari kebahagiaan, tetapi dari <strong>rasa sakit yang terlalu besar untuk ditanggung dalam diam.<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Seseorang bertanya kepada seorang anak di antara mereka, yang mungkin baru berusia sepuluh tahun:<\/p>\n\n\n\n<p><strong>\u201cKenapa kamu hirup lem?\u201d<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Anak itu menunduk, suaranya kecil sekali:<br><strong>\u201cKalau tidak isap\u2026 saya ingat rumah. Saya menangis. Kalau isap\u2026 hati jadi kosong. Kosong itu lebih bagus daripada sakit.\u201d<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Kosong lebih baik daripada terluka.<br>Begitulah cara mereka bertahan.<br>Begitulah cara kota ini <strong>membiarkan mereka bertahan.<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Di tengah kota, suara palu dan semen menggema. Gereja baru sedang berdiri\u2014tinggi, cerah, megah. Dana pembangunan mengalir besar. Pejabat daerah berpidato tentang pembangunan iman. Para pemimpin gereja tersenyum bangga.<\/p>\n\n\n\n<p>Namun <strong>beberapa meter dari pagar gereja itu,<\/strong> Weltinus duduk di emperan, memeluk tubuhnya sendiri dari dingin malam.<\/p>\n\n\n\n<p>Di dalam gereja, orang berbicara tentang kasih.<br>Tapi di luar, anak-anak ini tidak pernah merasakannya.<\/p>\n\n\n\n<p>Apa gunanya gedung megah,<br>jika hati manusia dibiarkan runtuh?<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"700\" height=\"400\" src=\"https:\/\/detikpapua.net\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/IMG_20251107_172740_1-700x400.jpg?v=1762504128\" alt=\"\" class=\"wp-image-8596\"\/><figcaption class=\"wp-element-caption\"><em>Tugu Salib di kota Wamena, (07\/11\/2025). <\/em><strong><em>Foto\/Yohanes Kossay.<\/em><\/strong><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p>Apa artinya salib yang menjulang,<br>jika tidak ada tangan yang terulur untuk memeluk seorang anak bernama Weltinus Pahabol?<\/p>\n\n\n\n<p>Pembangunan fisik berjalan cepat.<br>Tapi <strong>pembangunan manusia berjalan seakan tidak pernah dimulai.<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Sore di Wamena selalu datang pelan, seperti seseorang yang ragu untuk menutup hari. Langit menjadi jingga kusam. Orang-orang pulang membawa belanjaan. Anak-anak lain pulang menggandeng tangan ibunya.<\/p>\n\n\n\n<p>Weltinus hanya memandang.<\/p>\n\n\n\n<p>Matanya mengikuti langkah-langkah itu\u2014langkah menuju rumah, menuju meja makan, menuju suara lembut yang berkata, \u201cNak, makan dulu.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Tapi <strong>tidak ada langkah yang menunggu dirinya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Di kejauhan, paduan suara gereja berlatih lagu pujian. Suaranya indah. Tapi indah itu terasa <strong>jauh<\/strong> bagi Weltinus. Terlalu jauh untuk disentuh. Terlalu jauh untuk dimiliki.<\/p>\n\n\n\n<p>Ia mendekap lututnya.<br>Ia menahan napas.<br>Ia menahan tangis\u2014yang terlalu sering ia paksa hilang.<\/p>\n\n\n\n<p>Sore hari adalah waktu <strong>rindu paling berat,<\/strong><br>bagi anak yang tidak tahu lagi <strong>siapa yang merindukannya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Kadang seorang relawan datang membawa roti.<br>Kadang seorang mahasiswa duduk bercerita.<br>Kadang seorang mama pasar mengelus kepalanya sebentar.<\/p>\n\n\n\n<p>Dan di saat-saat itu, mata Weltinus berubah.<br>Ada cahaya kecil\u2014lemah, tapi masih menyala.<\/p>\n\n\n\n<p>Karena sebenarnya, <strong>anak ini masih ingin hidup.<\/strong><br>Masih ingin dicintai.<br>Masih ingin pulang.<br>Ia hanya tidak tahu <strong>ke mana arah pulang itu sekarang.<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Pembangunan sejati bukan tentang meninggikan bangunan dan tugu.<br>Pembangunan sejati dimulai ketika <strong>seorang anak tidak lagi merasa lebih aman memeluk plastik lem daripada memeluk seseorang yang mencintainya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Jika kita gagal menyelamatkan Weltinus Pahabol, maka kita bukan hanya gagal membangun sumber daya manusia.<br>Kita <strong>telah gagal menjadi manusia itu sendiri.<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Penulis: <strong>Yohanes Kossay <\/strong>(Anak Asli Huwula)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kabut turun pelan di Lembah Baliem. Dingin pagi&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":8599,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"om_disable_all_campaigns":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"kia_subtitle":"","_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[1,15,32,22,50],"tags":[],"newstopic":[],"class_list":["post-8594","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-blog","category-opini","category-pemerintahan","category-pendidikan","category-sosial-budaya"],"aioseo_notices":[],"views":849,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/detikpapua.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8594","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/detikpapua.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/detikpapua.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/detikpapua.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/detikpapua.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=8594"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/detikpapua.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8594\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":8598,"href":"https:\/\/detikpapua.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8594\/revisions\/8598"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/detikpapua.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/8599"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/detikpapua.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=8594"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/detikpapua.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=8594"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/detikpapua.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=8594"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/detikpapua.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/newstopic?post=8594"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}