{"id":11207,"date":"2026-05-02T03:04:41","date_gmt":"2026-05-02T03:04:41","guid":{"rendered":"https:\/\/detikpapua.net\/?p=11207"},"modified":"2026-05-02T03:04:42","modified_gmt":"2026-05-02T03:04:42","slug":"ketua-komisi-iv-soroti-potret-pendidikan-di-papua-barat-daya-masih-ada-ketimpangan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/detikpapua.net\/index.php\/2026\/05\/02\/ketua-komisi-iv-soroti-potret-pendidikan-di-papua-barat-daya-masih-ada-ketimpangan\/","title":{"rendered":"Ketua Komisi IV Soroti Potret Pendidikan di Papua Barat Daya: Masih Ada Ketimpangan"},"content":{"rendered":"\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\">\n<p>&#8220;Kemajuan yang telah dicapai adalah bukti nyata kesungguhan semua pihak, sementara tantangan yang tersisa menjadi pengingat bahwa upaya ini belum selesai&#8221; <strong>David Sedik, A.Md (Plt. Ketua Komisi IV DPR Papua Barat Daya)<\/strong><\/p>\n<\/blockquote>\n\n\n\n<p><strong>Sorong, Detikpapua.Net \u2013<\/strong> Hari ini, bangsa Indonesia kembali memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), momen istimewa yang bukan sekadar perayaan, melainkan waktu yang tepat untuk merenung, mengevaluasi, dan memperkuat kembali komitmen seluruh anak bangsa terhadap dunia pendidikan, sebagai fondasi utama kemajuan peradaban bangsa.<\/p>\n\n\n\n<p>Sepanjang perjalanan pembangunan pendidikan, berbagai kemajuan nyata telah diraih. Akses pendidikan semakin meluas hingga ke pelosok desa dan daerah terluar, ketersediaan fasilitas belajar terus ditingkatkan, kurikulum disesuaikan dengan kebutuhan zaman, dan kualitas tenaga pendidik terus dikembangkan lewat berbagai pelatihan dan pembinaan. Namun demikian, kolektifitas potret pendidikan di tanah air masih menyisahkan sejumlah problematika, khususnya di wilayah Timur Indonesia termasuk Papua Barat Daya.<\/p>\n\n\n\n<p>Plt. Ketua Komisi IV DPR Papua Barat Daya David Sedik, A.Md mengatakan, momentum Hari Pendidikan Nasional kali ini sangat tepat menjadi ruang reflektif yang mengajak kita untuk jujur melihat realitas yang ada. Bawasannya, tantangan pemerataan kualitas pendidikan masih menjadi pekerjaan rumah (PR) besar untuk diselesaikan diwaktu kedepan.<\/p>\n\n\n\n<p>Di wilayah Provinsi Papua Barat Daya, tangangan kesenjangan kualitas layanan pendidikan antara wilayah ibukota dengan daerah terpencil masih terasa. Ketersediaan tenaga pendidik yang berkualitas dan merata belum sepenuhnya tercapai. Kesejahteraan guru, sarana dan prasarana pendidikan hingga kualitas SDM tenaga pendidik masih belum maksimal dikerjakan, terlebih khusus di wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan dan Terluar).<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Kita harus jujur bahwa hari ini kita masih menghadapi sejumlah problematika mendasar dalam bidang layanan pendidikan di provinsi ini. Potret pendidikan kita masih mengalami ketimpangan. Dari sisi kesejahteraan guru, sarana dan prasarana serta peningkatan SDM tenaga pengajar khususnya di wilayah 3T selama ini belum berjalan dengan baik bahkan sangat lambat,&#8221; ujar David saat diwawancarai awak media berkenaan Perayaan Hardiknas 2026 di Sorong, Provinsi Papua Barat Daya, Sabtu (02\/05\/2026).<\/p>\n\n\n\n<p>Meski demikian, Kader Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) ini tetap memberikan apresiasi kepada pemerintah Provinsi Papua Barat Daya bersama pemerintah kabupaten kota yang ada, karena telah melakukan berbagai upaya sehingga layanan pendidikan tetap tersedia dan berjalan. Ia mengungkap ditengah tantangan dan keterbatasan yang ada, pemerintah tetap konsisten menjadi garda terdepan dalam menjaga nadi pendidikan terus berdenyut.<\/p>\n\n\n\n<p>Momentum Hardiknas ini, lanjut David, juga sekaligus mengingatkan bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bersama antara pemerintah, pendidik, orang tua, dan seluruh elemen masyarakat. Tidak ada satu pihak pun yang bisa berjalan sendiri dalam mewujudkan cita-cita pendidikan yang adil, berkualitas, dan bermartabat bagi seluruh masyarakat di provinsi ini.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Kemajuan yang telah dicapai adalah bukti nyata kesungguhan semua pihak, sementara tantangan yang tersisa menjadi pengingat bahwa upaya ini belum selesai. Pendidikan disini bukan hanya soal transfer ilmu pengetahuan, melainkan juga upaya membangun harapan dan masa depan bagi generasi penerus. Semua pihak, baik pemerintah, masyarakat maupun pemangku kepentingan, harus berkomitmen untuk melengkapi potret ini dengan warna yang lebih cerah, agar setiap anak di Papua Barat Daya dapat merasakan pendidikan yang layak, setara, dan bermutu,&#8221; tegas David.<\/p>\n\n\n\n<p>Lebih jauh, Legislator dari Dapil Maybrat-Tambrauw ini menegaskan bahwa dalam agenda memajukan dunia pendidikan di Papua Barat Daya perlu ada langkah-langkah atau tindakan luar biasa (extraordinary measures) yang diambil oleh pemerintah selaku regulator pendidikan. Perlu adanya intervensi dari pemerintah pusat dan provinsi baik dalam perspektif kebijakan maupun anggaran untuk membantu daerah, khususnya wilayah 3T dalam pemerataan layanan kualitas pendidikan.<\/p>\n\n\n\n<p>Selain itu, pemerintah juga diminta mempersiapkan program khusus untuk mempersiapkan SDM orang asli Papua (OAP) agar terwujudnya Papua cerdas 2045. Pemerintah harus memberikan jaminan akses dan kemudahan bagi OAP melalui program pendidikan gratis, beasiwa, pertukaran pelajar, sekolah kedinasan hingga program lainnya, yang bisa memutus mata rantai ketertinggalan sebagaimana potret nyata yang dialami orang asli Papua hari ini.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Mari kita tegakkan kembali tekad, terus berjuang melengkapi segala kekurangan, memperbaiki apa yang belum sempurna, dan menjadikan pendidikan sebagai jalan utama mewujudkan Papua yang maju, beradab, dan bermartabat. Semoga semangat Hardiknas senantiasa menyala di setiap hati, demi masa depan Papua Barat Daya dan Indonesia yang lebih cerah,&#8221; pungkasnya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>&#8220;Kemajuan yang telah dicapai adalah bukti nyata kesungguhan&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":11208,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"om_disable_all_campaigns":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"kia_subtitle":"","_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[11,1,22],"tags":[],"newstopic":[],"class_list":["post-11207","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita","category-blog","category-pendidikan"],"aioseo_notices":[],"views":6,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/detikpapua.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11207","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/detikpapua.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/detikpapua.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/detikpapua.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/detikpapua.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=11207"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/detikpapua.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11207\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":11209,"href":"https:\/\/detikpapua.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11207\/revisions\/11209"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/detikpapua.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/11208"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/detikpapua.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=11207"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/detikpapua.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=11207"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/detikpapua.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=11207"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/detikpapua.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/newstopic?post=11207"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}