{"id":3478,"date":"2025-02-28T03:10:06","date_gmt":"2025-02-28T03:10:06","guid":{"rendered":"https:\/\/detikpapua.net\/?p=3478"},"modified":"2025-02-28T03:19:39","modified_gmt":"2025-02-28T03:19:39","slug":"peran-generasi-muda-papua-dalam-menjaga-ekologi-seturut-ensiklik-laudato-si","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/detikpapua.net\/index.php\/2025\/02\/28\/peran-generasi-muda-papua-dalam-menjaga-ekologi-seturut-ensiklik-laudato-si\/","title":{"rendered":"Peran Generasi Muda Papua dalam Menjaga Ekologi Seturut Ensiklik Laudato Si"},"content":{"rendered":"\n<p><br><strong>Aimas, Detikpapua.Net <\/strong>&#8211; Civitas Academika SMA SPVD kembali menggelar diskusi ilmiah pada Kamis (27\/02\/2025). Diskusi ilmiah kali ini dibawakan oleh Siswa-siswi dari kelas XII program IPS. Kegiatan yang bertajuk Sidang Akademik ini membahas tema: \u201cPeran Generasi Muda Papua dalam Menjaga Ekologi Seturut Ensiklik Laudato Si\u201d.<\/p>\n\n\n\n<p>Mengawali seluruh rangkaian diskusi ilmiah ini, Fr. Nano Tanga, O.Carm, selaku guru pendamping kelompok pemateri, menyampaikan kepada siswa-siswi yang terlibat untuk memanfaatkan kesempatan ini dengan baik.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"700\" height=\"400\" src=\"https:\/\/detikpapua.net\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/1000143260-700x400.jpg?v=1740712026\" alt=\"\" class=\"wp-image-3479\"\/><figcaption class=\"wp-element-caption\"><em>Kegiatan diskusi ilmiah yang digelar Civitas Academika SMA SPVD, Kamis (27\/02\/2025). <strong>Foto\/RAE<\/strong><\/em><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p>\u201cDiskusi adalah momentum yang baik bagi kita untuk melatih diri berbicara dan berargumen di depan umum. Karena itu, manfaatkan kesempatan ini sebaik mungkin,&#8221; pesan Fr. Nano.<\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\">\n<p>Diskusi ilmiah kali ini berjalan lancar dan semua siswa-siswi sangat antusias mengikutinya. Dalam pemaparannya, Kalkolweng Benediktus Banal, salah seorang pemateri menegaskan bahwa tema ini sengaja diangkat dan menjadi materi inti diskusi ilmiah dengan bertitik tolak pada realitas yang terjadi di tanah Papua.<\/p>\n<\/blockquote>\n\n\n\n<p>\u201cEkologi atau lingkungan hidup menjadi perhatian kita bersama. Seperti yang sudah dan sedang kita rasakan, alam dan hutan di tanah Papua mengalami kerusakan secara besar-besaran. Hutan dieksploitasi secara serampangan oleh pihak-pihak kapitalis (perusahan-perusahan tambang) dan terkadang tidak menghargai dan menghiraukan keselamatan masyarakat sebagai pemilik hak ulayat tanah itu. Apa yang dirasakan oleh masyarakat asli tidak lain hanyalah penderitaan berkepanjangan, tanah tidak lagi subur, hak ulayat tanah menjadi hilang\u201d demikian ditegaskan oleh siswa yang kerap disapa Beni Banal ini.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"700\" height=\"400\" src=\"https:\/\/detikpapua.net\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/1000143261-700x400.jpg?v=1740712141\" alt=\"\" class=\"wp-image-3480\"\/><\/figure>\n\n\n\n<p>Anggota kelompok lainnya, Mimi Maria Kamat, juga menambahkan bahwa tema ini menjadi topik utama diskusi ilmiah kali ini berangkat dari keprihatinan kelompok pemateri atas kerusakan alam yang terjadi di wilayah Papua.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cFenomena kerusakan alam bukan lagi masalah sepele tetapi menjadi masalah serius yang membutuhkan perhatian penuh dari semua elemen masyarakat secara khusus dari pihak generasi muda\u201d ungkapnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Agustinus Sewia, selaku pemateri, juga menggarisbawahi seruan Paus Fransiskus untuk menjaga bumi sebagai rumah bersama.<\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\">\n<p>\u201cPaus Fransiskus, dalam ensikliknya, Laudato Si yang dipublikasikan pada tahun 2013 menegaskan pentingnya membangun kesadaran ekologis. Kita semua harus menjaga alam lingkungan. Sebab, seperti yang dikatakan Paus Fransiskus, bumi, alam lingkungan adalah rumah kita bersama. Jadi, kita memiliki kewajiban yang sama untuk merawat keutuhan alam\u201d sebut Agus.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"700\" height=\"400\" src=\"https:\/\/detikpapua.net\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/1000143262-700x400.jpg?v=1740712154\" alt=\"\" class=\"wp-image-3481\"\/><\/figure>\n<\/blockquote>\n\n\n\n<p>Tema sidang akademik ini mendapat apresiasi dari para guru SMA. Melkiades Kelau, salah seorang guru SMA, memberikan komentar dan respon yang positif terhadap tema ini. Menurutnya, tema ini sangat aktual dan amat mendesak untuk selalu didiskusikan.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cTema tentang ekologi adalah tema yang tidak akan pernah selesai dibicarakan. Kita sebagai generasi penerus punya kewajiban untuk menjaga alam lingkungan di mana kita berada, dan terutama hutan sebagai paru-paru dunia\u201d ungkapnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Seusai kegiatan, Pater Niko Djata, O.Carm, juga memberikan catatan positif tentang tema yang diangkat.<\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\">\n<p>\u201cSaya pun menyadari bahwa masyarakat Papua (OAP), yang terwakili oleh sejumlah siswa-siswi, sangat membutuhkan penyadaran akan pentingnya merawat bumi. Masyarakat Papua perlu disadarkan akan bahaya-bahaya yang timbul ketika membiarkan tambang dan segala bentuk pengerukan terhadap hasil alam dengan motif pembangunan,\u201d ungkanya.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"700\" height=\"400\" src=\"https:\/\/detikpapua.net\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/1000143263-700x400.jpg?v=1740712166\" alt=\"\" class=\"wp-image-3482\"\/><\/figure>\n<\/blockquote>\n\n\n\n<p>Selain itu, Pastor Karmelit ini juga menekankan pentingnya kehadiran sekolah sebagai wahana efektif untuk membangun kesadaran ekologis.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cRuang yang efektif untuk dijadikan proyek penyadaran itu adalah sekolah. Sekolah-sekolah di Papua mestinya menanamkan nilai-nilai kecintaan terhadap alam dan sikap menolak tambang dan segala bentuk eksploitasi alam lainnya keada anak didiknya. SMA Seminari Petrus van Diepen&nbsp;sudah&nbsp;mulai\u201d tegasnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Pada bagian akhir dari sesi diskusi, Fr. Nano Tanga, O.Carm memberikan apresiasi dan terima kasih kepada pemateri yang dengan berani mengangkat tema ini. Dari keseluruhan materi yang dipaparkan oleh kelompok selama diskusi, ia kemudian menyimpulkan \u201cseturut ensiklik Laudato Si, Paus Fransiskus mengharapkan kita untuk aktif terlibat dalam menjaga keutuhan alam lingkungan. Sebagai generasi muda kita mesti membangkitkan kesadaran ekologis kepada sesama. Peduli lingkungan mulai dari hal-hal kecil dan sederhana, antara lain misalnya tidak membuang sampah sembarang tempat, aktif menanam pohon, merawat taman bunga dan halaman rumah\/sekolah.\u201d<\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\">\n<p>Turut hadir dalam kegiatan ini, selain siswa-siswi kelas X-XII, juga hadir para pastor, frater dan Bapak\/Ibu guru SMA SPvD. Seusai kegiatan, RD. Ardus Endi, selaku Pembina OSIS menjelaskan bahwa sidang akademik merupakan salah satu program rutin bulanan dalam kalendarium OSIS SMA SPvD.<\/p>\n<\/blockquote>\n\n\n\n<p>\u201cSidang akademik ini merupakan salah satu dari sekian banyak kegiatan yang terjadwal dalam kalendarium kerja OSIS SMA SPvD semester ini. Kelompok penanggung dibuat secara bergilir. Tema yang didiskusikan bergantung pada kesepakatan internal kelompok pemateri dan guru pendamping.\u201d Selain itu, ia juga menambahkan \u201corientasi utama dari kegiatan ini adalah untuk mengasah kemampuan akademik para peserta didik terutama dalam melihat berbagai masalah sosial yang terjadi di sekitar mereka.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Aimas, Detikpapua.Net &#8211; Civitas Academika SMA SPVD kembali&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":3483,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"om_disable_all_campaigns":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"kia_subtitle":"","_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"newstopic":[],"class_list":["post-3478","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-blog"],"aioseo_notices":[],"views":208,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/detikpapua.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3478","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/detikpapua.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/detikpapua.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/detikpapua.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/detikpapua.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3478"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/detikpapua.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3478\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3488,"href":"https:\/\/detikpapua.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3478\/revisions\/3488"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/detikpapua.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3483"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/detikpapua.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3478"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/detikpapua.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3478"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/detikpapua.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3478"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/detikpapua.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/newstopic?post=3478"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}