{"id":11118,"date":"2026-04-29T01:50:39","date_gmt":"2026-04-29T01:50:39","guid":{"rendered":"https:\/\/detikpapua.net\/?p=11118"},"modified":"2026-04-29T01:50:43","modified_gmt":"2026-04-29T01:50:43","slug":"agustinus-kabes-guru-dan-martir-dalam-lintasan-sejarah-katholik-hubula","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/detikpapua.net\/index.php\/2026\/04\/29\/agustinus-kabes-guru-dan-martir-dalam-lintasan-sejarah-katholik-hubula\/","title":{"rendered":"AGUSTINUS KABES : GURU DAN MARTIR DALAM LINTASAN SEJARAH KATHOLIK HUBULA"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"has-text-align-left\"><strong><em>Oleh: Pastor Frans Lieshout, OFM<\/em><\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center\"><strong>Riwayat Guru dan Martir Agustinus Kabes<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center\"><strong>KATA PENGANTAR<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah\u201d. Sabda Yesus ini telah terbukti kebenaran-Nya dalam wafat dan kebangkitan-Nya sendiri. Demikian juga kematian para martir sepanjang sejarah Gereja Kristus telah memberikan kesuburan kepada tanah agar benih Sabda-Nya dapat tumbuh dan berkembang. Juga di tanah Papua benih Sabda Tuhan dapat berkembang berkat penumpahan darah martir-martirnya, antara lain: Misionaris yang pertama, pater Le Cocq d&#8217; Armandville SJ tenggelam atau dibunuh di pantai Mimika pada tanggal 27 Mei 1896, Pater Auxilius Guikers OFM, yang dibunuh oleh tentara Jepang di pantai Ransiki dekat Manokwari pada tanggal 16 April 1942. Tidak lama kemudian Guru Antonius Harbelebun dibunuh oleh tentara Jepang di Arandai (Kepala Burung) karena melindungi anak-anak sekolah di Mugitira yang dipaksakan pindah agama dan menjadi Islam. Di Paniai, tepatnya di Obano, keluarga guru asal Mimika: Bapak Agustinus Tiriuta beserta Ibu dan anaknya dibunuh oleh orang yang tidak tahu apa yang mereka perbuat &#8221; (Lk. 23:34).<\/p>\n\n\n\n<p>Demikian pula sejarah Gereja Katolik di Jayawijaya, Papua, khususnya di Lembah Balim, tidak dapat ditulis tanpa menyebut dengan hormat nama dan jasa para guru katolik bagi pembangunan masyarakat pada umumnya dan pekabaran Injil pada khususnya. Salah seorang guru perintis di awal sejarah Gereja Balim adalah guru Agustinus Kabes. Guru muda ini pantas diingat dan dihormati secara khusus karena ia telah memberikan nyawanya demi karya pendidikan di daerah itu. Ia dibunuh oleh sekelompok masyarakat Balim pada tanggal 07 Maret 1962 di Kibaima, tidak jauh dari kampung Waga-Waga, Distrik Kurelu.<\/p>\n\n\n\n<p>Peristiwa menyedihkan itu menjadikan guru Agustinus sebagai seorang tokoh katolik di awal sejarah keselamatan masyarakat Balim dan sebagai teladan bagi semua guru yang mengabdikan diri demi masa depan generasi muda di Lembah Balim itu. Agustinus Kabes adalah &#8220;Guru, Pewarta dan Martir&#8221;.<\/p>\n\n\n\n<p>Sebagai penghormatan kepada guru Agustinus dan agar nama serta jasanya tetap diingat oleh umat katolik dan oleh masyarakat Balim pada umumnya, kami menyusun buku kecil ini yang kami persembahkan kepada guru-guru YPPK. Semoga iman dan keberanian guru Agustinus Kabes memberikan inspirasi dan semangat pengabdian kepada mereka semua.<\/p>\n\n\n\n<p>Masih ada maksud lain lagi untuk menulis tentang peristiwa itu yang setelah empat puluh tiga tahun masih mengganggu pikiran sebagian masyarakat Balim. Dampaknya masih terasa bagi masyarakat dan daerah itu. Kehidupan mereka masih terganggu karena belum pernah terjadi suatu pertemuan dan rekonsiliasi antara pihak guru Agustinus dan masyarakat, agar mereka semua dapat mengalami kedamaian dan ketenteraman.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>I. SIAPAKAH AGUSTINUS KABES ?<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Ia lahir di Werfra, sebuah kampong kecil di daerah FakFak, pada tanggal 4 Juni 1941 sebagai anak kandung tunggal suami-isteri Bapak Tobias Kabes dan Ibu Maria Magdalena Amor. Masih ada lima anak lagi dalam keluarga nelayan itu, tetapi mereka semua anak angkat. Pada tanggal 12 Oktober Agustinus menerima Sakramen Permandian di gereja katolik Werfra dan Sakramen Krisma diterimanya di Fak-Fak pada tanggal 2 Nopember 1958.<\/p>\n\n\n\n<p>Sampai sekarang orang-orang Werfra masih mengenang Agustinus sebagai <em>&#8220;seorang anak yang jujur, murah hati, sabar dan suka membantu. Ia agak pendiam namun mudah tersenyum; ia tidak suka kasar atau ribut-ribut, ia tampil rapih, bersih dan ia rajin bekerja. Ia senang dengan hewan piaraan seperti anjing dan ayam; dan sebagai anak pantai tentu ia suka memancing ikan&#8221;.<\/em> Demikianlah masyarakat ungkapkan kepada Bruder Eligius Fenenteruma OFM yang pada bulan Mei 2002 mengunjungi keluarga Kabes di Werfra. Pada waktu itu Ibu Maria Magdalena Amor masih hidup dan sempat berceritera tentang anak kesayangannya Agustinus.<\/p>\n\n\n\n<p>Pada usia sebelas tahun Agustinus masuk sekolah, yaitu tiga tahun Sekolah Rakyat di kampungnya sendiri dan tiga tahun lagi lanjutan di VVS Fak-Fak. Di zaman itu Fak-Fak telah menjadi Pusat Pendidikan Katolik, yang dikelola dan diasuh oleh biarawan Fransiskan. Dari seluruh tanah Papua dikirim anak anak muda ke sekolah di Fak-Fak.<\/p>\n\n\n\n<p>Seorang alumnus VVS waktu itu (kini ia seorang tokoh katolik di Jayapura), pada tahun 2001 masih ingat baik adik kelasnya bernama Agustinus Kabes sebagai <em><strong>&#8220;seorang penggemar olah raga khususnya bola kaki. Dan Direktur VVS waktu itu pater Frans van Maanen, OFM biasanya menjaga gawang kalau ada pertandingan sepak bola. Agustinus memperlihatkan juga bakatnya sebagai tukang kayu, bahkan ia pandai membuat perahu. Dan seperti semua anak asrama di mana pun juga, Agustinus tak bisa lepas dari kenakalan bersama dengan teman-temannya; itulah seni hidup seorang anak asrama&#8221;.<\/strong><\/em> Demikianlah diungkapkan oleh Bpk. Urbanus Siante pada tahun 2001.<\/p>\n\n\n\n<p>Setelah tamat SD, Agustinus melanjutkan pendidikannya di ODO (Pendidikan Guru Kampung) di Fak-Fak. Pada bulan Juli 1961 ia berhasil dengan baik dalam ujian akhir dan mendapat gelar: &#8220;Guru SD&#8221;. Ia langsung ditunjuk sebagai guru SD di Lembah Balim, tepatnya di daerah pelayanan mantan Direktur sekolahnya, pater Frans van Maanen OFM. Ia sangat senang dan bangga karena pengangkatan itu. Sebelum ia meninggalkan orangtua dan kampung halamannya, diadakan acara syukuran sekaligus perpisahan. Pada acara itu Agustinus mengungkapkan terhadap teman-temannya bahwa ia masih mempunyai cita-cita untuk menjadi biarawan atau pastor.<\/p>\n\n\n\n<p>Dengan sebuah perahu dayung Guru Agustinus dihantar ke kota Fak-Fak; perjalanan itu ditempuh dalam waktu dua hari dua malam. Pada zaman sekarang ini, dengan motor tempel, bisa dalam beberapa jam saja. Di kota Fak-Fak ia kemudian naik kapal KPM menuju Jayapura. Dari Jayapura ia naik pesawat terbang dari Sentani sampai di Wamena, Lembah Balim, pada akhir bulan Agustus 1961. Suatu dunia baru baginya, namun ia tidak sempat menulis dan menceriterakan kepada Orangtuanya tentang pengalamannya. Sampai pada harinya mereka dikejutkan dengan berita duka tentang anak mereka itu.<\/p>\n\n\n\n<p>Kurang lebih enam bulan setelah ia mulai bertugas di Lembah Balim, tanggal 7 Maret 1962, Agustinus Kabes menemui ajalnya di kampung Kibaima, Distrik Kurelu. Ia dibunuh oleh sekelompok masyarakat setempat. Umurnya pada waktu itu belum sampai 22 tahun.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>II. SITUASI UMUM DI LEMBAH BALIM DI AWAL TAHUN ENAMPULUHAN<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Untuk dapat memahami peristiwa pembunuhan itu perlu diketahui lebih dahulu situasi umum di Lembah Balim dan khususnya di daerah Kurelu pada masa itu.<\/p>\n\n\n\n<p>Masyarakat di Lembah Balim baru saja mengenal dunia luar dan sebaliknya. Pada tanggal 20 April 1954 pihak Cama memulai karyanya yaitu pekabaran Injil kepada masyarakat, sedangkan pemerintah Belanda membuka posnya yang pertama di Wesaput\/Wamena pada tanggal 14 Desember 1956.<\/p>\n\n\n\n<p>Misionaris yang pertama dari pihak Gereja Katolik, pater Arie Blokdijk OFM, tiba di Wamena\/Wesaput pada tanggal 5 Pebruari 1958. Mulai dari Wamena dibuka pos-pos pelayanan Gereja bulan demi bulan: Holima (Hubikiak), Musatfak, Asologoima, Wo&#8217;ogi (Kimbin), Yumugima (Siepkosi). Pembukaan pos baru selalu harus melalui suatu proses: kontak awal, kunjungan perkenalan lebih intensif, khususnya dengan kepala Suku dan pelayanan di bidang kesehatan yang mana mengundang kepercayaan masyarakat. Di beberapa tempat misionaris mulamula ditolak, bukan karena orang-orang Balim menolak seorang tamu, melainkan karena kebetulan ada perang suku atau karena khawatir bahwa pengaruh dan barang dari luar dapat mengganggu keselamatan masyarakat. Sesuatu yang tidak berkenan pada para leluhur dapat berakibat buruk bagi kehidupan mereka, misalnya terganggu kesehatan dan kesuburan tanaman, hewan dan manusia, bahkan dapat membawa kematian.<\/p>\n\n\n\n<p>Pembukaan pos Misi di wilayah kekuasaan Kepala Suku Bpk. Kurelu Mabel termasuk cukup sulit, namun setelah berkenalan dan bersahabat dengan Bapak Kurelu, pastor Frans van Maanen OFM dapat membuka pos pertama di daerah tersebut pada tanggal 1 Desember 1960, yaitu di kampung Simokak.<\/p>\n\n\n\n<p>Setelah dibuka beberapa &#8220;pos Misi&#8221;, tersebar di seluruh lembah Balim, Gereja Katolik segera mulai dengan kegiatan pendidikan. Untuk itu dibangun gedung-gedung sekolah di Wamena (Nopember 1959); di Holima, Musatfak dan Yumugima (tahun 1960) dan lagi 7 sekolah di tahun 1961. Kegiatan pendidikan tidak pernah berhenti. Motivasinya ialah bahwa melalui pendidikan formal generasi muda dapat lebih cepat dipersiapkan untuk masa depan yang baru. Mungkin terlalu cepat, sebab dalam waktu singkat kehadiran sekolahsekolah di begitu banyak tempat itu. Apakah masyarakat sudah dapat menerimanya? Ternyata tidak semuanya menerima. Ada yang menolak dan membakar gedung-gedung sekolah karena berbagai macam alasan misalnya karena hujan terus menerus turun setelah ada gedung sekolah. Gedunggedung sekolah yang dibakar antara lain di Miligatnem (Kimbin), Sama (Musatfak) dan dua di daerah Kurelu, yaitu di Maikmo dan Lukigin. Dengan segera gedung-gedung itu dibangun kembali di lokasi yang baru seperti: sekolah Maikmo dipindahkan lokasinya ke Mulima dan sekolah Lukigin dibangun kembali di Musalfak. Di tempat inilah tugas pertama guru Agustinus Kabes. Namun karena sekolah itu tidak mempunyai murid maka guru Agustinus ditarik ke Simokak untuk membantu pastor Frans van Maanen OFM membangun gedung sekolah baru di Kibaima, tidak jauh dari Waga-waga. Guru Agustinus menjadi tukang. Tugas para guru di zaman itu memang agak beragam dan mereka harus dapat berimprovisasi; mereka menjadi pembantu pastor, katekis, tukang kayu dan juga guru yang mengajar di sekolah dengan terlebih dahulu mencari anak-anak. Di buku kecil in dapat disebutkan hanya beberapa nama dari antara banyak guru perintis a.l. Yan Amo dari Waris, Frans Waraopea, Nico Miweyao, Charles Kamukupeyao, T. Waokateyao dan Y. Ikikitaro dari Mimika, G. Kato dan Frans Harbelebun dari FakFak; Natalis Kuyami dari Kaimana, A. Temongmere dari FakFak dan Abraham Gewab dan lebih banyak lagi. Di zaman itu biasanya seorang guru tidak ditempatkan di daerahnya sendiri agar tidak tenggelam dalam berbagai urusan adat dan marganya; kebijakan itu ternyata cukup efektif dan menguntungkan mutu pendidikan.<\/p>\n\n\n\n<p>Pada tanggal 19 Pebruari 1962 Pastor Frans van Maanen OFM bersama guru Agustinus membangun kerangka gedung sekolah di Kibaima. Sebelumnya pastor Frans sudah &#8220;membeli&#8221; tanah lokasi itu dari seorang penduduk Kibaima yang bernama Mokat-mokat. Sesudah itu guru Agustinus melanjutkan pekerjaan itu, dibantu oleh dua pemuda asli Balim yaitu Pele Wetipo dan Wareke Alua. Untuk itu setiap hari mereka pergi-pulang antara Simokak dan Kibaima. Pada suatu hari terjadilah suatu insiden kecil namun menarik. Dalam perjalanan menuju Kibaima, sementara berjalan di tengah rumput tinggi, alang-alang, mereka dicegat oleh seorang lakilaki yang gagah, badannya dioles dengan minyak babi dan dihiasi dengan berbagai macam hiasan serta sebuah tombak ditangannya, seperti lazim orang-orang Balim yang pergi ke medan perang. Ia menari-nari di depan guru Agustinus dan mengancam mau menikamnya dengan tombaknya. Guru Agustinus mula-mula terkejut tetapi kemudian ia meletakkan alat-alat tukang di tanah dan dengan menunjuk tangannya yang kosong tanpa mengucapkan satu kata pun ia memperlihatkan kepada orang itu bahwa ia tidak bersenjata. Orang itu berhenti menari dan memandang ke guru Agustinus. Kemudian ia menancapkan tombaknya dan memeluk guru Agustinus sebagai ungkapan persahabatan.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>III. PERISTIWA PEMBUNUHAN<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Pada tanggal 7 Maret 1962, hari Rabu, kira-kira jam setengah sembilan pagi, guru Agustinus dan kedua pembantunya berangkat seperti biasanya dari Simokak menuju Kibaima. Belum lama mereka bekerja, tiba-tiba mereka dikepung oleh sekitar sepuluh orang dari kampung Heima. Sekitar jam sebelas, waktu pesawat Twin-pioneer lewat di udara di atas mereka, pada waktu itu terjadilah peristiwa pembunuhan terhadap guru Agustinus.<\/p>\n\n\n\n<p>Beberapa hari sesudah peristiwa menyedihkan itu, salah seorang dari kedua pembantu guru Agustinus, yaitu Wareke Alua, menceriterakan sebagai saksi mata tentang peristiwa itu. Isinya kesaksian itu yang langsung dicatat oleh orang lain dan diperbaiki redaksinya oleh penulis buku ini, selengkapnya adalah sebagai berikut:<\/p>\n\n\n\n<p><em><strong>Saya pergi bersama dengan Pele Wetipo, pembantu pater Frans van Maanen, dan guru Agustinus dari Simokak ke Kibaima. Pada hari-hari sebelumnya kami sudah selesaikan kerangka gedung sekolah disitu. Kami membawa kulit-bia dan walimoken untuk membeli lokop (anyaman buluh untuk dinding) dan alang-alang untuk menutupi atap gedung. Pada waktu itu kami tidak mendengar kabar apa-apa.<\/strong><\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em><strong>Kayu untuk gedung itu kami dapat dari masyarakat kampung Waga-waga, Iyantik dan Kibaima sendiri. Tanah untuk lokasi sekolah sudah dibeli oleh pater dari Mokat-mokat asal Kibaima. Mokat-mokat adalah ayah dari Pele dan memang mereka menyetujui pembangunan sekolah di situ. Pater sudah membayar tanah itu dengan kapak, parang dan mikhak (sejenis siput) besar.<\/strong><\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em><strong>Tetapi ada pihak lain, yaitu Uwo dan sekelompok dari famnya Logo, mereka sedikit marah dan bertanya: &#8220;Mengapa orang memberi tempat itu, tempat wesa (sakral) di Kibaima itu&#8221;? Paitua Mokat-mokat sudah pernah melapor hal itu kepada saya dan kepada pater, bahwa ada orang yang marah. Tetapi pater mengatakan: &#8220;Itu omong kosong. Kita tahu bahwa tanah itu milik Mokat-mokat dan kami sudah membayarnya. Jadi kalau orang-orang marah, jangan mendengarkan, nanti lihat saja&#8221;.<\/strong><\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em><strong>Waktu kami ke sana, saya membawa tas, Pele membawa gergaji dan Agustinus memegang dia punya parang Biak. Setelah sampai, kami mau membayar orang-orang yang sudah membawa lokop dan alang-alang, namun karena orang-orang itu belum berkumpul, pak guru mengatakan: &#8220;Nanti saja kalau orang-orang sudah berkumpul kita membayar sekaligus&#8221;. Setelah mengukur dan memotong kayu untuk gording-gording, kami mau mulai memasangnya. Tetapi pada waktu itu ada orang datang kepada saya, yaitu ipar saya, Helel, yang mengatakan: &#8220;Ipar, saya mendengar bahwa ada orang yang mau membunuh kamu bersama dengan guru. Lebih baik kamu kembali saja ke Simokak&#8221;. Saya pergi sama guru: &#8220;Guru, ada orang-orang yang mau membunuh kami. Orang-orang itu dari fam Logo, kepala suku Uwo sudah mengaturnya&#8221;. Tetapi guru menjawab: &#8220;Jangan kau omong kosong. Kalau kau lapar, pulang sudah ke Simokak&#8221;. Sudahlah, dia marah dan saya diam saja. Tetapi untuk kedua kalinya Helel datang: &#8220;Ah ipar, nanti kamu lihat sendiri. Tidak lama lagi satu pasukan besar akan datang&#8221;. Sudah, saya lapor lagi kepada guru: &#8220;Bapa, ini bukan tipuan. Ipar saya katakan bahwa orang-orang sudah bersembunyi di hutan, di mana ada mata air&#8221;. Tetapi guru tidak percaya dan berkata: &#8220;Kasihan, kau lapar, pulang saja&#8221;. Ipar saya mengatakan: &#8220;Kalau kamu tidak percaya saya, nanti lihat saja. Di hutan sana, di tempat berair itu, sudah bersembunyi satu pasukan besar&#8221;. Tidak lama sesudah itu saya melihat satu orang yang bernama Wulan, ke luar dari sana dengan memegang tombak di tangannya. Ia berteriak : &#8220;Kami sudah melarang toh, kenapa kamu mau bikin rumah di sini lagi?&#8221;<\/strong><\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em><strong>Saya menoleh dan melihat satu pasukan yang sedang bersiapsiap. Jauhnya kira-kira sampai rumah Menobiluk (k.l. 100 meter). Mereka keluar dan saya bilang: &#8220;Guru, lihat, itu pasukan yang tadi saya laporkan. Kasihan, guru mau larikah&#8221;? Saya katakan: &#8220;Bapa lari di depan, saya di belakang&#8221;, tetapi guru menjawab: &#8220;Engkau di depan &#8220;. Begitulah kami dua baku tolak dan terpaksa saya di depan. Guru mau lari, tetapi tidak tahu lari. Saya biasa lari-lari dan bisa melompat lewat parit-parit. Tetapi guru ketinggalan di belakang. Saya menoleh ke belakang dan melihat satu orang yang bernama Amungke dari fam Yu&#8217;usuk, yang memegang sebuah tombak putih, nama diwu. Dialah yang pertama menikam guru di bagian rusuknya. Saya mau balik tetapi guru berkata: &#8220;Aduh anak, selamat jalan, sekarang bapak tidak bisa datang lagi &#8220;.<\/strong><\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em><strong>Lima orang mulai mengejar saya lagi. Saya mendengar satu paitua yang memberi komando kepada mereka : \u201cKejar anak itu, kamu harus bunuh dia; anak itu biasanya menghantar guru-guru &#8220;. Siapa paitua itu, saya tidak tahu karena saya tidak melihat mukanya. Tetapi saya lari kuat, lari ke kampung bagian Waga-waga, yakni Yementek. Saya tidak bermaksud untuk masuk di kampong Yementek itu, tetapi Pele mau ke kampong itu. Orang-orang hampir membunuh Pele juga, tetapi Pele masuk di sebuah parit dan bersandar pada pinggirnya. Kemudian orang-orang datang untuk menikam dia, mereka sudah melempar tombak-tombaknya namun tidak mengena dia. Kemudian Pele lari dan masuk di kampong Yementek, kampungnya paitua Sula.<\/strong><\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em><strong>Orang-orang mengejar dia terus dan mau masuk di kampong Sula juga. Tetapi paitua itu, seorang kepala suku besar, mengatakan: &#8220;sekarang ia sudah masuk di rumah saya, maka ia tidak boleh diganggu lagi&#8221;, dan ia menyuruh pasukan itu kembali. Dari situ mereka mulai mencari saya lagi. Saya sudah tembus di jalan Waga-waga. Di sana saya bertemu dengan seorang bapak yang mengatakan: \u201cKau mari kesini dulu, kalau lari terus kau akan dapat bahaya &#8220;. Tetapi saya katakan: &#8220;Oh bapa, saya tidak percaya &#8220;. Sebab saya kurang kenal orang itu. Dia minta saya bersembunyi di kampungnya, tetapi saya kurang percaya dia. Waktu saya lari demikian, saya memegang sebuah martelo dan tiga buah paku. Saya memegangnya terus sampai tiba di Simokak. Sesudah bertemu dengan paitua tadi saya lari teruuuus, sampai di kampong Umpagalo. Saya kehabisan napas maka saya istirahat sesudah melewati kampong itu. Kemudian saya melihat orang-orang datang, mungkin mereka mau membunuh saya kah? Saya menyembunyikan diri di tengah rumput dan setelah mereka sudah lewat saya lari terus sampai di Simokak.<\/strong><\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em><strong>Guru Yan Amo dari Waris itu sedang mengajar anak &#8211; anak di sekolah. Celana saya basah maka guru bertanya: &#8220;Kenapa kau datang?&#8221; &#8220;Aduh bapa, orang sudah membunuh pak guru dan Pele&#8221;. Sebab saya sangka bahwa Pele sudah mati. Tetapi guru Yan tidak mau percaya dan ia bilang: &#8220;Mungkin engkau tidak mau bekerja karena lapar, sehingga datang kembali&#8221;. Sesudah itu air mataku mulai turun dan saya menangis terus disitu, di dalam gedung sekolah. Saya katakan: &#8220;Aduh bapa, dengar di luar, di mana-mana ada huru-hara&#8221;. Setelah ia keluar ia mendengar, di semua gunung ada huru hara dan etai (lagu dan tarian kemenangan). Guru Yan langsung pergi ke rumahnya dan mengambil sebuah parang Biak dan uang. Dan ia merobekkan celana panjangnya, karena guru Yan Amo, kepala sekolah di Simokak itu, menganggap guru Agustinus sebagai adiknya sendiri, pergaulan mereka sangat akrab.<\/strong><\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em><strong>Guru Yan pergi melaporkan peristiwa itu kepada polisi di Mulima: &#8220;Saya datang melaporkan bahwa di Kibaima orang-orang sudah membunuh seorang guru; ia sedang membangun gedung sekolah disitu tetapi dibunuh&#8221;. Komandan Pos membuat dua buah surat, satunya dikirim kemuka sedangkan saya disuruh untuk membawa yang kedua ke Wamena. Sampai di tempat dansa di Libarek, saya ketemu dengan pater van Maanen dan pater Peters yang baru datang dari Wamena. Pater bertanya: &#8220;Kenapa kau ke Wamena? Kau mempunyai pekerjaan toh?&#8221;. Saya menjawab: &#8220;Aduh, pater, guru dan Pele sudah dibunuh&#8221;.Pater tidak percaya maka saya katakan: &#8220;Ini betul!\u201d<\/strong><\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em><strong>Dan kepada tukang Herman asal Waris yang dengan pater-pater dari Wamena itu saya berkata: &#8220;Bapa, mungkin pater berpikir bahwa saya omong kosong sehingga tidak percaya saya&#8221;. Kemudian Herman sampaikan kepada pater: &#8220;Pater, ini mungkin betul, kasihan, lihat saja air matanya sudah turun&#8221;. Dan pater bertanya lagi: &#8220;Betulkah?&#8221;. Saya menjawab: &#8220;Betul, saya tidak menipu. Bagaimana saya bisa menipu pater. Lihat saja surat yang saya bawa ini&#8221;. Sesudah membaca surat itu pater bertanya: &#8220;Bagaimana, polisi sudah pergi kah atau masih ada?&#8221; dan saya menjawab: &#8220;Mereka masih ada dan sedang mengisi peluru dan memakai sepatu&#8221;.<\/strong><\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em><strong>Di Pos Polisi pater adakan perundingan dengan Komandan. Mereka sepakati untuk menunggu balasan dari Wamena. Tetapi kemudian pater memutuskan untuk berjalan dan mengambil mayat. Kami pergi dengan lima anggota polisi. Sampai di Wenabubaga ada orang yang menyampaikan bahwa mayat sudah dibawa ke kampung Simokak dan bahwa mereka mau memperabukan mayat menurut adat Balim.<\/strong><\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Pada waktu guru Agustinus dibunuh, masyarakat di sekitar gedung sekolah di Kibaima merasa terkejut karena serangan oleh sekelompok orang itu. Mereka melarikan diri namun segera kembali di bawah pimpinan bapak Sula. Pele ikut bersama Sula. Mereka langsung mulai memanah para penyerang itu, maka terjadilah perang singkat sampai para penyerang mengundurkan diri. Setelah itu rombongan Sula bersama Pele mengantar mayat Guru Agustinus ke kampung Simokak.<\/p>\n\n\n\n<p><em><strong>Masih di Wenabubaga pater mengatakan: \u201c Mari kita jalan cepat, supaya orang jangan membakar mayat&#8221;, tetapi saya bilang: &#8220;Pater, tidak mungkin kalau pater belum ada; mereka sendiri tidak bisa membakarnya secara diam-diam&#8221;. Di kampung Simokak paitua Apwarek sudah mulai mengatur segala sesuatu. Mayat sudah didudukkan di dapur umum dengan jerak terlingkar pada kepalanya. Ia sudah siapkan satu ekor babi dan sebuah &#8220;ye&#8221; (batu adat) dan ia bermaksud untuk membakar mayat menurut adat Balim. Ia mendesak pater, tetapi dia minta supaya disiapkan usungan dan membawa mayat ke Wamena.<\/strong><\/em><\/p>\n\n\n\n<p><strong><em>Pada waktu itu juga pater Frans van Maanen dan Herman Peters mengadakan doa bagi arwah Agustinus. Setelah itu jenasahnya disemayamkan di gereja. Kira-kira pada jam lima sore kami mulai jalan melalui jalan biasa dari Simokak melalui Wenabubaga sampai di Mulima. Di Mulima mayat dibawa masuk di Pos Polisi untuk melihat jumlah luka tusukan tombak.<\/em> <\/strong>(Ternyata Agustinus mendapat 21 tikaman tombak, 12 dari belakang dan 9 dari depan, yang satunya kena jantungnya).<\/p>\n\n\n\n<p><em><strong>Sesudah itu polisi dan masyarakat membawa mayat ke Tulem. Di Tulem pater minta motorboat dari pendeta Maxey. Pendeta rela segera membantu dan lebih dahulu menyeberangkan semua guru dan anak-anak ke seberang sungai Balim. Waktu mayat dimasukkan di boat itu hari sudah gelap, tidak ada bulan juga. Pater-pater bersama dengan Herman dan mayat pergi dengan boat sedangkan kami dan guru-guru dan anak-anak sekolah semua jalan kaki. Kami lewat kampung kepala suku Tugulik. Malam sudah gelap sekali dan kami tidak bisa membawa obor karena sedang hujan besar. Kami jalan terus sampai Wesaput di mana kami bertemu lagi dengan pater-pater dan mayat guru Agustinus. Orang-orang dari kampung Elilima mengangkat mayat itu dan memasukkannya di rumah panjang disitu.<\/strong><\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em><strong>Kemudian pater dan Wareke dengan Pele pergi ke HPB (Kepala Pemerintah) di kota. Kami duduk dekat api karena badan kami gementar karena kedinginan. HPB mau tanya kami, tetapi kami tidak bisa berbicara. Maka ibu HPB membuat kopi dan sup dan setelah minum dan makan kami memberikan segala informasi kepada HPB. Ia mencatat semuanya termasuk nama kampung dan nama kepala kampung itu, yaitu Uwo dari suku Logo, dan juga nama orang-orang yang membunuh guru. Setelah mencatat semuanya itu mereka melaporkannya kepada Polisi.<\/strong><\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Sampai disini kesaksian dari Wareke Alua. Jenasah guru Agustinus Kabes kemudian dimandikan oleh <strong>suster-suster dan pater Nico Verheyen OFM<\/strong>. Peti jenasah dibuat oleh DPU sedangkan pater Nico dan sejumlah anak mengurus kuburnya dan memperbaiki jalan ke pekuburan di Wamena, yang terletak di ujung lapangan terbang. Pendeta Aring menyediakan mobilnya sebagai mobil jenasah.<\/p>\n\n\n\n<p>Pada jam setengah lima sore, tanggal 8 Maret 1962, jenasah dipindahkan dari kapela pastoran ke gereja untuk Misa Arwah yang dipimpin oleh<strong> pater Frans van maanen OFM<\/strong>. Banyak orang menghadiri upacara tersebut antara lain: HPB, Polisi, Pendeta, DPU dan lain-lain sedangkan para pater dan suster menyanyikan Misa Requiem. Sesudah itu jenasah guru Agustinus Kabes dimakamkan di pekuburan umum. Di batu nisan pada kuburnya ada tulisan sbb:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center\"><strong><em>AKULAH KEBANGKITAN DAN KEHIDUPAN<\/em><\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center\"><strong><em>AUGUSTINUS KABES<\/em><\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center\"><strong><em>LAHIR DI WERFRA (FAKFAK)<\/em><\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center\"><strong><em>MENINGGAL DUNIA DI KITBAIMA LEMBAH BALIEM<\/em><\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center\"><strong><em>7 MARET 1962<\/em><\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center\"><strong><em>ANUGERAHILAH DIA ISTIRAHAT JANG KEKAL<\/em><\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Di kartu kenangan kematiannya tertulis: &#8220;Agustinus dibunuh oleh beberapa orang yang belum memahami kebaikannya terhadap mereka&#8221;; &#8220;Bagi para guru dan masyarakat Balim ia adalah seorang rasul yang baik karena cintanya bagi Tuhan dan sesamanya, kegembiraan, kesetiaan, kerelaan dan kesederhanannnya. Kita yakin bahwa sekarang ini, di surga, ia senantiasa mendoakan karya Misi di Lembah Balim, karena &#8220;Jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah&#8221; (Yoh. 2:24)&#8221;.<\/p>\n\n\n\n<p>Setelah acara pemakamaman, pater Frans van Maanen pergi ke Fak-Fak dan Werfra untuk menyampaikan berita duka selengkapnya kepada orangtua guru Agustinus dan seisi kampung Werfra. Mama Maria memang sangat sedih mendengar berita itu dan ia hampir hilang ingatannya karena Agus adalah anak yang paling baik. Mengapa ini harus terjadi? Pater Frans mengatakan: &#8220;Anakmu Agustinus adalah Guru, Pewarta dan Martir. Ia seorang yang rajin, sederhana, berani dan ia cinta kepada sesama&#8221;. Bapak Tobias juga sangat sedih namun merasa terhibur dengan kata-kata pater Frans itu. lama kemudian, pada tanggal 29 Maret 1962 Bapa<\/p>\n\n\n\n<p>Tidak Uskup Manfred Staverman OFM mengunjungi Werfra juga. Ia menyampaikan bahwa Agustinus tidak mati biasa karena sakit, ia tidak dibunuh juga karena ia mencuri atau melakukan suatu kejahatan lain. Ia mati secara luarbiasa dan kita patut menghormati dia karenanya. Ia mati seperti Kristus dan jiwanya langsung diterima oleh Tuhan. Kemudian Bapa Uskup menyerahkan dua buah salib, satu untuk gereja dan satu untuk keluarga Kabes. Sejak itu juga gereja di Werfra mempunyai nama: &#8220;Gereja Katolik Santo Agustinus&#8221;.<\/p>\n\n\n\n<p>SD Kibaima dibangun kembali di lokasi yang baru yaitu di Waga-waga. SD itu diberi nama: &#8220;SD YPPK Santo Agustinus&#8221;. Setelah lapangan terbang untuk AMA diresmikan di Yiwika pada tanggal 4 Maret 1963 dan juga pusat pelayanan Gereja dipindahkan dari Simokak ke Yiwika pada tanggal 20 Juli 1963, maka suara radio SSB Yiwika selama bertahuntahun tiap hari mengudara dengan nama: &#8220;Yiwika Kabes&#8221;.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>IV. AKSI DARI PIHAK PEMERINTAH<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Setelah menerima laporan tentang pembunuhan di \u2018Kibaima, HPB Lembah Balim segera beraksi dan mengadakan kontak dengan Komisaris Pegunungan di Jayapura, Bpk. Raphael de Haan. Keesokan paginya beliau dan enambelas anggota polisi tiba di Wamena dengan pesawat udara. Mereka mempersiapkan suatu patroli ke daerah Kurelu untuk menginvestigasi peristiwa pembunuhan guru Agustinus itu. Pada tanggal 9 Maret seorang pegawai Pemerintah, Bpk. Joop Veling bersama rombongan polisi dari Jayapura diterbangkan oleh MAF ke Tulem dan dari situ mereka dihantar oleh Kepala Suku Kurelu menuju ke kampung Heima. Ternyata mereka sudah ditunggui oleh sekelompok orang bersenjatakan tombak dan busur serta anak panah. Mereka itu sedang bersembunyi di belakang beberapa batu besar. Bapak Veling, yang berjalan di depan, tiba-tiba diserang oleh seseorang yang muncul dari belakang sebuah batu besar dan dari dekat melemparkan tombak kepadanya. Ia dapat menghindarinya tetapi terpaksa terjadilah kontak senjata singkat antara polisi dan para penyerang, dengan jatuhnya 3 orang korban mati di pihak penyerang yaitu: Huben-huben (salah satu pembunuh guru Kabes), Takurik dan Nakleak, sedangkan dua orang lainnya mengalami luka yaitu: Isaklaklek dari Heima dan Sabut, (yang juga salah satu pelaku pembunuhan). Dengan segera polisi dapat menguasai situasinya. Setelah rombongan dari Pemerintah dan Polisi kembali ke Wamena, kepala suku Kurelu pergi ke kampung Heimo dan membakar kampung itu sebagai hukuman atas pembunuhan guru Kabes itu.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>V. PELAKU DAN MOTIFNYA<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Sejak peristiwa pembunuhan itu pihak Gereja berusaha mencari tahu siapa-siapa atau pihak-pihak mana yang melakukannya, bukan untuk membalasnya melainkan untuk dapat mengetahui motif pembunuhan tersebut. Mengapa guru Agustinus harus dibunuh? Yang menjadi jelas ialah, bahwa di pihak guru Agustinus sendiri tidak ada kesalahan apapun. Setiap orang yang mengenal dia akan mengakui hal itu; apa lagi dalam pengusutan perkara ini tidak diperoleh sesuatu pun yang dapat memberatkan pribadi Agustinus itu sendiri.<\/p>\n\n\n\n<p>Pater Frans van Maanen menulis dalam sebuah laporan tertanggal 13 Maret 1962 tentang hal ini sbb: <em><strong>&#8220;Sebagai otak di belakang pembunuhan biadab ini disebut kepala suku Pakaram dari kampung Hukum, di pintu masuk Pass-Valley, yang sudah pernah melawan polisi di Kimbin juga. Ia telah mengirim tiga orang yang menyembunyikan diri di Kibaima, yaitu: Wulabei, Holapansu dan satu orang lagi&#8230; maka latarbelakang pembunuhan mungkin terletak di Kimbin dan Pass-Valley, di mana sudah pernah terjadi perlawanan keras terhadap segala macam pengaruh dari luar, yaitu dari Pemerintah, Misi, pakaian dsb. Pengaruh dari pihak itu terasa sampai di daerah Kurelu sampai bisa terjadi pembunuhan tak terduga itu. Kimbin dan Pass-Valley termasuk satu persekutuan perang dengan daerah Kurelu, dan di antara mereka itu terdapat banyak hubungan keluarga karena perkawinan antara mereka. Dengan demikian orang-orang Kimbin dan Pass-Valley dapat masuk ke dalam daerah Kurelu tanpa mengundang kecurigaan. Daerah Kurelu sendiri aman dan sikap masyarakat terhadap Misi penuh damai. Kepala Suku Kurelu bahkan telah membuktikan persahabatannya dengan turut aktif dalam patroli polisi. Dan sejak peristiwa pembunuhan itu juga Ampekoro dan Mabel telah menjadi bersahabat dengan Misi Katolik.<\/strong><\/em><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Wareke Alua<\/strong> mempunyai pendapat lain. Menurut pendapatnya <em><strong>&#8221; kepala suku Bpk Uwo Logo telah memberikan perintah untuk melakukan pembunuhan itu. Kemudian peranan itu dituduhkan kepada seorang kepala suku lain yaitu Bpk. Pakaram Elosak dari Wosiala. Memang Pakaram diminta bantuannya oleh Uwo karena mereka menyadari bahwa sesudah kejadian itu akan terjadi perang dengan pemerintah dan hal itu terbukti juga dua hari kemudian. Kejadian yang membawa beberapa korban mati itu sampai sekarang masih hidup dalam hati masyarakat, dan antara lain kepala suku Uwo masih kurang senang dengan pemerintah dan Misi.<\/strong><\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Tentang alasan atau motif untuk pembunuhan terhadap guru Agustinus itu Wareke berpendapat sbb.: <em><strong>&#8220;Di dekat tempat di mana gedung sekolah mulai dibangun, terdapat Wakun oakma, tempat sakral. Wakun oakma adalah sebuah rumah kecil di mana disimpan bagi setiap orang yang telah meninggal dunia, satu iyoak (buli-buli air) dan satu tongkat terbungkus dalam daun siluk (alang-alang). Biasanya barang itu diarak masuk ke dalam Wakunoak dengan suatu upacara\/pesta kecil; juga daging babi dan ubi di bawa kesana. Barang itu dianggap sebagai milik orang mati. Keselamatan manusia, hasil kebun, kesehatan babi-babi dsb. tergantung dari baik\/tidaknya pemeliharaan Wakunoak menurut kepercayaan orang Balim. Maka inilah motivasinya pembunuhan pak Guru Agustinus. Dalam laporan Misi hal ini sama sekali tidak dibicarakan dan kepala suku Pakaram dituduh sebagai pemberi perintah untuk membunuh guru itu sebagai ungkapan bahwa mereka tidak menerima pengaruh dari luar. Tetapi Pakaram sama sekali tidak mempunyai kuasa dalam daerah di mana Agustinus dibunuh. <\/strong><\/em>Mana yang paling benar dari dua pendapat tersebut di atas?&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p><strong>VI. PIHAK GEREJA MENGUPAYAKAN PERDAMAIAN<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Gereja Katolik tidak pernah memikirkan suatu bentuk balasan atau hukuman terhadap para pelaku pembunuhan, karena sangat menyadari bahwa hal itu terjadi karena kesalahpahaman di kedua belah pihak. Namun Gereja mengharapkan suatu penyelesaian secara damai. Pater Frans van Maanen selama hidupnya merasakan dirinya tertekan, karena peristiwa itu terjadi di daerah pelayanan dan tanggungjawabnya; sehingga ia merasa turut bertanggungjawab. Tidak dengan sengaja ia telah melanggar suatu peraturan adat yang ternyata sangat meresahkan masyarakat. Selama bertugas di Balim sampai tahun 1987 pater Frans mengadakan ibadat di kuburan guru Agustinus di Wamena pada setiap tanggal 7 Maret. Dan sebulan sebelum meninggal dunia di Negeri Belanda (tanggal 21 Januari 1990) pater Frans masih menulis : <em><strong>&#8221; Kamarku telah menjadi seperti lembah Balim bagiku. Di dinding di depan mataku saya memasang gambarnya Fransiskus Wenewolok, yang mempunyai arti sangat dalam. Yesus Wenewolok itu menunjuk kepada kebahagiaan yang lebih besar yaitu Allah Ninopase. Pewarta, buktikanlah imanmu lewat kenyataan hidupmu, sekarang ini juga !. Di bawah gambar Wenewolok itu saya memasang sebuah foto dari Agustinus Kabes. Karena dialah aku diperbolehkan berkarya di Balim lebih dari 25 tahun. Ia meninggal dunia di tempat tanggungjawabku. Ia sungguh berperanan besar dalam seluruh hidupku&#8221;.<\/strong><\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Kemudian pater Frans memesan kepada penulis buku kecil ini agar berusaha jangan sampai pengorbanan guru Agustinus dilupakan oleh umat di Lembah Balim. Tetapi bagaimana kedua belah pihak dapat didamaikan kalau tidak jelas pelaku maupun motifnya? Selama puluhan tahun diusahakan agar seluruh latarbelakang peristiwa di Kibaima itu dapat terungkap. Untuk itu pula dicari tahu di manakah dan oleh siapakah Ap Warek (= orang mati) guru Agustinus disimpan ? (Ap Warek adalah sesuatu dari tubuh atau milik orang yang dibunuh misalnya seberkas rambut atau pisau, yang disimpan oleh pihak pelaku pembunuhan sebagai simbol dari orang mati itu sekaligus tanda kebanggaan bagi si pembunuh. Melalui Ap Warek itu pihak pembunuh dapat mempengaruhi atau melemahkan pihak musuhnya serta memperoleh kekuatan bagi pihaknya sendiri.). Pernah ada orang yang menceriterakan, bahwa Ap Warek guru Agustinus terdiri a.l. dari seikat rambut kepala, arloji tangan dan alat pertukangan; entahlah itu benar atau tidak.<\/p>\n\n\n\n<p>Segala usaha untuk memperoleh informasi tentang Ap Warek itu tidak membawa hasil positif apa pun juga, karena dalam hal ini orang-orang Balim tidak mudah membuka rahasianya. Namun akhir-akhir ini ada sedikit informasi yang berguna. Seorang putera asli Balim yang telah menjadi biarawan Fransiskan, Sdr. Elias Logo OFM, setelah mengadakan pembicaraan dengan banyak pihak, berhasil memperoleh informasi itu. Ternyata Ap Warek guru Agustinus sekarang ini berada di Honai Adat Kanekela marga Wetipo di Kampung Sompaima dan dijaga oleh Bpk. Abek Dabi.<\/p>\n\n\n\n<p>Wakun oakma di Kibaima merupakan hak ulayat marga Logo. Maka pada waktu sedang dibangun gedung sekolah di atas tanah sakral itu, marga Wetipo dan Logo (Logo-Ragawa) meminta kepada kepala marga Logo untuk memberikan komando bagi pembunuhan guru Agustinus. Pelaksana pembunuhan adalah dari marga Wetipo, Logo dan Mabel.<\/p>\n\n\n\n<p>Nama mereka, yang sudah diketahui sejak peristiwa itu adalah sbb:<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Sabut Wetipo &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Kampung Heima<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Montoksalek Wetipo&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; &#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Lanma Logo&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; &#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Yokolan Logo&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; &#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Edek Logo&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; &#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Wulan Mabel&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Kampung Heima<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Iladudu Logo&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Kampung Selafaga<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Huben \u2013 Huben&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Kampung Heima<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Ilaidek Logo&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; &#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Weakmente Logo&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; &#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>(Menarik, bahwa Bpk. Huben-huben mempunyai seorang anak bernama Leo yang kini sudah menjadi anggota TNI dan bahwa Bpk. Ilaidek mempunyai seorang anak bernama Hubertus, yang sudah tamat IPI dan telah menjadi guru agama di daerah perbatasan dengan PNG yaitu di Waris)<\/p>\n\n\n\n<p>Dari informasi tersebut di atas kiranya dapat dipastikan tentang pemberi komando dan pelaksananya. Tentang motif pembunuhan itu dapat ditarik kesimpulan bahwa memang benar karena gedung sekolah di Kibaima dibangun di atas tanah sakral, Wakun Oak. Menurut kepercayaan orang-orang Balim, setiap gangguan atau pelecehan terhadap tanah seperti itu dapat menyebabkan terancamnya kehidupan dan keselamatan mereka sendiri maupun hewan dan tanaman mereka. Pada awal tahun enam puluhan, awal zaman penginjilan, kepercayaan asli seperti ini perlu dihormati dan reaksi masyarakat dipahami. Dan selain guru Agustinus ada juga tiga orang di pihak masyarakat yang telah menjadi korban dalam peristiwa tersebut.<\/p>\n\n\n\n<p>Namun demikian, mengapa sampai Bpk. Mokat \u2013 mokat Wetipo menyerahkan dan menjual tanah itu kepada Pater Frans van Maanen? Pertanyaan ini tidak pernah terjawab, tetapi di sdr. Elias Logo mencatat: tahun 2004 &#8220;Kita dari suku Wetipo dan Logo-Ragawa bersama Mokatmokat merasa bersalah karena kita menjual tanah kemudian membunuh guru Agustinus Kabes; maka perlu diadakan upacara perdamaian&#8230;&#8221;.<\/p>\n\n\n\n<p>Pada pertengahan tahun 2001 seorang wakil dari keluarga Kabes, (yang sebenarnya bernama Filipus tetapi setelah kematian guru diganti namanya menjadi Agustinus Kabes), telah datang ke Wamena dengan maksud untuk membawa pulang ke Werfra tulang-tulang guru Agustinus. Namun setelah dijelaskan, bahwa tulang-tulang itu merupakan milik umat katolik Lembah Balim, maka ia mengerti. Kemudian ia mengunjungi tempat kejadiannya, di mana ia disambut baik oleh masyarakat. Tempat kejadian ditanami bunga-bunga sebagai penghormatan kepada guru Agustinus. Setelah itu ia kembali ke Werfra dengan rasa puas.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>VII. GAGASAN PENYELESAIAN<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Akhir-akhir ini, setelah perundingan intensif dengan pihak-pihak terkait disetujui suatu gagasan lama sebagai langkah konkrit menuju penyelesaian masalah pembunuhan itu. Gagasan itu adalah sbb :<\/p>\n\n\n\n<p>Supaya diadakan suatu acara perdamaian dan rekonsiliasi. Sebelumnya kubur guru Agustinus Kabes harus digali dan tulang-tulangnya dibawa ke Kibaima, tempat kejadian sekaligus Wakun-oak. Dalam suatu ibadat di tempat itu, kedua belah pihak, Gereja dan marga Wetipo dan Logo-Ragawa saling memaafkan dan memohonkan pengampunan dari Tuhan. Setelah itu Ap Warek disatukan dengan tulang-tulang guru Agustinus Kabes dan kemudian dimakamkan kembali di tempat itu. Acara perdamaian ini ditutup dengan makan bersama. Gagasan ini mengandaikan kerelaan pihak yang terkait untuk menyerahkan Ap Warek untuk maksud seperti diuraikan di atas ini.<\/p>\n\n\n\n<p>Kuburnya guru dan martir Agustinus Kabes di Kibaima itu kemudian dapat menjadi suatu tempat ziarah bagi umat katolik di Lembah Balim dan mengingatkan mereka bahwa pada awal masa pekabaran Injil seorang murid Kristus telah menumpahkan darahnya demi kesuburan ladang Tuhan di daerah itu.<\/p>\n\n\n\n<p>Rencananya acara perdamaian atau rekonsiliasi dapat diadakan pada tanggal 7 Maret 2005, empat puluh tiga tahun sesudah peristiwa pembunuhan di Kibaima itu.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center\"><strong>FRANSISKUS DUTA DAMAI\u00a0<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center\"><strong>TERPUJILAH TUHAN\u00a0<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong><em>Penulis adalah Misionaris Yang Masuk di tanah Papua pada tahun 1963 dan Masuk pelayanan di Lembah Baliem pada Tahun 1964.<\/em><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Pastor Frans Lieshout, OFM Riwayat Guru dan&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":11128,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"om_disable_all_campaigns":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"kia_subtitle":"","_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[11,1,46,50],"tags":[],"newstopic":[],"class_list":["post-11118","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita","category-blog","category-papua-pengunungan","category-sosial-budaya"],"aioseo_notices":[],"views":14,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/detikpapua.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11118","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/detikpapua.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/detikpapua.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/detikpapua.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/detikpapua.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=11118"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/detikpapua.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11118\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":11129,"href":"https:\/\/detikpapua.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11118\/revisions\/11129"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/detikpapua.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/11128"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/detikpapua.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=11118"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/detikpapua.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=11118"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/detikpapua.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=11118"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/detikpapua.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/newstopic?post=11118"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}