{"id":10587,"date":"2026-04-01T11:54:37","date_gmt":"2026-04-01T11:54:37","guid":{"rendered":"https:\/\/detikpapua.net\/?p=10587"},"modified":"2026-04-01T11:54:41","modified_gmt":"2026-04-01T11:54:41","slug":"aliansi-suku-wio-protes-rencana-polda-di-wouma-ini-bukan-tanah-kosong","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/detikpapua.net\/index.php\/2026\/04\/01\/aliansi-suku-wio-protes-rencana-polda-di-wouma-ini-bukan-tanah-kosong\/","title":{"rendered":"Aliansi Suku WIO Protes Rencana Polda di Wouma: Ini Bukan Tanah Kosong !"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>WAMENA, DetikPapuaNet\u2014<\/strong> Aliansi <strong>Suku WIO<\/strong> untuk perlindungan tanah di wilayah <strong>Wouma<\/strong> secara tegas menyatakan penolakan terhadap rencana pembangunan <strong>kantor kepolisian daerah (Polda) <\/strong>serta kantor vertikal lainnya yang diwacanakan oleh Gubernur Provinsi Papua Pegunungan <strong>Jhon Tabo. <\/strong>Pernyataan sikap ini disampaikan pada Rabu (1\/4\/2026) di Wamena, Kabupaten Jayawijaya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pernyataan tersebut merupakan respons atas pemberitaan media berjudul <strong>\u201cPemprov Papua Pegunungan Dorong Pembangunan Polda di Jayawijaya\u201d yang dimuat oleh Media Elshinta pada 23 Maret 2026,<\/strong> yang mengangkat pernyataan Gubernur terkait rencana pembangunan di wilayah <strong>Wouma.<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dalam pernyataannya, Aliansi <strong>Suku WIO<\/strong> menegaskan bahwa Wouma bukanlah tanah kosong yang bisa dijadikan lokasi proyek pembangunan tanpa mempertimbangkan kehidupan masyarakat adat.<\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\">\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cWouma bukan tanah kosong. Ini adalah lahan produktif, perkebunan, dan perut manusia bagi Provinsi Papua Pegunungan,\u201d <strong>tegas perwakilan aliansi.<\/strong><\/p>\n<\/blockquote>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Masyarakat juga menyoroti posisi strategis Wouma sebagai sentra ekonomi yang menopang kehidupan masyarakat dari delapan kabupaten di wilayah Jayawijaya. Karena itu, rencana pembangunan dinilai berpotensi merusak sumber penghidupan yang telah berlangsung turun-temurun.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Lebih jauh, Aliansi menegaskan bahwa tanah memiliki makna yang jauh melampaui aspek ekonomi semata. Bagi masyarakat adat, tanah adalah bagian dari identitas dan kehidupan itu sendiri.<\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\">\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cTanah adalah mama kami. Kami bisa hidup tanpa uang, tetapi kami tidak bisa hidup tanpa tanah,\u201d <strong>lanjut pernyataan tersebut.<\/strong><\/p>\n<\/blockquote>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Aliansi Suku WIO juga menilai bahwa wacana pembangunan tersebut berpotensi mengabaikan hak-hak masyarakat adat jika dipaksakan tanpa dialog dan persetujuan yang adil. Mereka menegaskan bahwa sikap penolakan ini bukan berarti menolak pembangunan secara umum, melainkan menolak pembangunan yang mengancam ruang hidup masyarakat.<\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\">\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cKami bukan menolak pembangunan, tetapi menolak pembangunan yang merampas tanah kami. Kami lahir dan mati di sini. Jangan hancurkan masa depan generasi kami,\u201d <strong>ujar mereka.<\/strong><\/p>\n<\/blockquote>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>WAMENA, DetikPapuaNet\u2014 Aliansi Suku WIO untuk perlindungan tanah&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":10588,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"om_disable_all_campaigns":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"kia_subtitle":"","_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[11,21,46,50],"tags":[],"newstopic":[],"class_list":["post-10587","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita","category-lingkungan","category-papua-pengunungan","category-sosial-budaya"],"aioseo_notices":[],"views":72,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/detikpapua.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10587","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/detikpapua.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/detikpapua.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/detikpapua.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/detikpapua.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=10587"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/detikpapua.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10587\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":10589,"href":"https:\/\/detikpapua.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10587\/revisions\/10589"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/detikpapua.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/10588"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/detikpapua.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=10587"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/detikpapua.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=10587"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/detikpapua.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=10587"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/detikpapua.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/newstopic?post=10587"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}