{"id":8208,"date":"2025-10-21T11:09:00","date_gmt":"2025-10-21T11:09:00","guid":{"rendered":"https:\/\/detikpapua.net\/?p=8208"},"modified":"2025-10-21T11:09:01","modified_gmt":"2025-10-21T11:09:01","slug":"dpr-pbd-dorong-pembentukan-perdasus-tentang-bahasa-daerah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/detikpapua.net\/index.php\/2025\/10\/21\/dpr-pbd-dorong-pembentukan-perdasus-tentang-bahasa-daerah\/","title":{"rendered":"DPR PBD Dorong Pembentukan Perdasus Tentang Bahasa Daerah"},"content":{"rendered":"\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\">\n<p>&#8220;Kita mau generasi kita kedepan tidak melupakan begitu saja jati diri dan warisan leluhur yang menjadi identitas mereka, makanya kita coba mendorong Perdasus ini&#8221; <strong>David Sedik, A.Md (Anggota DPR Papua Barat Daya)<\/strong><\/p>\n<\/blockquote>\n\n\n\n<p><strong>Sorong, Detikpapua.Net &#8211; <\/strong>Dalam rangka melestarikan bahasa ibu (bahasa daerah), DPR Papua Barat Daya siap mendorong Pembentukan Peraturan Daerah Khusus (Perdasus) tentang Pengembangan dan Pembinaan Bahasa dan Sastra Daerah.<\/p>\n\n\n\n<p>Hal ini disampaikan Anggota DPR Papua Barat Daya David Sedik, A.Md saat dimintai tanggapan oleh awak media, usai menghadiri pembukaan kegiatan Festival Tunas Bahasa Ibu Tanah Papua yang berlangsung di Vega Hotel, Kota Sorong, Provinsi Papua Barat Daya, Selasa (21\/10\/2025).<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"700\" height=\"400\" src=\"https:\/\/detikpapua.net\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/1000443658-700x400.jpg?v=1761044675\" alt=\"\" class=\"wp-image-8209\"\/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Pembukaan kegiatan Festival Tunas Bahasa Ibu Tanah Papua yang berlangsung di Vega Hotel, Kota Sorong, Provinsi Papua Barat Daya, Selasa (21\/10\/2025). <strong>Foto\/Yohanes Sole<\/strong><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p>David Sedik menekankan perlu adanya payung hukum khusus, yang disediakan pemerintah dalam rangka memelihara, menjaga bahkan mengembangkan bahasa daerah sebagai kekayaan dan identitas budaya lokal di Papua Barat Daya.<\/p>\n\n\n\n<p>Perdasus ini akan menjadi benteng untuk membendung arus negatif perkembangan teknologi dan globalisasi terhadap memudarnya nilai-nilai kearifan lokal. Selain itu Perdasus juga bisa menjadi rel penuntun bagi generasi mendatang untuk tidak bergeser dari warisan budaya leluhur.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"700\" height=\"400\" src=\"https:\/\/detikpapua.net\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/1000444270-700x400.webp\" alt=\"\" class=\"wp-image-8211\"\/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Anggota DPR Papua Barat Daya David Sedik, A.Md<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p>Ia mengaku, Festival Tunas Bahasa Ibu kali ini sangat penting sebagai momentum refleksi untuk melihat secara dalam pergeseran nilai-nilai kearifan lokal yang semakin terasa bagi generasi masa kini. Namun juga sebagai momentum untuk menentukan langkah dan aksi nyata dalam rangka mempertahankan dan memelihara bahasa ibu sebagai jati diri dan bagian yang tidak terpisahkan dari semua entitas masyarakat yang ada.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Bahasa ibu ini adalah kekayaan budaya sekaligus jati diri kita. Tentu kami akan berupaya mendorong terbentuknya sebuah payung hukum seperti Perdasus misalnya untuk bagaimana melindungi, memelihara dan mengembangkan bahasa daerah atau bahasa ibu ini kedepan,&#8221; ujar David Sedik.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"700\" height=\"400\" src=\"https:\/\/detikpapua.net\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/1000443673-700x400.jpg?v=1761044871\" alt=\"\" class=\"wp-image-8212\"\/><\/figure>\n\n\n\n<p>Ia menyebut, urgensi kehadiran Perdasus tentang bahasa Ibu ini sangat dibutuhkan. Lihat saja hari ini, banyak anak-anak Papua yang tidak fasih bahkan tidak tahu berujar menggunakan bahasa daerah.<\/p>\n\n\n\n<p>Padahal didalam bahasa ibu itu sendiri terkandung nilai-nilai kearifan lokal, cerminan identitas, jati diri bahkan ilmu pengetahuan terutama dengan adanya istilah-istilah yang mengandung pesan-pesan moral, edukasi bahkan falsafah hidup.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Kita mau generasi kita kedepan tidak melupakan begitu saja jati diri dan warisan leluhur yang menjadi identitas mereka, makanya kita coba mendorong Perdasus ini. Tentu kami akan berkolaborasi dengan pemerintah daerah bersama rekan-rekan di DPR sehingga Perdasus ini bisa segera diterbitkan untuk menjadi acuan bagi kita dalam upaya melindungi dan mengembangkan bahasa daerah kedepan,&#8221; sebut David.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"700\" height=\"400\" src=\"https:\/\/detikpapua.net\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/1000443664-700x400.jpg?v=1761044885\" alt=\"\" class=\"wp-image-8213\"\/><\/figure>\n\n\n\n<p>Sementara, Staf Ahli (Sahli) Gubernur Papua Barat Daya Bidang Ekonomi, Pembangunan, dan Keuangan (Ekubang) Dr. George Yarangga, A.Pi., MM saat membuka kegiatan mengatakan, pemerintah melakukan upaya peningkatan pelestarian bahasa daerah dengan terus mendorong kesadaran masyarakat untuk mempertahankan, memelihara, dan mengembangkan bahasa daerahnya masing-masing.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cPenyadaran akan khazanah bahasa dan budaya masyarakat dapat dijadikan sebagai sumber daya pembangunan. Untuk itu, bahasa perlu didayagunakan bagi kepentingan masyarakatnya,\u201d ucapnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Menurutnya, kegiatan revitalisasi bahasa daerah perlu didukung oleh pemerintah pusat dan daerah.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cSemua ekosistem harus turut mendukung program ini agar penutur muda bahasa daerah meningkat, baik kualitas maupun kuantitasnya. Bahasa daerah menjadi lebih kuat dan penuturnya semakin berkembang ditengah tantangan jaman saat ini,\u201d ungkapnya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>&#8220;Kita mau generasi kita kedepan tidak melupakan begitu&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":8212,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"om_disable_all_campaigns":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"kia_subtitle":"","_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[11,1],"tags":[],"newstopic":[],"class_list":["post-8208","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita","category-blog"],"aioseo_notices":[],"views":167,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/detikpapua.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8208","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/detikpapua.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/detikpapua.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/detikpapua.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/detikpapua.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=8208"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/detikpapua.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8208\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":8214,"href":"https:\/\/detikpapua.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8208\/revisions\/8214"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/detikpapua.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/8212"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/detikpapua.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=8208"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/detikpapua.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=8208"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/detikpapua.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=8208"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/detikpapua.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/newstopic?post=8208"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}