{"id":11257,"date":"2026-05-06T03:02:30","date_gmt":"2026-05-06T03:02:30","guid":{"rendered":"https:\/\/detikpapua.net\/?p=11257"},"modified":"2026-05-06T03:02:31","modified_gmt":"2026-05-06T03:02:31","slug":"potensi-kota-sorong-menjadi-one-stop-transit-area-dalam-mendorong-pad-dari-sektor-wisata-di-papua-barat-daya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/detikpapua.net\/index.php\/2026\/05\/06\/potensi-kota-sorong-menjadi-one-stop-transit-area-dalam-mendorong-pad-dari-sektor-wisata-di-papua-barat-daya\/","title":{"rendered":"Potensi Kota Sorong Menjadi One Stop Transit Area Dalam Mendorong PAD Dari Sektor Wisata di Papua Barat Daya"},"content":{"rendered":"\n<p><strong><em>Oleh: Derek F. Wamea, S.Pd.,M.Si<\/em><\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Setiap<\/strong> hari, secara fluktuasi lebih lebih 250 hingga 600 orang mendarat di Bandara DEO Kota Sorong, dan jika high sesaon 56%nya adalah turis dari dalam dan luar negeri dengan satu tujuan yang sama: Raja Ampat. Mereka turun dari pesawat, naik taksi ke Pelabuhan Usaha Mina, Jembatan Fery atau Marina Resto, lalu menyeberang ke Waisai atau langsung ke destinasi wisata di Raja Ampat. Dan kenyataannnya adalah Kota Sorong hanya jadi nama di tiket, karcis dan bukan nama di memori. Waktu yang dihabiskan wisatawan di kota ini rata-rata tidak sampai 8 jam untuk memenuhi perbekalan dan administrasi lainnya. Mereka datang untuk lewat, dan bukan untuk tinggal. Di situlah masalah sekaligus peluang terbesar Kota Sorong yang hilang setiap hari.<\/p>\n\n\n\n<p>Secara data angka, potensi Kota Sorong itu nyata. Sepanjang Tahun 2024 misalnya, ada 1,2 juta penumpang keluar-masuk Bandara DEO. Sekitar 225.000 di antaranya adalah wisatawan yang mengunjungi Raja Ampat. Kalau setiap orang hanya menghabiskan Rp300.000 di Sorong untuk taksi dan makan, maka uang yang berputar cuma Rp67,5 miliar setahun. Estimasi rata-rata PAD yang masuk dari pajak hotel dan restoran pastinya hanya Rp18 miliar. Padahal, kalau kita bisa menahan 50% saja dari mereka untuk menginap satu atau dua malam, dengan pengeluaran Rp1,8 juta per orang untuk hotel, makan, oleh-oleh, dan city tour, maka uang yang berputar langsung melonjak jadi Rp936 miliar setahun. PAD dari sektor wisata bisa tembus Rp140 miliar. Itu bukan angka kecil, tu setara dengan rata-rata target potensi PAD Kota Sorong sepuluh kali lipat disektor wisata.<\/p>\n\n\n\n<p>Kekuatan Kota Sorong untuk jadi transit area sebenarnya sudah lengkap. Tidak ada kota kabupaten lain di seluruh Papua yang punya bandara sebesar DEO, dengan penerbangan langsung dari Jakarta, Makassar, Surabaya, Manado, dan Jayapura. Pelabuhannya besar, jalan Trans Papua Barat sudah tembus ke Tambrauw, Sorong Selatan dan Maybrat. Hotel dari kelas melati sampai bintang empat sudah tersedia, dengan total 1.200 kamar. Restoran, mall, rumah sakit rujukan, semuanya tersedia. Raja Ampat boleh indah, tapi Waisai tidak punya fasilitas seperti yang saya sebutkan diatas. Sederhananya Kota Sorong adalah satu-satunya kota yang bisa kasih wisatawan tempat istirahat yang layak sebelum dan sesudah menyelam di Raja Ampat.<\/p>\n\n\n\n<p>Masalahnya, kita belum berkolaborasi untuk menjual potensi itu. Kita belum kasih alasan kuat kenapa wisatawan harus tinggal lebih lama di Kota Sorong. Padahal waktunya ada. Mayoritas pesawat tiba di Sorong Pagi hari, sementara kapal cepat ke Waisai berangkat mepet dengan di jam 9 dan jam 2 siang. Sebenarnya ada jeda 12 sampai 18 jam yang selama ini terbuang jika saja Kota ini bisa menahan turis karena tertarik dengan pesonanya. Jeda itu adalah <em>&#8220;golden time&#8221;<\/em> untuk Kota Sorong. Dalam 12 jam, kita bisa kasih wisatawan pengalaman Pantai Reklamasi, Tanjung Kasuari saat sunset, Tour Pulau Doom dengan Becak, kuliner ikan bakar di Kampung Baru, belanja noken dan abon ikan di pusat oleh-oleh, lalu istirahat di hotel sebelum menyeberang besoknya. Paket &#8220;Sorong 12 Hours&#8221; seharga Rp350.000 sudah cukup membuat mereka pulang dengan cerita, bukan cuma cap paspor saja di imigrasi.<\/p>\n\n\n\n<p>Segmen pasarnya jelas. Pengalaman membuktikan bahwa ada backpacker asing yang butuh hostel Rp150.000 dan sewa motor. Ada diver premium yang siap bayar Rp.1.000.000-2.000.000 semalam asal ada tempat aman untuk simpan tabung dan spa untuk lepas pegal. Ada rombongan MICE, peserta rapat dan konferensi yang datang 500 orang sekaligus, butuh ballroom convention center atau hotel dan suvenir massal. Ada rombongan kunjungan wapres atau menteri, juga ASN, TNI, Polri yang dinas dengan SPPD, butuh hotel yang kerja sama dengan Pemda dan kuitansi lengkap. Bahkan ada kapal pesiar yang sandar 8 jam dengan 2.000 turis, butuh 40 bus dan pemandu bahasa asing. Semua segmen ini lewat di Kota Sorong, tapi belum kita layani dengan serius dan potensi PAD itu lewat dan tidak maksimal.<\/p>\n\n\n\n<p>Untuk mengubah itu, RIPPDA Papua Barat Daya harus tegas menempatkan Sorong sebagai <em>&#8220;Transit City &amp; MICE Hub&#8221;<\/em>. Tetapkan kawasan Km 0 sampai Km 10 sebagai Kawasan Strategis Pariwisata Transit. Artinya, APBD fokus benahi trotoar, lampu jalan, taman, dan toilet umum di jalur itu. Sediakan amenitas dan atraktif penunjang. Beri insentif pajak hotel bagi travel agent yang menjual paket 1 malam Kota Sorong plus Raja Ampat dan paket wisata lainya. Buat Perda retribusi wisatawan Rp25.000 per orang yang masuk lewat bandara dan pelabuhan. Dari 225.000 orang saja, sudah Rp5,6 miliar PAD langsung masuk tanpa membebani rakyat ke kasda Kota Sorong.<\/p>\n\n\n\n<p>Produk lokalnya juga harus disiapkan. Buat &#8220;Transit Hotel&#8221; dengan rate 6 jam Rp200.000 untuk istirahat dan titip koper. Buka &#8220;Transit Lounge&#8221; milik Pemda di bandara dan pelabuhan, isinya 100 persen UMKM lokal: Sagu dari Seget, Salawati, abon ikan, kopi dari Tambraw, Bete dari Maybrat, noken, ukiran dan berbagi sovenir khas Papua. Jangan kasih ruang untuk produk dari luar. Dorong MICE dengan cara jemput bola: setiap bulan harus ada satu event nasional ainternasional baik festival seminar atau apa saja di Kota Sorong. Satu rakornas dengan 500 peserta menghabiskan Rp3 miliar dalam 3 hari. Uang itu pastinya mengalir ke hotel, catering, EO, penari lokal, percetakan, driver online, mobil rental, ojek bahkan sampai ke lapak mama-mama Papua penjual pinang.<\/p>\n\n\n\n<p>Semua itu tidak akan jalan tanpa Sadar Wisata. MICE gagal kalau listrik mati saat even nasional atau internasioanl. Transit gagal kalau sopir taksi pasang harga dan satpam bandara tidak ramah semua itu terhubung erat. Sapta Pesona harus jadi napas semua orang di Kota Sorong, dari Gubernur, kepala bandara, walikota sampai penjual bensin eceran dan penjual ikan di jempur. Aman, Tertib, Bersih, Sejuk, Indah, Ramah, Kenangan. Warning; satu review bintang satu di TripAdvisor bisa bikin 10 calon turis batal datang. Satu senyum tulus dari warga Kota Sorong bisa bikin mereka nambah satu hari. Dan khirnya, kita harus jujur: Raja Ampat adalah etalase, tapi Kota Sorong adalah kasirnya. Selama kasirnya sepi dan kotor, sebesar apa pun etalasenya, toko tidak akan untung. Bagi saya Target PAD Rp140-200 miliar pada 2030 dari sektor wisata bukan mimpi. Syaratnya satu: ubah pola pikir dari &#8220;kota numpang lewat&#8221; menjadi &#8220;kota wajib singgah&#8221;. Tahan wisatawan satu malam lebih lama. Kasih mereka alasan untuk keluarkan dan buka dompet mereka di Kota Sorong, bukan cuma di Waisai.<\/p>\n\n\n\n<p>Kalau Bali punya Denpasar, kalau Makassar punya Losari di pusat kota, maka Papua Barat Daya harus punya Kota Sorong sebagai <em>One Stop Transit Area<\/em>. Tugas kita sekarang memastikan setiap orang yang datang ke Raja Ampat pulang dengan dua cerita: indahnya Pianemo, dan ramahnya Kota Sorong. Kalau itu terjadi, PAD naik, pengangguran turun, anak-anak Sorong tidak perlu lagi merantau untuk cari kerja. Uang itu berputar di sini, di tanah kita sendiri di Kota Sorong.<\/p>\n\n\n\n<p>Mari untuk seluruh stake holder dan share holder Kota Sorong lakukan Kolaborasi untuk jadikan kota Sorong sebagai <em>One Stop Transit Area<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p><em>Tuhan Baik!!!<br>Sa Sayang Papua<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><strong>DFW<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Derek F. Wamea, S.Pd.,M.Si Setiap hari, secara&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":11258,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"om_disable_all_campaigns":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"kia_subtitle":"","_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[11,1,15],"tags":[],"newstopic":[],"class_list":["post-11257","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita","category-blog","category-opini"],"aioseo_notices":[],"views":13,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/detikpapua.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11257","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/detikpapua.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/detikpapua.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/detikpapua.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/detikpapua.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=11257"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/detikpapua.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11257\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":11259,"href":"https:\/\/detikpapua.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11257\/revisions\/11259"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/detikpapua.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/11258"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/detikpapua.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=11257"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/detikpapua.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=11257"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/detikpapua.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=11257"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/detikpapua.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/newstopic?post=11257"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}